
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Jangan di skip saat membaca karena tidak akan terhitung oleh sistem. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 26
Saat ini Mama Fatonah sedang menerima perawatan di puskesmas terdekat. Kulitnya melepuh karena tersiram air panas. Dokter pun memberikan salep untuk obat luka luar. Untungnya air panas itu tidak mengenai wajah.
Azizah menatap Mama Fatonah dengan rasa takut. Terlihat jelas dari tatapan matanya kalau mertuanya kini sedang marah dan benci padanya.
"Ma, maaf," lirih Azizah dengan suaranya yang bergetar.
Mama Fatonah tidak menyahut ucapan Azizah. Dia sedang tidak ingin bicara dengan menantu keduanya itu.
"Lain kali, kamu harus hati-hati," ucap Irwansyah pada Azizah sambil menepuk bahunya.
"Sudah aku katakan tadi, Bang. Kalau Tante Rose sudah menjegal kaki aku saat melangkah menuju meja makan," ujar Azizah.
"Kamu itu jangan suka melimpahkan kesalahan kamu pada orang lain." Suara Mama Fatonah yang menggelegar akhirnya keluar juga.
"Sudah, Ma. Azizah bukan orang yang suka berbuat jahat dan mencelakai orang lain," kata Irwansyah membela istri keduanya.
"Bela terus istri kamu itu. Kalau sudah sampai hal buruk terjadi pada anak dan istri kamu yang lain, baru tahu rasa." Mama Fatonah sangat emosi.
Hati Azizah sangat sakit saat mendengar tuduhan mertua padanya. Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam hatinya ingin mencelakai anak dan kakak madunya. Atau berbuat curang dengan ingin memonopoli suaminya dari istri tua.
"Astaghfirullahal'adzim. Mama, tidak boleh bicara begitu. Itu bisa jadi fitnah. Aku tidak mau Mama atau siapapun mengatakan suatu ke bohongan atau fitnah pada orang lain. Terutama pada keluarga aku. Aku sangat tersinggung dengan ucapan Mama barusan. Apa Mama lupa kalau ucapan orang tua adalah doa. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu pada anak-anakku dan istri-istriku," ujar Irwansyah menahan emosinya. Dia tidak mau kalau Mamanya berubah jadi pribadi yang selalu menilai buruk atau menilai negatif orang lain.
"Terserah kamu saja," balas Mama Fatonah sambil memalingkan mukanya.
__ADS_1
Mama Fatonah mendapat perawatan sampai menghabiskan satu botol cairan infus. Setelah itu baru pulang dan akan diperiksa kembali setelah 3 hari kemudian.
***
Azizah menangis di dalam kamarnya. Barusan dia ingin memberikan puding buah pada Mama Fatonah. Namun, mertuanya itu menolak makanan pemberian darinya. Bahkan dengan terang-terangan mertuanya bilang tidak mau lagi makan, makanan yang dibuat olehnya. Tentu saja hal ini membuatnya sakit hati.
Waktu pun terus bergulir dan Mama Fatonah sudah diperiksa kembali oleh dokter yang ada di puskesmas. Luka yang ada pada tubuh juga sudah mengering. Kali ini dia pergi dengan Rela.
"Irwan, mama ingin kamu sewakan rumah untuk Azizah. Biarkan dia tinggal terpisah, tidak baik kamu menyatukan dua istri di dalam satu rumah. Pastinya Rela dan Azizah merasa cemburu atau tidak merasa bebas satu sama lainnya," kata Mama Fatonah ketika mereka pulang dari Puskesmas.
"Ma, kalau Azizah pisah rumah dan waktu itu giliran Irwan bersamanya. Lalu, siapa yang akan menjaga kalian? Rela juga saat ini sedang hamil. Irwan tidak bisa mengawasi atau menjaga kalian semua secara bersamaan," balas Irwansyah tidak setuju dengan keinginan mamanya.
Meski saat malam giliran dengan Azizah, tetapi Irwansyah selalu sempatkan memeriksa keadaan Rela dan anak-anak. Apalagi Rela sering bangun tengah malam dan bisa tidur setelah dia menidurkannya lagi.
"Rela, apa kamu setuju dengan mama, kalau kalian tidak tinggal serumah?" tanya Mama Fatonah pada istri pertama anaknya.
Mendapat pertanyaan seperti ini membuat Rela bingung. Dia memang ingin terpisah rumah dengan Azizah. Namun, jika saat suaminya sedang bersama Azizah, pastinya dia tidak akan tidur semalaman. Sebab, sampai saat ini dia baru bisa tidur, jika dipeluk oleh suaminya. Dia juga berharap hal ini jangan terus berlangsung sampai melahirkan. Dia juga merasa tidak pada Azizah, meski giliran dia bersama Irwansyah. Namun, suaminya selalu menyempatkan diri ke kamarnya sampai dia bisa tidur.
"Kamu itu terlalu baik dan tidak pernah protes ini itu pada suami dan madunya," ujar Mama Fatonah.
Rela lebih mempertahankan rumah tangga yang dalam keadaan baik dan harmonis, dibandingkan menuruti egonya. Itulah salah satu cara menikmati hidup berumah tangga yang berpoligami. Baik dia maupun Azizah sama-sama punya hak atas diri Irwansyah. Tentu saja rasanya beda saat rumah tangga dulu dan sekarang. Sebagai istri tua, Rela pun tidak mau kalah dengan istri muda saat melayani, mengurus, dan memperhatikan semua kebutuhan suaminya.
***
Azizah baru saja selesai mengajar dan keluar kelas. Dia dikejutkan oleh Banu yang berdiri di depan pintu kelasnya.
"Iza, kamu sekarang mengajar di sini?" tanya Banu dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Iya, baru beberapa bulan," jawab Azizah.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kalau kamu adalah guru anak aku," ucap Banu dengan tatapan mata masih terarah pada Azizah. Terlihat jelas pancaran matanya yang terpesona pada wajah Azizah yang semakin cantik dan bening.
"Ah, iya. Anak kamu aktif kalau di sekolah," balas Azizah merasa tidak nyaman dengan kehadiran Banu saat ini.
Banyak orang tua murid yang memperhatikan mereka. Sosok Azizah sebagai guru baru di sana, otomatis membuat kepo mereka akan hubungannya dengan seorang laki-laki bertubuh tinggi gempal itu. Sebab, Banu juga baru beberapa kali datang ke sekolah anaknya. Jadi, tidak banyak yang tahu kalau dia adalah ayah dari salah satu murid Azizah.
"Permisi, ya. Saya harus ke ruang guru," kata Azizah dan buru-buru pergi meninggalkan Banu.
"Apa mereka punya hubungan spesial?" Salah seorang ibu berbaju warna putih bertanya pada orang tua murid lainnya.
"Entahlah, Bu Azizah itu istri kedua dari Pak Irwansyah," balasnya.
"Apa? Jadi, Bu Azizah itu seorang istri muda!" pekik si ibu tadi tidak menyangka.
"Iya, siapa sih, yang tidak mau punya suami kaya raya dan tampan. Lihat saja penampilan dia itu selalu pakai barang bagus dan perawatan wajahnya juga bikin muka glowing. Tidak kalah sama istri pertama," lanjut si ibu yang memakai baju berwarna hijau.
Azizah merasa panas kupingnya, jika orang-orang membicarakan dirinya. Apalagi dengan status istri kedua atau istri muda. Orang-orang sering memandang rendah dirinya karena dia merupakan istri kedua. Di cap sebagai pelakor, wanita matre, atau perempuan mandul sudah tidak aneh. Kalau bisa dia juga ingin menjadi satu-satunya istri dari laki-laki yang dicintai olehnya. Sejak dulu dia selalu meminta kepada Allah untuk diberikan jodoh yang terbaik dan bisa mengarungi hidup rumah tangga yang bahagia. Tidak ada madu dalam rumah tangga mereka. Namun, takdir yang diberikan untuknya adalah menjadi istri kedua dari seorang laki-laki yang bernama Irwansyah.
Apa orang-orang yang sudah menghina dan merendahkan dirinya itu tahu betapa sakit hatinya di bilang seperti yang mereka tuduhkan. Pastinya tidak ada seorang wanita manapun yang suka dikatai buruk sedangkan mereka tidak pernah mengalami apa yang sudah dia alami. Hanya segolongan kecil wanita yang terpaksa atau mau hidupnya dipoligami. Jika, hal yang sama menimpa diri mereka, apa yang akan mereka lakukan? Wanita mandul yang sering terkena fitnah merayu suami orang lain, dan tidak ada seorang laki-laki lajang baik yang mau menerima dirinya.
Azizah menarik napasnya yang terasa berat dan sesak. Selain itu matanya juga mulai terasa panas dan air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya. Dia rasanya ingin berteriak pada orang-orang yang sudah memandangnya rendah.
'Jika, menjadi seorang istri kedua diharamkan oleh agama, maka aku juga tidak akan mau menjalaninya. Lebih terhormat seorang istri muda dari pada sebagian wanita simpanan tanpa adanya ikatan suci pernikahan.'
***
Akankah akhirnya Rela dan Azizah hidup dalam beda atap sesuai keinginan Mama Fatonah? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya yuk baca juga karya aku yang lainnya.
__ADS_1