
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 35
Malam ini Irwansyah masih menjaga Rela dan Mama Fatonah. Begitu juga dengan Oliv dan Ukasyah, mereka ingin menjaga ibu dan neneknya. Dia terlalu fokus kepada keadaan istri pertama dan seakan lupa pada istri kedua.
Hal ini membuat Azizah sedih karena sejak kemarin kondisi tubuh dia juga kurang sehat. Dia mempunyai penyakit maag dan saat ini sedang kambuh. Dia hanya bisa mengurus dirinya sendiri. Minum obat sendiri, membuat air gula hangat sendiri. Jika dia bilang kepada suaminya, kalau dia juga sakit, takut malah menjadi masalah. Apalagi sekarang mertuanya juga sakit.
Azizah berjalan tersenyuk-seok kayak ruang makan karena air minum di kamarnya sudah habis. Dia berjalan sambil memegangi perutnya dan langkahnya pun sangat pelan. Saat dia hendak memasuki ruang makan terdengar sayup-sayup suara seseorang. Dia pun berjalan mengendap-ngendap ingin tahu ada siapa di sana. Ternyata yang ada di ruang makan adalah Irwansyah dan Rela.
"Benarkah itu, Bang? Kalau ada orang yang berniat mencelakai aku dan mama," tanya Rela tidak percaya.
"Iya, itu benar. Dalam makanan kalian telah dicampuri oleh obat pencahar. Oleh sebab itu, hanya kalian berdua yang mengalami diare, sementara yang lainnya tidak," jawab Irwansyah ini membuat Azizah yang ada di balik dinding dekat pintu sama terkejut.
"Kira-kira, siapa yang sudah melakukan hal ini kepada kami?" Suara Rela bergetar karena dia tidak menyangka kalau ada orang yang ingin mencelakainya berada di rumahnya sendiri.
"Tidak tahu. Karena hal ini akan sulit untuk menemukan pelakunya. Apalagi kalau kita menuduh dan salah orang. Hal itu malah akan membuat keluarga kita menjadi hancur, karena saling bermusuhan dan mencurigai," ucap Irwansyah.
"Apa kamu sudah selesai mau makan buburnya, Sayang?"
"Iya sudah. Terima kasih ya, Bang. Sudah mau membuatkan aku bubur di tengah malam begini. Aku minta maaf sudah mengganggu waktu istirahat Abang," kata Rela.
"Kamu jangan bicara seperti itu ini sudah tugas aku menjadi suamimu. Untuk menjaga, melindungi, membantu, dan mengayomi istriku," ucap Irwansyah.
"Abang adalah suami terhebat di dunia!" puji Rela kepada Irwansyah. Hal ini membuat laki-laki itu tersenyum malu-malu.
"Kamu jangan terlalu memujiku. Aku adalah manusia biasa yang tak akan bisa sempurna. Pastinya sering melakukan khilaf dan salah. Buktinya saat kamu sakit kemarin, aku pun tidak tahu. Padahal kita satu rumah," ujar Irwansyah.
"Itu karena aku tidak bilang kepada Abang. Sebab aku tidak mau mengganggu waktu Abang yang sedang bersama Azizah," balas Rela.
"Tapi seharusnya kamu bilang kalau sedang sakit, walau aku sedang bersama Azizah," tukas Irwansyah.
"Aku merasa tidak enak kepada Azizah, jika melakukan hal itu," sahut Rela.
"Tapi ketika melihat kamu yang sakit, itu membuat aku merasa sudah menjadi laki-laki yang tidak berguna," balas Irwansyah.
Sementara itu, Azizah yang sedang berdiri dan bersandar di dinding, menahan isak menangisnya. Dia bertanya-tanya dalam hatinya. Jika dia bilang sedang sakit saat ini, apakah suaminya juga akan memberikan perhatian seperti yang dia berikan kepada istri pertamanya?
__ADS_1
Azizah pun kembali ke kamar tidurnya. Dia mencoba mengirim pesan kepada Irwansyah. Memberitahu kalau saat ini penyakit maag dia sedang kambuh.
"Aku ingin tahu, apakah abang akan benar-benar memperhatikan aku juga?" Azizah menatap ponselnya. Pesan sudah berhasil dikirim tetapi belum dibaca oleh Irwansyah.
Sudah 1 jam terlalu sejak Azizah mengirimkan pesan kepada Irwansyah. Akan tetapi suaminya itu belum datang juga untuk melihat keadaannya. Maka dia pun pergi ke dapur untuk mengambil air panas dan dicampur dengan gula merah aren asli. Ini adalah obat paling efektif untuk meredakan sakit maag.
Meski dengan tertatih-tatih dan meringis menahan rasa sakit yang teramat sangat di bagian perut dan punggung, Azizah tetap melakukan semuanya sendirian. Dia selalu diajarkan untuk mandiri ketika sudah menikah.
Pagi harinya kondisi Azizah belum juga pulih. Saat ini dia berbaring lemah di atas tempat tidurnya. Tubuhnya berkeringat dingin dan wajahnya semakin pucat.
***
Irwansyah masuk ke dapur dan tidak ada siapa-siapa. Biasanya jam segini Azizah sedang sibuk membuat sarapan.
""Azizah ke mana? Tumben belum ke dapur," gumam Irwansyah. Lalu dia pun berjalan ke ruang paviliun, di mana kamar Azizah berada.
"Iza, kamu masih di dalam?" Irwansyah mengetuk pintu. Lalu, dia pun membukanya dan masuk untuk melihat keadaan istri kedua.
"Iza, kamu kenapa?" tanya Irwansyah sambil berjalan cepat dapat tidur istrinya.
Dia melihat Azizah sedang menggigil kedinginan dengan wajah yang pucat.
"Kamu sakit apa? Mana yang sakit?" Irwansyah bertanya kepada Azizah dengan panik.
"Cuma sakit biasa. Abang jangan terlalu khawatir nanti juga akan sembuh," balas Azizah dengan suara yang pelan karena dia merasa lemas.
"Biar aku beri obat. Apa yang kamu rasakan saat ini?"
Irwansyah menyibakkan selimut dan membawa baju ganti untuk Azizah. Dia pun mengganti baju yang basah oleh keringat itu dengan yang baru.
Azizah merasa sangat terharu akan perhatian yang diberikan oleh Irwansyah kepadanya. Walau baru sekarang suaminya baru mendatangi dirinya, tapi ini sudah membuat dia bahagia.
"Apa penyakit maag kamu kambuh kembali?" tanya Irwansyah setelah selesai mengganti baju Azizah. Dia melihat ada gelas di atas nakas yang terlihat menyisakan sedikit air berwarna coklat.
Azizah pun mengganggukkan kepalanya. Dia masih merasa sangat lemah meski hanya untuk berbicara.
"Kenapa kamu tidak bilang kepada abang kalau sedang sakit?" Irwansyah membeli kepala Azizah dengan lembut.
"Karena aku tahu Abang sedang menjaga mbak Rela dan mama yang sedang sakit," balas Azizah.
__ADS_1
"Meski begitu kalau ada apa setidaknya bilang kepadaku. Agar aku juga bisa memantau keadaan dirimu," ucap Irwansyah dengan tatapan nanar. Dia merasa sangat sedih karena di waktu yang bersama banyak sekali orang yang dicintai dan disayanginya, sakit.
"Aku sudah mengirim pesan ada Abang, tapi sepertinya tidak dibaca," lirih Azizah.
"Apa? Maaf sudah beberapa hari ini abang jarang memegang ponsel. Kecuali kalau ada hal yang sangat mendesak sekali," balas Irwansyah dengan merasa bersalah.
***
Irwansyah pun ini harus mengurus 3 orang pasien dari keluarganya. Dia mau masakan bubur dan sayur katuk untuk orang yang sedang sakit. Sementara itu, untuk kedua anaknya dia membuat susu dan roti saja karena tidak ada waktu lagi.
"Irwan, mana sarapan untuk tante?" tanya Tante Rose saat melihat tidak ada apa-apa di atas meja makan. yang ada hanya roti, selai, dan susu saja.
"Sarapannya pakai roti saja Tante, karena Azizah juga sedang sakit," jawab Irwansyah yang sedang menyiapkan sarapan untuk Azizah, setelah tadi dia mengantarkan sarapan untuk Rela dan Mamanya.
Irwansyah tidak mau pedulikan raut wajah Tante Rose yang terlihat kesal saat ini. Lalu, dia pun pergi menuju ke paviliun dengan membawa sarapan untuk istrinya.
"Iza, makan sarapan dulu. Baru minum obat," ucap Irwansyah ketika sudah masuk ke kamar istri kedua.
"Terima kasih, Bang," balas Azizah sambil bangun dan duduk bersandar di punggung ranjang.
"Apa kamu masih punya obat Maag?" tanya Irwansyah.
"Tidak tahu, Bang. Apa di dalam laci itu masih ada atau sudah habis? Karena sudah lama aku tidak konsumsi obatnya," jawab Azizah di sela-sela makan.
Irwansyah aku mencari obat di dalam laci meja rias. Dia pun lihat ada botol kecil kemudian membacanya keterangan yang ada di sana.
'Obat pencahar!'
"Azizah, ini obat milik siapa?" tanya Irwansyah menahan emosi, dia tidak mau menuduh istri keduanya.
"Hm, punya aku," jawab Azizah tanpa tahu obat yang dimaksud oleh Irwansyah.
"Apa kamu yang sudah berniat mencelakai Rela dan mama?" Ekspresi wajah Irwansyah kini merubah.
"Maksud Abang, apa?"
***
Apa yang akan terjadi dengan Irwansyah dan Azizah selanjutnya? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1