Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 18. Asisten Rela


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 18


Kondisi Rela saat ini sedang dalam keadaan kritis. Dia kekurangan banyak cairan dalam tubuhnya dan juga mengalami hipotermia. Dia pun mendapat perawatan secara intensif.


Mama Fatonah sendiri masih dalam keadaan shock. Dia sekarang hanya bisa duduk diam dan lupa tidak menghubungi Irwansyah. Bahkan Mama Fatonah belum membayar biaya administrasi. Untung banyak orang kenalan dirinya yang bekerja di Rumah Sakit Sukaasih ini. Jadi, tidak begitu dipersulit dalam segala urusan. Mama Fatonah tidak membawa dompet ataupun handphone karena saat tadi dia dalam keadaan panik.


***


Sementara itu, Irwansyah dan keluarga istri keduanya sedang bersenang-senang makan siang bersama. Mereka makan ikan bakar hasil tangkapan Pak Maulana dan Oliv. Canda tertawa dan riang gembira menghiasi rumah Pak Maulana siang ini.


"Ayah kita akan pulang kapan?" tanya Oliv menghitung mereka selesai makan siang.


"Sebentar lagi, Sayang," jawab Irwansyah kepada putrinya.


Mungkin karena kelelahan, Oliv pun langsung jatuh tidur tidak lama kemudian. Melihat putrinya yang kini sedang tertidur lelap. Maka, Irwansyah pun mengundurkan waktu kepulangan mereka ke rumah.


Tentu saja hal ini membuat Azizah sangat bahagia karena waktu bersama dengan suami masih ada. Mereka menghabiskan waktu itu dengan bercinta, bersenda gurau, dan membicarakan masa depan.


Irwansyah pulang ke rumahnya saat sore hari menjelang Magrib. Tanpa dia tahu kalau Rela sedang berada di rumah sakit.


***


Diam-diam Rela menangis karena suami tidak berada di sisinya saat ini. Padahal dia tadi pingsan lebih dari 3 jam. Meski jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore, Irwansyah belum juga menampakkan batang hidungnya di rumah sakit. Dia merasa sangat sedih dan merasa diabaikan oleh suaminya.


"Ya Allah, kuatkan aku! Kuatkan hatiku!" lirih Rela dengan menahan isak tangis. Dia takut ibu mertuanya mengetahui kalau saat ini dia sedang menangis.


"Rela, apa kamu mau makan atau minum sesuatu?" tanya Mama Fatonah sambil datang menghampiri menantunya.

__ADS_1


Maka dengan cepat Rela pun menghapus air mata yang jatuh di pipi dan tersenyum lemah pada ibu mertuanya. Dia tidak ingin wanita tua itu ikut bersedih dan marah pada Irwansyah nantinya.


"Tidak, Ma," balas Rela dengan lemah dan hampir tidak terdengar.


Kebetulan sore itu seorang perawat datang untuk memeriksa keadaan Rela. Maka Rela pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk meminta tolong padanya. Rela mau minta perawat itu untuk menelepon butiknya agar orang kepercayaannya bisa secepatnya datang ke rumah sakit.


"Maaf, ya, suster. Sudah merepotkan," kata Rela dengan senyum yang dipaksakan karena dia masih sangat lemas.


"Tidak apa-apa, kok, Bu. Aku juga langganan butik Ibu, loh." Perawat itu tersenyum ramah.


***


Orang kepercayaan Rela pun datang dengan tergopoh-gopoh dan wajahnya pucat. Dia langsung datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar kalau bosnya itu sakit.


"Bu, kenapa bisa seperti ini?" tanya gadis bertubuh mungil itu.


"Namanya juga sedang hamil, San. Wajarlah kalau muntah-muntah," jawab Rela kini lebih bersemangat lagi setelah bertemu asisten sekaligus orang kepercayaannya.


"Hmmm, aku ingin makan bubur kacang ijo Mak Haji," jawab Rela sambil tersenyum.


"Siap, Bos. Akan saya belikan!" seru Santi dan membuat Rela tertawa.


Santi sudah dianggap adik oleh Rela. Selain itu dia juga tempat curhatnya selama ini. Bersama dengannya juga Rela memulai saat usahanya membuka butik. Orangnya sangat cerewet, tetapi cepat tanggap dan menyenangkan. Asik diajak bicara apapun karena dia orangnya fleksibel dan selalu bisa menyeimbangi obrolan siapapun.


"San, kalau bisa nanti malam temani aku di sini. Bisa nggak?" tanya Rela dengan penuh harap.


"Bisa." Santi tersenyum dan mengangguk. Dia tidak banyak tanya kenapa bukan Irwansyah yang menemani dirinya.


"Terima kasih, ya," lanjut Rela dengan senyum lebar.


"Tapi, aku harus bawa selimut sama bantal. Biar bisa tidur pulas nanti," bisik Santi dan membuat Rela tertawa lemah.

__ADS_1


***


"Sayang!" Irwansyah masuk ke kamar Rela dan memanggilnya.


Kamar itu sepi tidak ada siapa-siapa di sana. Baik di kamar mandi atau balkon, sosok istri pertamanya itu tidak terlihat. Maka, dia pun turun ke lantai bawah dan menelusuri tiap ruangan. Dia mulai panik saat tidak menemukan sosok Rela.


"Rela! Rela!" panggil Irwansyah.


"Ada apa, Bang?" tanya Azizah yang datang menghampiri suaminya.


"Rela tidak ada di kamarnya," jawab Irwansyah panik.


"Kita tanya saja sama mama, siapa tahu mbak Rela bilang sesuatu padanya," ujar Azizah.


"Assalamualaikum," salam Ukasyah saat masuk ke rumah. Dia baru pulang dari sekolah agama yang jadwal masuknya.


"Wa'alaikumsalam, Kak," balas Irwansyah dan Azizah bersamaan.


"Ayah dan Ibu akhirnya pulang. Kenapa nomor ponsel Ayah tidak aktif?" tanya Ukasyah dengan memasang wajah kesal.


"Oh, maaf sepertinya tadi ayah lupa mengaktifkan kembali ponselnya," jawab Irwansyah dan bertanya, "ada apa?"


"Bunda masuk ke rumah sakit, Yah. Tadi siang ada ambulans dan membawa bunda bersama nenek," balas Ukasyah.


"Apa? Lalu, bagaimana dengan kondisi bunda saat ini?" tanya Irwansyah panik.


***


Suntuk gara-gara naskah hilang sebagian. Jadinya, kacau mood aku. Lanjut lagi nanti.


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh. Cus kepoin novelnya.

__ADS_1



__ADS_2