Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 22. Kebersamaan Keluarga


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 22


Malam harinya Irwansyah tidur bersama Rela, Oliv, dan Ukasyah di kamar itu. Kedua anaknya tidak ingin jauh-jauh dari ibu mereka. Setelah kejadian kemarin, keduanya berjanji akan menjaga dan mengawasi bunda dan adik mereka.


"Bunda, sini kakak pijat kakinya," kata Ukasyah sambil memulai memijat kaki Rela.


"Adik juga mau memijat tangan Bunda," ucap Oliv tidak mau kalah.


Rela hanya pasrah saat tangan-tangan kecil itu memberikan pijatan yang sebenarnya hampir tidak terasa karena kurang bertenaga.


"Ayah jadi iri deh, sama Bunda. Tidak ada yang memijat tubuh ayah," ujar Irwansyah pura-pura sedih.


"Ayah, mau di pijat juga?" tanya Oliv dengan tatapan matanya yang bening.


"Ya, mau," jawab Irwansyah dengan senyum bahagianya.


"Kalau gitu Ayah harus kasih adik seorang bayi juga seperti Bunda," pungkas Oliv polos dan membuat Rela serta Irwansyah tertawa.


"Mana bisa ayah hamil. Hanya Bunda yang bisa hamil. Tapi, 'kan yang membuat bayi itu berdua, ayah sama Bunda," balas Irwansyah dan mendapat cubitan dari Rela dengan pipinya yang merona.


"Abang, ih." Rela sangat malu dan kesal mendengar suaminya bicara seperti itu.


Irwansyah tertawa terkekeh dan memeluk Rela dari samping.


"Ayah jangan peluk-peluk Bunda! Nanti  Bundanya sakit," pekik Oliv sambil mencoba menjauhkan tangan ayahnya.


Mendapat teguran dari putrinya malah membuat Irwansyah semakin memeluk Rela dan Oliv malah marah-marah. Hal ini membuat kedua orang tua itu tertawa bahagia dan terus menjahili Oliv. 


Berbeda dengan Ukasyah yang lebih tenang. Dia tetap melanjutkan memijat kaki Rela sambil bersholawat seperti yang diajarkan oleh Ibu sambungnya.


Rela suka dengan sifat putranya yang semakin dewasa dalam ucapan, perbuatan, dan jalan pikirannya. Ukasyah juga semakin menunjukan banyak prestasinya dalam akademik maupun non akademik.


"Abang, katanya mau ada lomba adzan tingkat kabupaten, ya?" tanya Rela karena dulu putranya pernah menyinggung hal ini, tetapi dia merasa kalau putranya belum juga latihan.

__ADS_1


"Iya, insha Allah minggu depan, Bun. Doakan kakak biar bisa jadi juara lagi," jawab Ukasyah dengan senyum yang menampilkan gigi rapi miliknya.


"Tapi, kok, belum latihan juga?" tanya Rela.


"Setiap hari kakak latihan bersama ibu Azizah. Setelah sholat Subuh dan Magrib," jawab Ukasyah.


Kebersamaan keluarga itu diisi dengan canda tawa sampai jam sembilan malam karena kedua anak itu malah saling saling mengejek satu sama lain. Malah membuat Rela dan Irwansyah lelah menyuruh mereka untuk tidur.


Melihat kebersamaan keluarga itu membuat Azizah ikut senang. Dia tidak ingin mengganggu mereka. Tadi niatnya dia mau memeriksa kondisi Rela, tetapi kelihatannya sudah baik karena terdengar tawanya yang lepas.


"Tuh, lihat! Mereka itu dulu jauh lebih bahagia dari ini. Tapi, sejak ada kamu, mereka tidak bisa seperti dulu lagi," desis Mama Fatonah begitu dia dan Azizah berhadapan.


Hati Azizah lagi-lagi terluka akan ucapan mertuanya. Dia juga ingin semuanya bahagia. Baik itu dirinya, suami, kakak madu, dan anak-anaknya. Dia ingin berbagi merasakan kebahagiaan bersama, tanpa ada pihak yang tersakiti.


Dengan langkah gontai, Azizah kembali ke paviliun yang ada di sisi kanan bangunan rumah. Tempatnya agak jauh dari depan rumah, sehingga dia selalu merasakan kesepian jika sedang seorang diri.


Azizah menangis seorang diri, tidak ada yang menghibur dirinya atau menghapus air matanya. Dia juga ingin seperti orang lain, saat bersedih suaminya menghibur dan menyeka air matanya.


"Ya Allah, berikanlah kelapangan dalam hati pada keluarga kami," gumam Azizah berdoa kebaikan untuk keluarganya.


***


Irwansyah melihat Azizah tidur tanpa memakai selimut. Lalu, dia menyelimutinya karena tidak mau istri mudanya juga jatuh sakit disebabkan masuk angin. Apalagi, suhu udara malam ini agak dingin. Rupanya, tidur Azizah terusik saat Irwansyah membetulkan kain selimut.


"Bang," panggil Azizah dengan suaranya yang serak.


"Hn, maaf sudah membangunkan kamu. Tidur lagi!" titah Irwansyah sambil mengusap kepala Azizah.


Azizah menatap Irwansyah begitu juga sebaliknya. Tangan Azizah terulur dan mengusap rahang suaminya yang kokoh.


"Bagaimana keadaan mbak Rela saat ini?" tanya Azizah.


"Dia sudah lebih baik. Kamu jangan terlalu memikirkan orang lain. Kamu juga harus memperhatikan dirimu. Tubuh kamu agak demam," ucap Irwansyah sambil menyentuh kening dan leher Azizah.


"Aku baik-baik saja, Bang. Ditidurkan juga besok pagi sudah baik kembali," ujar Azizah sambil menggenggam tangan suaminya yang digunakan untuk menyentuh keningnya barusan. 


"Minum air putih yang banyak, ya. Agar tidak dehidrasi," kata Irwansyah, lalu dia beranjak dan ke dapur untuk ambil air minum.

__ADS_1


Irwansyah membawa teko dan gelas ke kamar Azizah dan membantu istri mudanya itu minum.


"Jika, ada apa-apa kamu harus menghubungi aku secepatnya," ucap Irwansyah sambil menyelimuti tubuh Azizah.


"He-em." Azizah mengangguk.


Irwansyah pun mencium kening istrinya. Azizah memejamkan mata dan menikmati sentuhan lembut yang terasa dingin dan menyenangkan dirinya.


"Aku akan kembali ke kamar Rela. Ingat, kalau ada apa-apa langsung telepon," ujar laki-laki yang memakai piyama warna biru dongker.


"He-em." Azizah lagi-lagi mengangguk.


Meski hanya sebentar, Azizah merasa sangat bahagia akan perhatian yang ditunjukan oleh suaminya barusan. Dia menilai kalau Irwansyah itu selalu bersikap adil pada kedua istrinya. Perhatian, cinta, dan kasih sayangnya dia berikan kepada keduanya.


***


Pagi harinya Azizah merasakan tubuhnya jauh lebih baik dari semalam. Setelah selesai sholat Subuh dan dilanjutkan dengan tes hafalan Ukasyah. Azizah pun langsung membuat sarapan.


Rela kini sudah bisa beraktivitas meski tidak boleh melakukan pekerjaan rumah. Dia membantu Azizah menyiapkan sarapan. Keduanya juga terlibat pembicaraan mengenai kesehatan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan keluarga mereka.


"Aku dengar semalam kamu demam?" tanya Rela sambil mengaduk agar-agar untuk membuat puding kesukaan kedua anaknya.


"Alhamdulillah, sudah baikan sekarang, Mbak," jawab Azizah.


"Kamu juga harus jaga kesehatan jangan sampai jatuh sakit," ujar Rela.


"Iya, Mbak." Azizah pun tersenyum.


Tante Rose masuk ke dapur dan mengambil air minum. Baik Rela maupun Azizah tidak menyapa dirinya. Dia pun menatap sinis pada kedua wanita yang sedang berbincang-bincang sambil memasak. Dia masih sakit hati akan perlakukan keluarga ini kepadanya.


'Dasar para wanita bod*h dan tol*l. Aku yakin kalau mereka itu sedang menghujat satu sama lain dalam hatinya. Dasar orang-orang munafik,' batin Tante Rose.


***


Kenapa Tante Rose masih betah atau tinggal di rumah Irwansyah? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku ini. Ceritanya tidak kalah seru, loh.

__ADS_1



__ADS_2