Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 41. Azizah Pergi


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 41


Irwansyah berdiri di depan pintu kamar, dia terlihat sangat marah sekali. Dengan langkah lebar dia pun menarik koper baju yang sudah disiapkan oleh mamanya.


"Tidak ada yang boleh meninggalkan rumah ini!" kata Irwansyah dengan tegas.


"Terserah kamu! Mama mau pergi dari rumah ini karena tidak ingin tinggal bersama orang yang sudah mencelakai mama," balas Mama Fathonah.


"Kenapa Mama keras kepala sekali. Sudah aku bilang kalau itu bukan perbuatan Azizah," ujar Irwansyah sambil menatap ke arah mamanya.


Mama Fathonah yang menentang balik menatap putra semata wayangnya itu hanya bisa membalas dengan berkata, "Jangan pedulikan aku lagi. Anggap saja kalau ibumu sudah mati karena diare."


"Mama!" bentak Irwansyah dengan ekspresi marah.


Mama Fatonah hanya tersenyum sinis, lalu dia pergi meninggalkan Irwansyah dan Rela begitu saja. Saat Irwansyah akan mengejar mamanya, Rela menahan tangan suaminya itu.


"Abang jangan membuat mama semakin marah lagi," ucap Rela.


"Aku tidak suka dengan perbuatan Mama yang barusan. Kenapa dia selalu bersikap seperti itu terhadap Azizah?" tanya Irwansyah dengan lirik.


"Mama juga sayang terhadap Azizah. Hanya saja mungkin kejadian hari ini membuatnya shock," jawab Rela sambil mengusap dada sebelah kiri Irwansyah, mencoba menenangkan suaminya.


Di balik pintu kamar yang terbuka itu ada Azizah yang berdiri mematung. Dia mendengar semua yang diucapkan oleh suami dan mertuanya. Sungguh dia tidak menyangka kalau kejadian yang akan separah ini.


***


Azizah membereskan beberapa pakaiannya ke dalam koper dengan berderai air mata. Dia sudah memutuskan kalau dirinya 'lah yang akan keluar dari rumah ini.


Setelah dia selesai membereskan semua barang yang akan dibawa. Azizah pun mendatangi ibu mertuanya untuk berpamitan.

__ADS_1


"Aku akan pergi dari rumah ini. Untuk sementara waktu akan tinggal bersama kedua orang tuaku," kata Azizah dengan balon saat dia berdiri di samping Mama Fathonah.


"Sebaiknya kamu tetap tinggal di sini, biar Mama yang pergi," balas Mama Fathonah tanpa menatap ke arah Azizah.


"Tidak. Biar aku saja yang pergi, lagian nanti aku akan menempati rumah yang sedang disiapkan oleh Bang Irwan," ujar Azizah sambil menundukkan kepalanya.


Hati Azizah terasa sangat sakit sekali, dia merasa dadanya direm_at dengan sangat kuat. Dadanya terasa sesak dan air mata pun meluncur membasahi pipinya yang mulus.


***


Setelah berpamitan kepada Ibu mertuanya, kini Azizah berpamitan kepada kakak madunya. Saat dia berdiri di depan pintu kamar Rela terdengar suara suami dan istri pertamanya itu sedang berbicara.


"Abang harusnya bisa berbuat tegas saat ini. Jangan membuat Mama semakin terluka hatinya. Ingat Bang, melukai hati seorang ibu kita sangat besar biasanya. Bukannya surga anak laki-laki itu berada pada ibunya. Lalu kenapa Abang malah membuat mama merasa sedih dan sakit hati?" 


"Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kalian. Aku tidak ingin dari kalian ada yang pergi meninggalkan rumah ini."


"Bukannya nanti Azizah sebentar lagi akan menempati rumah baru kalian? Apa Abang juga akan selalu bersama dengannya?"


Azizah yang berada di balik pintu menurunkan tangannya yang hendak mengetuk. Namun, beberapa saat kemudian dia memberanikan diri mengetuk pintu itu.


Mendengar pintu kamar di ketuk, Rela pun membuka pintu itu. Terlihat ada adik madunya sedang berdiri menatap ke arahnya. Rela pun tersenyum tipis kepadanya.


"Ada apa?" tanya Rela.


"Aku akan pergi ke rumah orang tuaku dan akan tinggal di sana untuk berapa waktu sampai rumah itu selesai," jawab Azizah dengan pelan dan menetap ke arah kakak madunya.


Irwansyah berdiri di belakang Rela pun langsung bereaksi. Dia berkata, "Aku harap kalau kamu akan tetap tinggal di sini sampai rumah itu selesai."


"Tidak Bang, bagaimanapun juga aku akan keluar dari rumah ini. Dengan begini semuanya akan kembali tenang."


Irwansyah sebenarnya tidak setuju dengan keinginan Azizah ini. Namun, di sisi lain juga mamanya mengancam akan pergi dari rumah dengan membawa Rela dan kedua anak mereka.


"Kalau begitu biar abang yang mengantar kamu ke rumah bapak dan ibu. Abang juga akan mengatakan kepada kedua orang tuamu, kalau kamu akan tinggal bersama mereka sampai rumah itu selesai."

__ADS_1


Akhirnya Irwansyah membuat keputusan ini meski dengan berat hati. Bagaimanapun juga harus ada yang dia korbankan salah satunya demi menjaga keutuhan rumah tangga dan hubungan mereka semua.


"Baik, Bang. Mungkin dengan begitu kedua orang tuaku akan mengerti," balas Azizah dengan tersenyum tipis.


Rela yang berdiri di sana merasa tidak enak hati terhadap Azizah. Dia merasa kalau Azizah sudah terusir gara-gara dirinya.


Irwansyah pun menatap ke arah Rela. Istrinya itu hanya menganggukkan kepala kalau dia setuju dengan Azizah.


"Kalau begitu Abang pamit dulu mau mengantarkan Azizah ke rumah orang tuanya."


"Hati-hati di jalan, Bang. Apa lagi saat ini sebentar lagi akan maghrib.


Irwansyah pun pergi bersama Azizah menuju ke rumah mertuanya. Saat mereka meninggalkan rumah, ada beberapa tetangga yang melihat Irwansyah memasukkan koper baju milik Azizah ke dalam mobil. Lalu, mereka pun berbisik-bisik menduga apa yang terjadi dengan kehidupan rumah tangga Irwansyah.


***


Dalam perjalanan menuju rumah Pak Maulana, Irwansyah meminta maaf kepada Azizah. Sebab, dirinya yang harus dia korbankan.


"Kita semua menginginkan hidup yang damai, tentram, dan bahagia. Mungkin dengan ini kita semua bisa merasakan hal itu. Aku tidak pernah benci kepada Mama Fathonah ataupun Mbak Rela. Justru aku merasa senang bisa tinggal bersama dengan mereka," lirik Azizah menahan isak tangis.


"Terima kasih kamu mau mengorbankan dirimu. Kamu adalah wanita yang berhati lembut dan pengertian. Semoga tidak ada lagi air mata kesedihan yang keluar dari mata cantikmu," kata Irwansyah sambil menghapus air mata di pipi istrinya.


Irwansyah dan Azizah telah sampai ke rumah Pak Maulana. Kedatangan mereka awalnya disambut dengan bahagia. Namun, setelah Irwansyah menceritakan kejadian yang terjadi di rumahnya tadi, membuat Pak Maulana dan Ibu Rosyidah merasa sedih.


"Tapi kamu percayakan kalau Azizah tidak akan pernah melakukan hal seperti itu terhadap istri dan mamamu?" tanya Pak Maulana kepada Irwansyah.


"Tentu saja aku sangat percaya terhadap Azizah. Dia adalah orang yang tahu akan mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk," jawab Irwansyah sambil memegang tangan Azizah.


"Syukurlah kalau begitu. Seandainya kamu tidak mempercayai Azizah, maka kami akan sangat sakit hati dan akan mengambil kembali putri kami ini," ucap Pak Maulana.


***


Apakah dengan perginya Azizah dari rumah Irwansyah tidak akan ada masalah lagi di kehidupan rumah tangga mereka? tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2