
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
***
Bab 42
Setelah berjamaah sholat Maghrib, Pak Maulana minta Irwansyah untuk makan malam bersama mereka. Mereka makan malam dan dilanjutkan dengan berbincang-bincang sambil menunggu waktu Isya. Banyak hal yang dibicarakan oleh menantu dan mertua. Terutama mengenai kehidupan rumah tangga berpoligami.
"Adil itu bukan berarti sama rata, tetapi harus sesuai dengan tempatnya. Saat ini Rela sedang hamil besar dan tentunya membutuhkan banyak perhatian dari orang-orang sekitarnya, terutama dari dirimu. Jadi, sudah sepantasnya kalau Azizah yang keluar dari rumah itu," ucap Pak Maulana.
"Tapi, aku juga tidak ingin kalau Azizah merasa dirinya sudah ditelantarkan. Meski aku tahu kalau dia itu wanita yang tidak akan berpikiran buruk terhadap orang lain," ujar Irwansyah.
Mereka berbicara sampai terdengar suara adzan berkumandang. Obrolan terhenti dan keduanya pergi ke masjid yang tidak jauh dari rumah.
Saat pulang dari masjid, hujan turun dengan sangat lebat. Hal ini membuat Azizah meminta Irwansyah untuk tidur di sana saja karena takut terjebak oleh banjir.
"Itu benar Irwan. Sebaiknya kamu menginap saja malam ini. Kita tidak mau terjadi sesuatu terhadapmu saat dalam perjalanan pulang," ujar Ibu Rosyidah.
"Kalau begitu aku akan hubungi Rela, jika malam ini akan menginap di sini," kata Irwansyah.
Laki-laki itu pun langsung menghubungi istri pertama dan mengatakan akan tidur menginap di rumah mertuanya. Dia tidak mau kalau Rela merasa khawatir karena dirinya belum pulang juga.
"Bagaimana, Bang? Apa Mbak Rela mengizinkan Abang untuk tidur di sini?" tanya Azizah sambil menatap ke arah suaminya.
Irwansyah tersenyum kemudian mengangguk. Tentu saja hal ini membuat Azizah bahagia. Dia bisa menghabiskan malam yang dingin ini dalam pelukan hangat suaminya.
Malam ini pun kedua sejoli itu menghabiskan malam yang panas. Mereka mengarungi surga dunia dengan diiringi bunyi hujan sebagai pelengkap melodi dari nyanyian merdu Azizah dan Irwansyah.
***
Sementara itu, di waktu yang bersama Rela merasakan perutnya sakit. Namun, dia tidak bisa mau beritahu siapa-siapa untuk dimintai tolong.
Rela merutuki dirinya sendiri yang tidur di kamar lantai atas. Handphone suaminya tidak aktif dan dia tidak bisa memanggil Ibu mertuanya untuk naik ke lantai atas. Jika saja dia bisa bangun dari atas tidur, tentu dia akan meminta tolong kepada putranya untuk meminta bantuan.
Lalu, terlintas asisten cerewet itu dalam pikirannya. Tanpa membuang waktu dia menghubungi Santi. Tidak tahu kalau di luar sedang hujan deras, bahkan sudah malam hari. Asistennya itu pasti akan datang menolong dirinya.
"San, tolongin Ibu! Perut aku terasa sangat sakit sekali."
^^^"Ibu mau melahirkan?"^^^
__ADS_1
"Tidak tahu. Tapi, rasanya sangat melilit dan bayi ini pun terus menendang-nendang."
^^^"Kalau begitu beri tahu Pak Irwan. Ibu harus segera dibawa ke rumah sakit!"^^^
"Bang Irwan sekarang sedang berada di rumah mertuanya."
^^^"Apa? Istri sedang hamil tua malah ditinggal pergi. Suami macam apa itu!"^^^
"Sudah cepat kamu ke sini tolong Ibu. Aku sudah tidak kuat lagi. Bahkan duduk pun tidak sanggup."
..."Di luar hujan masih deras. Jadi aku harus naik mobil ke rumah Ibu. Aku akan taksi dulu."...
Tidak sampai 15 menit Santi pun sampai ke rumah Rela. Dia menekan bel rumah berapa kali sampai Mama Fathonah membukakan pintu itu.
"Santi, ada apa malam-malam begini datang bertamu?" tanya Mama Fatonah sambil mengucek mata, meyakinkan dirinya kalau di depan matanya saat ini sedang berdiri asisten Rela.
"Oma, Ibu Rela saat ini perutnya mengalami sakit. Bisa saja dia akan melahirkan malam ini," jawab Santi dengan seenaknya sendiri langsung masuk dan berlari ke lantai atas.
"Apa?" Mama Fatonah sangat terkejut mendengar ucapan Santi barusan.
Santi pun menaiki anak tangga dengan berlari. Lalu, masuk ke kamar Rela dan melihat wanita itu sedang mengarang kesakitan.
"San, tolong!" Suara Rela sudah sangat lemah.
Santi berusaha membangunkan tubuh Rela. Dia pun memapah tubuh bosnya itu dengan tertatih-tatih. Perbedaan tinggi badan dan tubuh Rela yang lebih besar dari dirinya, membuat Santi kesusahan.
Begitu sampai di lantai bawah Mama Fatonah ikut membantu dan memasukkan Rela ke dalam mobil. Taksi itu menunggu di depan teras rumah karena hujan masih mengguyur.
"Irwan, mana?" tanya Mama Fatonah.
"Katanya Pak Irwan sedang berada di rumah mertuanya," jawab Santi.
"Apa?" Mama Fatonah dalam sekejap raut wajahnya berubah. Terlihat kalau saat ini dia sedang murka.
"Sudahlah Oma, saat ini yang terpenting adalah membawa Ibu ke rumah sakit," ujar Santi yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Oma, ikut!"
"Lalu, anak-anak?" tanya Santi.
__ADS_1
"Ada, Rose. Dia bisa jaga anak-anak," jawab Mama Fatonah dan ikut masuk ke dalam taksi.
***
Rela pun langsung dibawa ke ruang UGD. Dia mendapat perawatan dari dokter jaga. Ternyata sakit perut itu bukan karena akan melahirkan. Sakit perut karena hal yang lain. Dokter kandungan pun dipanggil untuk memeriksa keadaan perut Rela. Ternyata itu adalah kontraksi palsu.
"Sebaiknya Ibu menenangkan pikiran. Jangan sampai mengalami stress dan banyak pikiran yang mengakibatkan kelelahan fisik dan mental," ucap dokter kandungan yang berjenis kelamin laki-laki.
"Tapi tidak berbahaya 'kan, Dok. Keadaan menantu saya saat ini?" tanya Mama Fatonah.
"Kalau hari ini terus berlangsung akan membahayakan Ibu dan bayi yang berada dalam kandungan," jawab dokter itu.
Hal ini membuat Mama Fatonah lemas dibuatnya. Dia takut terjadi sesuatu terhadap Rela dan bayinya.
Rela dipindahkan ke ruang perawatan kelas VVIP. Mama Fatonah ingin menantunya itu mendapatkan perawatan terbaik.
Santi duduk di tepi brankar yang ditempati oleh Rela. Sementara itu, Mama Fatonah tidur di sofa. Dia pun mencoba menghubungi nomor Irwansyah, tetapi masih belum aktif juga. Dia juga mencoba menghubungi nomor Azizah. Namun, hal yang sama terjadi dengan nomor istri muda itu.
"Kenapa sih, nomor mereka berdua tidak aktif, jadinya sulit sekali dihubungi," gerutu Santi.
Sebelum adzan Subuh berkumandang handphone milik Rela berdering. Terlihat nama di layar itu seseorang yang berarti bagi Rela. Maka Santi pun mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum. Halo, Opa."
^^^"Ini siapa? Mana Rela?"^^^
"Opa, ini aku, Santi. Asistennya Ibu Rela."
^^^"Oh, Santi. Kok, handphone Rela ada sama kamu?"^^^
"Sebenarnya aku sengaja mengangkat panggilan dari Opa. Siapa tahu ada sesuatu yang penting mau disampaikan kepada Ibu. Nanti akan aku sampaikan."
^^^"Opa ingin bicara secara langsung kepada Rela saja nanti"^^^
"Baiklah kalau begitu, nanti jika Ibu sudah sadar akan saya beritahu, kalau Opa sudah menelepon."
^^^"Memangnya Rela kenapa?"^^^
'Mampus!' Santi menutup mulutnya.
__ADS_1
***
Apakah Irwansyah akan mendapat masalah baru lagi? Tunggu kelanjutannya, ya!