Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 15. Diberhentikan Jadi Guru


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 15


Azizah sangat terkejut saat kepala sekolah dan ketua yayasan memanggilnya setelah selesai mengajar anak-anak PAUD. Dia semakin terkejut saat melihat ada beberapa orang tua murid juga yang hadir di ruang kepala sekolah.


"Ada apa, Pak?" tanya Azizah begitu berhadapan dengan kepala sekolah dan ketua yayasan dan beberapa pengurusnya.


"Kami menerima pengaduan dari para orang tua murid yang keberatan anak-anaknya dididik oleh Bu Azizah," kata kepala sekolah dengan lirih. Dia merasa bersalah kepada Azizah.


DEG!


Azizah merasa tubuhnya dihantam sesuatu yang berat dan besar sampai rasanya terasa sakit. Dia tidak menyangka kalau akan ada kejadian hari seperti ini akan dijalani olehnya.


"Maksudnya …?" Mata Azizah mulai berkaca-kaca karena menahan rasa sakit di hatinya.


"Mulai hari ini Bu Azizah akan diberhentikan dari PAUD ini," balas ketua yayasan.


Air mata Azizah luruh seiring ucapan ketua yayasan itu. Dia sakit hati, sedih, tidak percaya, dan tidak menyangka kalau pihak yayasan dengan mudahnya memberhentikan dirinya.


"Ta-pi … kenapa?" tanya Azizah menahan isak tangisnya.


"Bu Azizah, apa Anda tidak sadar diri kalau perbuatan, tingkah laku, dan perbuatan Anda selama ini tidak pantas sebagi seorang pendidik. Seorang pelakor yang suka mengganggu rumah tangga orang lain. Lalu, kemarin perbuatan Anda sungguh sangat keterlaluan. Menjadi narapidana karena melakukan percobaan pembunuhan. Sungguh tidak pantas orang seperti Anda menjadi seorang guru yang seharusnya menjadi contoh bagi murid-muridnya," jawab salah seorang ibu muridnya.


"Itu semua salah paham. Aku tidak pernah melakukan itu semua. Aku akui kalau aku adalah seorang istri kedua. Tapi, aku bukan pelakor. Aku tidak pernah menggoda suami orang. Lalu, percobaan pembunuhan itu juga salah. Aku tidak pernah melakukan hal itu. Dia makan gado-gado yang aku buat, padahal dia sendiri tahu punya alergi kacang sedangkan aku tidak tahu sama sekali kalau dia punya alergi kacang," jelas Azizah memberi tahu kebenarannya kepada orang-orang yang ada di sana.


Mereka mendengarkan apa yang dikatakan oleh Azizah. Namun, tidak ada seorang pun yang percaya padanya.


"Bu Azizah, di mana ada seorang penjahat yang langsung mengaku kalau dirinya penjahat. Pastinya akan terus mengelak meski kebenaran dan bukti perpampang jelas di depan matanya," kata seorang tua murid lainnya lagi.

__ADS_1


"Aku tidak bohong. Terserah kalian semua mau mempercayainya atau tidak," ucap Azizah akhirnya saking terlalu sakit hatinya sudah dituduh kembali oleh orang-orang yang ada di tempatnya bekerja.


Ibu-ibu malah semakin memojokkan Azizah. Tentu dengan keroyokan seperti ini, kesulitan bagi Azizah untuk membela dirinya.


"Sudah, sudah! Kalian jangan ribut. Maaf, Bu Azizah. Kami sudah tidak memerlukan kembali tenaga ibu untuk mendidik anak-anak di sini," kata ketua yayasan.


"Baik, Pak. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan mengajar anak-anak di sini selama tujuh tahun. Banyak sekali hal yang aku dapatkan saat mengajar di sini," balas Aizah.


***


Sepulang sekolah Azizah pulang ke rumah orang tuanya. Dia tidak langsung pulang ke rumah suaminya karena saat ini dirinya sedang memerlukan seseorang untuk menumpahkan rasa kesedihannya. Hanya ibu dan bapaknya yang selalu memahami dirinya di saat sedih dan terluka hatinya.


"Kamu harus sabar. Mungkin ini salah satu ujian yang masih harus kami lalui, agar kamu semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta," ucap Ibu Rosyidah ketika Azizah menceritakan apa yang sudah dialaminya tadi di sekolah.


"Aku tidak menyangka saja, Bu. Kenapa mereka tidak mengecek dulu kebenarannya. Mereka langsung menuduh aku begitu saja. Pengabdian aku selama tujuh tahun di sana pun tidak mereka pertimbangkan dan langsung main pecat saja," kata Azizah sambil terisak dalam pelukan ibunya.


"Kamu ini lulusan S1, masih bisa cari kerja di tempat lain," kata Pak Maulana memberikan semangat kepada Azizah.


"Kalau begitu cari PAUD di kecamatan yang mau menerima kamu, mengajar di sana," kata Pak Maulana lagi.


"Iya, Pak. Semoga saja ada lowongan," ucap Azizah.


Sebelum masuk waktu Zuhur, Azizah sudah pulang ke rumah. Dia langsung menyiapkan untuk makan siang. Hari ini Irwansyah membantu dia memasak karena anak-anaknya ingin makan dengan ayam goreng sedangkan Mama Fatonah ingin bakar ikan, dan Tante Rose ingin makan sop. Sementara Rela masih makan bubur karena perutnya akan terasa sakit jika makan yang pedas dan keras.


"Bang, biar bubur, ayam goreng, dan sop, aku yang buat. Abang bikin ikan bakar saja," ucap Azizah saat melihat Irwansyah selesai membersihkan ikan.


"Aku akan bakar ikan di luar, nanti aku akan bantu masak yang lainnya," ucap Irwansyah sambil menyiapkan bumbu untuk melumuri ikan saat dibakar nanti.


Azizah belum mengatakan tentang pemberhentian dirinya kepada Irwansyah. Niatnya, dia akan mengatakan nanti sore atau malam hari.


Seperti ucapannya, Irwansyah membantu Azizah memasak bubur. Sementara Azizah membuat sop dan goreng ayam.

__ADS_1


    Setelah sholat Zuhur, mereka semua makan bersama. Kini Rela sudah bisa makan di meja makan bersama-sama dengan yang lainnya. Celoteh Ukasyah dan Oliv meramaikan acara makan siang mereka.


"Azizah, aku dengar kamu dipecat dari sekolah PAUD tempat kamu mengajar," kata Tante Rose dan sukses membuat semua orang dewasa di sana terdiam seketika dan menatap ke arah Azizah.


Azizah yang ditatap seperti itu oleh semua orang merasa tidak enak. Dia pun meletakan sendok ya dan meminum air putih karena terasa kering kerongkongannya.


"Benarkah itu, Iza?" tanya Irwansyah sambil menatap istri keduanya.


"Iya," jawab Azizah mengangguk dengan wajah sendu.


Irwansyah merasa kalau saat ini bukan waktu yang pas untuk melanjutkan pembicaraan ini, maka dia pun memilih diam. Lalu, meminta semua melanjutkan makan mereka.


Azizah merasa sesak dadanya saat melihat respon Irwansyah yang memilih diam. Dia berharap kalau suaminya itu memberikan kata-kata dukungan dan penyemangat untuknya. Namun, hal itu tidak dilakukan olehnya.


Begitu selesai makan, Azizah mencuci perabotan bekas masak dan makan. Tanpa sadar air matanya meluncur di pipi mulusnya. Dia menangis dalam diam. Beberapa kali Azizah menarik napas dan menghembuskan dengan kasar untuk meringankan sesak di dadanya.


"Menangislah, jika kamu ingin menangis. Mereka itu akan membuat hati dan perasaan kamu lebih baik." Irwansyah memeluk Azizah dari belakang.


Azizah mencuci tangannya yang dipenuhi oleh sabun. Lalu, dia berbalik dan memeluk tubuh suaminya. Menumpahkan kesedihan dan kekecewaan dalam tangisnya itu.


"Hatiku sakit, Bang. Kenapa mereka memperlakukan aku seperti ini. Mereka seenaknya saja menjudge aku sebagai pelakor dan pembunuh. Hal yang sama sekali tidak pernah aku lakukan," ucap Azizah dalam isak tangisnya.


'Rasakan! Akhirnya kalian kena karma.' Tante Rose berdiri di dekat pintu dapur.


***


Akankah Irwansyah melakukan sesuatu untuk Azizah? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya nggak kalah bagus dan seru, loh. Cus kepoin karyanya.


__ADS_1


__ADS_2