Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 46. Berubah


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 46


Irwansyah menatap nanar ke arah Rela. Dia tidak menyangka kalau istrinya begitu keras kepala ingin berpisah dengannya. Entah harus bagaimana lagi dia membuktikan, kalau dirinya adalah wanita yang paling berharga dalam hidupnya ini.


"Lalu, bagaimana dengan anak-anak? Mereka pasti akan menanyakan dirimu," tanya Irwansyah sambil menatap lekat pada bola mata yang begitu jernih itu.


"Aku akan bilang pada mereka, kalau aku harus menjalani pengobatan di luar kota," jawab Rela.


"Satu hal yang harus kamu dengar adalah 'Aku begitu sangat mencintaimu'. Aku tidak tahu apa akan bisa mengatakan kalimat itu lagi padamu. Karena aku tidak tahu sampai kapan aku akan hidup. Seandainya nyawa aku tidak sampai satu bulan lagi dan belum sempat berasa mau kembali. Itu adalah kata-kata yang akan selalu aku ucapkan setiap harinya kepada selama kita tidak bertemu."


Rela pun meneteskan air matanya. Suaminya itu tahu apa yang menjadi kelemahan dirinya.


"Abang jahat! Kenapa bicara sesuatu yang paling aku benci," ucap Rela sambil memukul dada ada Irwansyah.


"Kamu yang jahat. Sudah tahu kalau aku tak akan bisa hidup bahagia tanpa adanya dirimu disisiku. Tapi, kau memutuskan untuk pergi dan menjauh dariku, itu sama saja kalau kau ingin membunuh aku."


Irwansyah membiarkan Rela memukuli dadanya. Rela paling tidak suka jika, ada orang yang disayanginya bicara seakan dia akan meninggal dunia.


***


Bagaskara—papanya Rela—dan Satria yang duduk di samping Mama Fatonah, menata penuh selidik kepada Azizah yang duduk di seberang. Mereka tahu alasan kenapa Rela mau di madu. Masih begitu keduanya tetap tidak setuju kalau rumah tangga Rela harus berbagi dengan wanita lain.


"Bu, apa wanita itu baik kelakuannya?" tanya Pak Bagaskara kepada Mama Fathonah.


Mama Fatonah terdiam sejenak. Dia berpikir apa Azizah adalah orang yang sudah memberikan obat pencahar itu kepadanya atau bukan.

__ADS_1


"Sebagai seorang istri kedua, Azizah selalu menurut dan melakukan yang apa yang diminta oleh Rela. Hanya saja setiap kali Irwansyah dan Azizah pergi, di saat itu kondisi Rela sedang dalam keadaan tidak baik. Itu yang membuat aku dan beberapa orang menganggap kalau Irwansyah tidak perhatian kepada Rela karena sudah punya istri kedua. Hanya saja jika Irwansyah berada di sisi Rela, saat sakit pun tidak akan pernah sampai separah di saat dia sendirian. Dulu pernah terjadi hal seperti ini, Rela sakit sedangkan giliran Irwansyah sedang bersama Azizah. Namun, Irwansyah langsung menemani Rela, selama dia mendapat perawatan di rumah sakit. Azizah itu tahu akan agama sehingga dia tidak pernah berbuat jahat terhadap Rela. Namun, bagaimanapun juga perasaan seorang istri yang selalu ingin mendapatkan perhatian dari suaminya. Hal itu seharusnya yang dilakukan oleh Irwansyah kepada Rela. Dia tahu kalau istrinya sedang hamil, dia malah pergi menginap di rumah mertuanya." Mama Fatonah menilai kehidupan rumah tangga Irwansyah bersama kedua istrinya seperti itu.


"Itu sama saja dengan Irwansyah tidak memberikan perhatian kepada Rela secara adil," ujar Satria dan Bagaskara pun setuju.


"Bukannya seorang istri kalau sedang hamil itu membutuhkan perhatian sangat ekstra dari suaminya?" Pak Bagaskara menimpali ucapan putranya.


Mama Fatonah membenarkan hal ini karena dulu dirinya juga seperti itu, selalu ingin diperhatikan oleh suaminya. Bahkan semua keinginan dirinya saat ngidam selalu dituruti oleh suaminya.


***


Akhirnya diputuskan kalau Rela akan ikut bersama ayahnya untuk beberapa waktu sampai dia melahirkan. Sementara itu hewan sayang akan mengurus kedua anak mereka.


Ukasyah dan Oliv, datang menjenguk Rela saat sore hari. Mereka datang bersama dengan Tante Rose.


"Bunda, kenapa sakit lagi?" tanya Oliv yang saat ini sedang berada di pangkuan Bagaskara.


"Mungkin karena cuaca yang sedang tidak menentu," jawab Rela sambil tersenyum.


Kedua bocah kecil itu menatap sendu kepada Rela. Mereka sebenarnya tidak ingin bundanya pergi. Namun, saat ini keadaan bunda sedang sakit dan harus pergi berobat agar cepat sembuh.


"Tapi, Bunda tiap hari harus menelepon kita, ya!" pinta Ukasyah dan Oliv.


"Tentu saja bunda akan menghubungi kalian setiap hari. Karena bunda selalu merindukan dan ingin bertemu kalian," balas Rela.


Irwansyah hanya diam saja. Dia mau tidak mau harus menerima keputusan Rela itu.


***


Azizah pulang ke rumah bersama Ukasyah dan Oliv, begitu juga dengan Tante Rose. Namun kali ini suasana berbeda dari biasanya. Kedua bocah itu menjadi pendiam dan tidak banyak bertanya seperti biasanya kepada Azizah.

__ADS_1


Bahkan Oliv pun tidak mau duduk di pangkuannya.


Azizah berpikir kalau anak itu membenci dirinya sekarang. Tidak ada canda tawa dan tatapan jahil kepadanya, seperti yang biasa mereka lakukan saat sedang bersama dengannya.


Berbeda sekali dengan Tante Rose yang terlihat berbinar matanya, seakan sedang berbahagia. Hal itu semakin terlihat jelas saat wanita itu berbicara dengan sopir taksi terdengar nada suaranya yang riang.


Begitu sampai rumah pun, kedua anak kecil itu langsung masuk ke dalam kamar. Azizah hanya menatap sendu kepada dua anak yang sangat dia sayangi itu.


***


Saat sarapan pagi pun kedua anak itu makan dalam diam. Biasanya mereka akan berceloteh membuat suasana rumah menjadi ramai.


"Oliv, ini bekalnya. Lalu, ini bekal milik Kakak," kata Azizah sambil menyerahkan kotak bekal pada kakak beradik itu.


"Mulai besok Ibu jangan buatan bekal lagi," kata Ukasyah dengan nada dingin. Tidak ada senyuman yang sering dia perlihatkan kepada Azizah setiap mereka bertatapan.


"Oliv juga." Anak kecil itu bahkan tidak menyentuh nasi goreng kesukaannya. Dia hanya makan roti dan susu yang dibuatkan oleh Azizah.


"Apa ibu sudah berbuat sesuatu untuk tidak baik? Sehingga kalian berdua marah," tanya Azizah dengan suara yang bergetar.


Ukasyah dan Oliv saling menatap. Lalu, keduanya mengangguk.


"Gara-Gara ibu, bunda dan oma sakit parah. Seharusnya ibu dilaporkan ke polisi karena sudah melakukan perbuatan yang membahayakan nyawa orang lain," jawab Ukasyah.


Azizah bagai tersambar petir saat mendengar ucapan dari bocah laki-laki itu. Dia tidak menyangka kalau keduanya punya pemikiran seperti itu.


"Benar, Ukasyah. Seharusnya wanita ini masuk ke penjara karena sudah merencanakan perbuatan jahat kepada istri pertama dan mertuanya. Pastinya dia ingin menguasai ayah kalian dan harta keluarga ini," kata Tante Rose sambil tertawa terkekeh.


"Astaghfirullahal'adzim. Tante Rose itu adalah fitnah! Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu," bantah Azizah. Hatinya sangat sakit sekali dituduh seperti ini, apalagi oleh anak kecil yang disayangi olehnya.

__ADS_1


***


Akankah Azizah menyerah dan memutuskan untuk pergi? Saat dirasa tidak ada orang yang mengharapkan dirinya. Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2