Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 39. Obat Pencahar


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 39


Mama Fatonah curiga dengan perbuatan adik sepupunya itu. Dia tidak menyangka kalau Tante Rose punya uang yang sangat banyak. 


"Dari mana kamu punya uang sebanyak itu?" tanya Mama Fatonah yang kini sudah berdiri di samping tempat tidur.


"Ini uang harta Gono gini aku dengan Mas Dewa," jawab Tante Rose dengan mata bergerak ke kanan ke kiri.


Kalau orang pintar membaca gerak tubuh, kelakuan Tante Rose pasti akan ketahuan kalau sedang berbohong. Hanya saja Mama Fatonah tidak bisa membaca gerak tubuh.


"Kalau Dewa kasih uang segini banyaknya, seharusnya kamu tidak ambil uang milik Irwan," ucap Mama Fatonah menyindir Tante Rose.


"Ini baru ada dapatkan setelah itu," balas Tante Rose melirik sebal pada kakak sepupunya.


***


Rela sedang membereskan dapur dia melihat ada botol kecil di dekat tong sampah. Dia pun membaca tulisan yang ada di botol itu. Ternyata itu adalah obat pencahar.


"Astaghfirullahal'adzim. Ternyata benar apa kata bang Irwan, ada yang berniat mau mencelakai aku dan mama," gumam Rela.


Tanpa Rela sadari kalau Mama Fatonah sudah berdiri dibelakangnya. Dia mendengar apa yang diucapkan oleh menantunya itu.


"Apa maksud kamu?" tanya Mama Fatonah dan membuat Rela terkejut sehingga menjatuhkan botol kecil itu dari tangannya.


"Astaghfirullahal'adzim. Mama membuat aku terkejut saja," ucap Rela sambil memegang dadanya yang berdebar.


Sungguh Rela saat ini selain terkejut, selain itu dia juga agak ketakutan. Sebab, dia dan suaminya sudah menyembunyikan tentang seseorang yang sengaja mencampurkan obat pencahar ke dalam makanan dan minuman mereka. 


"Jawab pertanyaan mama, Rela? Apa maksud kamu barusan dengan ada yang berusaha mencelakai mama dan kamu?" tanya Mama Fatonah mendesak menantunya.


Lalu, Rela pun menceritakan apa yang dia ketahui dari suaminya dahulu setelah kejadian diare. Namun, mereka tidak tahu itu perbuatan siapa.


Mama Fatonah terlihat sangat marah. Lalu, dia pun memungut botol kecil itu dan pergi meninggalkan Rela seorang diri di dapur.


***


"Rose, aku tanya ini botol obat milik kamu, 'kan?" tanya Mama Fatonah dengan membentak kepada Tante Rose, sambil menunjukan obat pencahar itu.

__ADS_1


Tante Rose yang baru saja selesai mandi terkejut dengan kedatangan kakak sepupunya, yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.


"Apa maksud kakak? Aku tidak sedang sakit, buat apa beli obat," ucap Tante Rose tidak terima dengan tuduhan itu.


"Lalu, ini punya siapa?" tanya Mama Fatonah dengan nada sarkas.


"Mana aku tahu. Lagian aku ini jarang mengkonsumsi obat kecuali sudah parah banget sampai aku terkulai tidak berdaya, baru mau minum obat. Memangnya ini obat apaan?" tanya Tante Rose sambil mengambil botol obat itu dari tangan Mama Fatonah.


Tante Rose pun membaca keterangan di label botol itu. Kalau itu merupakan obat pencahar.


"Obat pencahar? Maaf, ya, Kak. Aku tidak pernah mengalami kesulitan saat buang air besar. Setiap hari aku selalu bisa buang air besar, tuh," ujar Tante Rose sambil tersenyum miring meremehkan pada Mama Fatonah.


"Awas saja kalau sampai ini ketahuan kalau kamu adalah pelakunya, aku tidak akan tinggal diam Rose," kata Mama Fatonah mengancam, lalu dia pun pergi ke luar kamar itu.


"Aku tidak bohong! Obat itu memang bukan punya aku," balas Tante Rose.


***


Irwansyah, Azizah, dan Oliv mendatangi rumah yang masih dalam tahap pembuatan. Rumah berlantai dua dengan ukuran yang lumayan besar, meski tidak sebesar rumah tempat tinggal keluarga Irwansyah selama ini.


"Ini kira-kira kapan akan selesai secara keseluruhan dan siap di huni?" tanya Irwansyah kepada mandor.


"Satu bulan atau lima minggu-an lagi," jawab mandor.


"Semoga saja, Pak."


Lalu, mereka semua pun berjalan-jalan mengelilingi rumah itu dan memberi tahu warna cat apa saja yang akan di pakai sesuai dengan keinginan Azizah. Rata-rata warna yang dipilih adalah warna terang dan lembut. 


"Bang, bolehkah nanti aku isi taman di depan dengan berbagai bunga hias dan di halaman belakang dibuat apotek hidup?" tanya Azizah dengan merayu suaminya.


"Boleh. Buat rumah ini senyaman kamu. Mau di tata seperti apa sesuai selera kamu, terserah," jawab Irwansyah tersenyum lembut.


"Terima kasih," balas Azizah, lalu memberikan kecupan singkat pada bibir suaminya.


"Ish, nanti ada yang lihat," bisik Irwansyah.


"Hehehe, aku berani melakukan itu karena tidak ada siapa-siapa," balas Azizah dengan berbisik.


"Eh, ke mana, Oliv?" tanya Irwansyah mencari keberadaan putrinya.


Irwansyah dan Azizah mencari Oliv, anak kecil itu meleng sedikit saja langsung hilang keberadaannya. Keduanya berkeliling rumah mencari Oliv. Ternyata gadis kecil itu sedang melihat para tukang sedang memasangkan lampu di dapur.

__ADS_1


"Oliv," panggil Irwansyah.


"Iya, Yah. Ada apa?" tanya Oliv dengan polos dan tanpa dosa. Tidak tahu kalau orang lain sudah panik mencari dirinya.


Mereka di sana sampai menjelang ashar. Setelah itu pulang ke rumah tanpa menyimpang ke tempat mana pun lagi.


"Ayah, apa nanti kalau rumah itu sudah jadi aku dan kakak boleh menginap di rumah tadi?" tanya Oliv.


"Tentu saja boleh. Ayah dan Ibu Azizah sudah menyiapkan kamar untuk Oliv, kak Ukasyah, dan adek bayi," jawab Irwansyah.


"Asik! Nanti aku dan kakak akan menginap di rumah Ibu Azizah," seru Oliv senang.


***


Senyum dan tawa masih menghiasi ketiga orang itu ketika sampai di rumah. Begitu mereka masuk ke rumah sudah terlihat Mama Fatonah sedang duduk di sofa ruang depan.


"Assalamualaikum," salam mereka bertiga.


"Wa'alaikumsalam. Duduk kalian," ucap Mama Fatonah dengan nada yang dingin dan tatapan mata yang memicing.


Irwansyah dan Azizah saling melirik, kemudian saling menggeleng karena tidak tahu kenapa Mama Fatonah menyuruh hal seperti ini. Namun, perasaan keduanya merasakan suatu firasat yang tidak enak.


"Ada apa, Ma?" tanya Irwansyah pada mamanya.


"Mama mau tanya ini milik siapa?" tanya Mama Fatonah sambil meletakan botol kecil yang tadi ditemukan oleh Rela di dekat tong sampah.


Irwansyah Azizah sangat terkejut melihat botol obat pencahar. Irwansyah yakin kalau obat itu sudah dia buang ke tong sampah.


Azizah menelan ludah karena merasa saja tiba-tiba terasa tercekat tenggorokannya.


"Itu milik aku, Ma," jawab Azizah dan di waktu bersamaan Rela masuk ke ruang itu.


Rela sangat terkejut mendengar pengakuan Azizah. Dia tidak pernah menyangka kalau obat itu milik adik madunya.


"Apa? Jadi ini milik kamu? Kamu berniat membunuh aku!" hardik Mama Fatonah dan membuat Oliv dan Ukasyah yang baru saja pulang ketakutan.


Suasana rumah Irwansyah langsung mencekam. Perasaan semua orang di sana selain terkejut tidak percaya juga dikejutkan dengan pernyataan Mama Fatonah.


***


Apa yang akan terjadi pada Azizah berikutnya? Kemarahan seperti apa yang akan diperlihatkan oleh Mama Fathonah? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


sambil menunggu apa berikutnya yuk baca juga karya aku yang lain.



__ADS_2