Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 36. Azizah Sakit (2)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya! Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 36


Azizah yang hendak makan pun langsung menghentikan gerakannya. Dia sangat terkejut dengan perkataan suaminya. Dia tidak mengerti maksud ucapan Irwansyah.


"Hasil laboratorium menunjukan kalau dalam makanan yang kami sediakan untuk Rela dan mama mengandung zat laxative. Hal ini bisa membuat orang menjadi mudah air besar. Akibatnya Rela dan mama mengalami diare," jelas Irwansyah dengan tangan yang terkepal. 


Selama ini Irwansyah tidak pernah terlintas dalam pikiran atau benaknya, kalau Azizah akan melakukan hal seperti ini. Dia mengira kalau Tante Rose yang sudah membuat perbuatan kejahatan ini.


"Itu bukan aku pelakunya! Aku tidak pernah punya pikiran melakukan kejahatan seperti itu ataupun kejahatan lainnya," bantah Azizah tidak terima dirinya dituduh seperti itu.


"Maksud kamu, kalau ada orang lain yang sudah memasukan obat pencahar pada makanan dan minuman milik Rela dan mama. Sementara obatnya adalah milik kamu," ucap Irwansyah dengan kesal.


"Itu memang obat milik aku. Tapi, kenapa Abang menuduh aku? Sedangkan aku merasa tidak pernah melakukan hal itu," tukas Azizah dengan tegas.


"Kamu bilang ini punya kamu. Ini sudah membuktikan kalau kamu bisa saja menjadi salah satu tersangka. Banyak hal yang mendukung kemungkinan kamu adalah pelakunya. Makanan itu dimasak oleh kamu. Lalu, kamu juga yang menyiapkan semuanya," balas Irwansyah yang kini berdiri di samping ranjang tempat Azizah yang duduk di atasnya.


Hati Azizah terasa sangat sakit, lebih sakit dibandingkan dengan tubuhnya yang saat ini benar-benar lemah karena penyakit maag yang sedang kambuh. Dia pun meneteskan air matanya sambil menatap ke arah suaminya.


"Abang sudah menyakiti hatiku, dengan memberikan tuduhan palsu itu. Aku dulu membeli obat itu karena sudah dua minggu lebih belum juga buang air besar. Maka, aku pun membeli obat agar melancarkan buang air besar ke apotek. Setelah itu, pencernaan aku membaik kembali," jelas Azizah.


"Kenapa kamu tidak bicara kepada aku tentang kesulitan buang air besar, dulu?" tanya Irwansyah.


"Aku tidak mau menambah beban pikiran Abang dengan masalah aku. Selain itu, Abang juga sedang sibuk mengurus Oliv," jawab Azizah.


"Aku harap kamu tidak bohong dengan ucapan barusan. Aku tidak mau kalau dalam rumah aku ada orang yang punya niat buruk terhadap keluarga sendiri," ujar Irwansyah sambil menatap tajam Azizah.


***

__ADS_1


Sejak kejadian itu baik Azizah maupun Irwansyah sering saling diam. Keduanya menjadi kurang berinteraksi meski Irwansyah juga menyiapkan makan dan minum obat untuk istri keduanya itu. Bahkan tidur satu kamar pun mereka saling diam.


Azizah sakit hati karena dituduh oleh suaminya sedangkan Irwansyah menjadi curiga dengan Azizah karena penemuan obat pencahar itu.


"Bang, bagaimana keadaan Azizah sekarang?" tanya Rela saat Irwansyah ke dapur untuk ambil air minum.


"Sudah lebih baik," jawab Irwansyah sambil berjalan ke arah dispenser berada.


"Kenapa tidak mau di bawa ke dokter? Apa hanya sakit maag saja, tidak ada yang lainnya?" tanya Rela yang kini menatap ke arah suaminya.


"Iya. Dia bersikukuh tidak mau di bawa ke dokter," balas Irwansyah sambil menuangkan air pada gelas.


Rela juga waktu itu terkejut saat suaminya bilang kalau madunya juga sedang sakit. Dia awalnya mengira Azizah sakit diare seperti dirinya, tetapi Irwansyah bilang kalau istri kedua itu sakit maag.


"Aku buatkan bubur dan pepes ikan. Jika, tidak mau bubur, ada nasi, aku bikin agak lembek," kata Rela sambil meletakan satu mangkok bubur dan satu pepes ikan yang terbungkus daun pisang di letakan pada piring.


"Terima kasih, Sayang. Kamu jangan terlalu lelah. Ingat kamu juga baru sembuh dan lagi hamil tua," pungkas Irwansyah sambil mengusap kepala Rela dengan penuh kasih sayang.


Irwansyah tahu kalau istri pertamanya itu memiliki hati yang baik dan rasa peduli yang tinggi kepada orang lain. Makanya, dia akan sangat kecewa sekali pada Azizah, jika dia benar-benar sudah melakukan hal itu terhadap Rela.


***


"Bang, aku ingin mengunjungi rumah bapak nanti setelah pulang sekolah," kata Azizah sebelum dia pergi kerja.


"Iya. Biar Oliv nanti di jemput oleh Rela," balas Irwansyah.


"Biar ikut dengan aku saja ke rumah bapak," ucap Azizah merasa tidak enak hati.


Irwansyah melirik ke arah Azizah. Istri mudanya ini belakangan sering sekali membatah ucapannya.


"Tidak. Oliv akan langsung pulang ke rumah. Aku tidak mau kalau Rela dan mama terus mengkhawatirkan Oliv," tukas Irwansyah tidak mau dibantah.

__ADS_1


Azizah sekarang tidak bisa sebebas dulu, jika mengajak Oliv atau Ukasyah jalan-jalan bersama dengannya. Begitu juga jika mengajak kedua anak itu untuk mengunjungi rumah orang tuanya. Semua ini terjadi setelah kejadian kecelakaan itu. Mama Fatonah tidak pernah mengizinkan kedua cucunya untuk pergi dengan dirinya.


***


Keadaan rumah Irwansyah kembali berjalan normal. Rumah untuk Azizah tinggali juga sudah hampir selesai. Irwansyah menyangka kalau keadaan rumah sudah tidak akan terjadi apa-apa lagi. Dia lupa akan kasus yang menyeret Tante Rose.


"Irwan, cepat pulang!" Mama Fatonah menghubungi Irwansyah yang sedang berada di toko.


^^^"Ada apa, Ma?" ^^^


"Ada polisi mau menangkap tante kamu. Tapi, Rose saat ini sedang tidak ada di rumah. Entah ke mana dia."


^^^"Baiklah, aku pulang sekarang."^^^


Saat Irwansyah pulang ke rumah, Tante Rose datang ke toko. Dia menemui pegawai yang sedang melayani pembeli.


"Aku disuruh sama Pak Irwan ambil handphone yang tertinggal di ruang pribadinya," kata Tante Rose dusta.


"Sebentar, Bu. Akan saya ambilkan setelah selesai melayani pembeli ini," balas pegawai itu.


"Biar aku saja! Soalnya aku juga mau segera pergi lagi," balas Tante Rose. Lalu, dia pun cepat-cepat pergi ke lantai atas, tempat ruang pribadi Irwansyah.


Tante Rose pun langsung membongkar ruangan itu mencari uang milik Irwansyah. Dia melakukan hal ini untuk menebus utang gara-gara kasus penipuan dulu. Dia sudah minta bantuan ke Baharuddin dan dia memberikan uang hanya 200 juta. Dia ambil uang milik kakak sepupunya tanpa sepengetahuan dirinya sebesar 100 juta lewat bank dengan menggunakan surat kuasa yang ada tanda tangan Mama Fatonah. Dia masih kurang 150 juta. Dia nekad mencuri uang Irwansyah di toko karena di rumah mereka tidak menyimpan uang dalam jumlah besar.


"Di mana sih, dia menyimpan uangnya?" Tante Rose bicara seorang diri sambil membuka laci-laci di meja milik Irwansyah yang bertumpuk banyak daftar belanjaan atau bukti-bukti pembayaran jual beli dia bersama rekan bisnisnya.


Mata Tante Rose tertuju pada sebuah cek kosong. Dia melihat itu lalu memeriksanya. Betapa senangnya dia saat melihat ada bekas jejak tanda tangan milik Irwansyah. Lalu, dia pun mengambil pensil dan meniru tanda tangan milik Irwansyah dengan memperjelas bekas jejak tanda tangan.


Setelah selesai dia pun segera pergi dari sana. Dia mengisi nominal di kertas cek itu sebesar 150 juta.


"Maaf, Irwan. Tante minta uang kamu tanpa bilang. Karena tante tidak mau di penjara," kata Tante Rose bermonolog saat dia sudah pergi meninggalkan toko Irwansyah.

__ADS_1


***


Akankah Tante Rose lepas dari jeratan hukum? Apa Irwansyah akan tahu jika uang tabungannya di ambil oleh Tante Rose? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2