Bukan Pasangan Biasa

Bukan Pasangan Biasa
Eps 10 (Penyesalan Denis)


__ADS_3

"Terus hubungan lo dengan Rissa gimana?" Tanya Baim.


Mengenai hubungannya dengan Rissa, Arta juga tidak tahu. Dia bingung harus bagaimana, di satu sisi Rissa adalah pacarnya yang sangat dia cintai. Sementara di sisi lain adalah Riska, wanita yang tidak dia cintai tapi telah menjadi istrinya, dan karena janjinya pada sang Papi, dia harus menjaga Riska dan tidak boleh meninggalkannya.


"Entahlah gue juga gak tahu Im, makanya sekarang gue pusing banget nih mikirin Sasa. Gimana kalau nanti dia tahu kalau gue udah nikah sama kak Riska?" Kata Arta frustasi.


Melihat Arta yang frustasi, Baim merasa iba. Dia sedikit mengerti dengan apa yang sedang dirasakan Arta saat ini.


"Ya elah gitu aja lo pusing, tinggal lo putusin aja tuh si Rissa secara kan lo udah dapet kak Riska yang cantik atau kalo lo gak mau putusin Rissa, lo ceraiin aja kak Riska biar buat gue aja. Gimana?" kata baim memberikan solusi, sambil menaik turunkan alisnya menggoda Arta. Dia berharap bisa mengurangi sedikit beban pikiran Arta.


"Arta Arta lo gak tahu aja, gimana kelakuan Rissa di belakang lo" batin Baim, merasa kasihan pada Arta.


"Sialan lo Im, masalahnya gak segampang itu, gue masih sayang sama Sasa dan untuk ka Riska, gue gak bisa ceraiin dia karena gue udah janji sama Papi buat gak ninggalin dia" kata Arta kesal.


"Oke deh, kita pikirin solusinya nanti aja sekarang kita lanjut jalan dulu ke cafe X" kata Baim dan di setujui oleh Arta.


Mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanan menuju ke kafe X.


***


Sementara itu, Riska sedang berada di kantor Papanya.


"Halo Pa" sapa Riska yang melihat sang Papa sibuk dengan berkas-berkasnya.


"Loh sayang, kenapa ke kantor seharusnya kamu di rumah saja?" Tanya Martin terkejut melihat putrinya berada di kantor.


"Gak papa kok Pa, mumpung Ica lagi cuti. Jadi lebih baik Ica ke kantor, besok baru Ica mulai kuliah" ucap Riska menjelaskan kepada Papanya.


"Ya sudah, kamu duduk dulu di sofa. Sebentar lagi Papa selesai" kata Martin.


"Iya Pa" jawab Riska lalu berjalan menuju sofa dan duduk di sana.


"Oh iya Ca, Papa lupa kasih tahu kamu, minggu depan perusahaan kita akan menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan Mahen Grup. Kamu bisa kan menemani Papa untuk bertemu dengan mereka?" kata Martin kepada Riska.


"Baiklah Pa, Ica akan mengatur jadwal pertemuan kita dengan mereka minggu depan" jawab Riska.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan sore hari, Riska baru saja sampai di apertemennya, setelah tadi pulang dari kantor Papanya. Riska langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan mandi.


***


Semrntara itu setelah pulang dari cafe, Arta meminta Baim untuk mampir sebentar ke rumah sakit, sebelum nanti kembali pulang ke rumahnya untuk mengambil barang dan pakaiannya agar bisa di bawa ke apertemen Riska. Karena kemarin dia tidak sempat membawa pakaiannya.


"Bagaimana perasaan Papi saat ini?" Tanya Arta, kini mereka sudah berada di kamar rawat Denis.


"Sekarang Papi sudah jauh lebih baik. Kata dokter lusa Papi sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah" jawab Denis tersenyum bahagia. Kondisinya kesehatannya berkembang dengan sangat pesat. Dia sangat bahagia dan mempunyai semangat untuk sembuh yang besar karena Arta menyemangatinya dan berjanji akan segera memberikannya seorang Cucu karena itulah Denis berusaha untuk sembuh dari penyakitnya.


"Benarkah Pi? Baiklah, biar Arta nanti yang akan menjemput Papi saat pulang dari rumah sakit" kata Arta ikut bahagia melihat perkembangan kondisi Papinya. Denis pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Halo Om Denis? Apa kabar? Maafin Baim Om, baru sempat menjenguk Om Denis!" Sapa Baim yang memang ikut untuk menjenguk Denis.


"Iya gak apa-apa Im. Sekarang Om juga sudah baik-baik saja" jawab Denis.


"Mami mana Pi?" Tanya Arta ketika tidak melihat sang Mami di sana.


"Mami kamu sedang keluar untuk mencari makan, sebentar lagi pasti kembali" jawab Denis.


Kini Arta dan Denis hanya berdua di ruangan itu, karena tadi Baim ijin sebentar untuk pergi ke toilet.


"Iya Pi, Arta sudah memaafkan Papi kok, sekarang Papi fokus saja dengan kesehatan Papi" kata Arta, dia memang tidak menyalahkan orang tuanya atas kejadiaan itu. Karena menurutnya semua kejadian kemarin juga bukan kehendak mereka semua. Jadi, dia berusaha untuk bersikap dewasa, mungkin itu semua sudah menjadi garis takdirnya.


"Terimakasih Arta, Papi bangga sama kamu" ucap Denis tersenyum, dia bangga melihat putra bungsunya kini sudah nampak dewasa.


Tak berapa lama Vivita datang bersama dengan Baim. Tadi saat di luar mereka tak sengaja bertemu dan memutuskan untuk masuk bersama ke ruangan Denis.


"Arta" panggil Vivita.


"Iya, Mami sudah datang?" Ucap Arta melihat ke arah sang Mami, yang baru saja masuk ke ruangan itu.


"Iya sayang, loh jidat kamu kenapa?" Tanya Vivita ketika melihat jidat Arta yang nampak memar.


"Gak papa kok Mi, cuma memar sedikit" jawab Arta sambil menatap tajam Baim. Baim yang sedang di tatap tajam oleh Arta hanya cengengesan tak menentu, karena merasa bersalah dan mengucapkan kata maaf tanpa bersuara kepada Arta.

__ADS_1


"Kita periksa ke dokter ya" kata Vivita khawatir.


"Gak usah Mi, nanti biar Arta kompres pakai air hangat saja ketika sampai di rumah" jawab Arta.


"Ya sudah kalau begitu. Kata dokter Papi sudah diperbolehkan untuk pulang besok lusa" kata Vivita memberi tahu Arta, jika Denis sudah di perbolehkan untuk pulang.


"Iya Mi, tadi Papi juga sudah memberitahukan Arta. Besok lusa nanti Arta akan menjemput Papi dan Mami di Rumah sakit" kata Arta.


"Dan Maafin Arta Mi, Arta tidak bisa menemani Mami di sini untuk menjaga Papi. Karena Arta harus segera pulang ke rumah untuk mengemasi barang dan pakaian Arta supaya bisa di bawa ke apertemen Kak Riska karena kemarin tidak sempat" lanjut Arta.


"Tidak apa-apa sayang, tapi sebelum kamu pulang Mami ingin bicara sebentar sama kamu" kata Vivita.


"Baik Mi" jawab Arta.


***


"Terimakasih sayang kamu sudah mau bersikap baik pada Riska. Mami tahu ini tidak mudah bagi kamu. Apalagi di usia kamu yang seperti ini kamu sudah harus menikah" kata Vivita, mereka sedang berbicara berdua di sebuah bangku taman rumah sakit tersebut.


Sebelumnya Arta sudah menyuruh Baim untuk menunggunya di parkiran.


"Iya Mi, tapi bagaimana Mami bisa tahu kalau Arta bersikap baik pada Kak Riska?" Tanya Arta heran.


"Tadi Pagi Riska ke sini, jadi Mami tanya sama dia Apakah kamu bersikap baik dengannya dan dia jawab kamu bersikap baik padanya" jawab Vivita tersenyum kepada Arta.


"Ooo *j*adi tadi pagi dia ke sini " batin Arta.


"Arta" panggil Vivita.


"Iya Mi" jawabnya.


"Mami harap kamu bisa menjalani kehidupan rumah tangga kamu dengan bahagia bersama Riska. Mami tahu kamu masih sangat muda tapi kamu sudah menjadi seorang suami nak. Jadi kamu harus bisa menjadi kepala keluarga yang baik untuk keluagamu nanti" kata Vivita memberi nasehat pada Arta. Ia tahu pasti Arta belum siap untuk menjalani sebuah pernikahan, apalagi pernikahan itu di lakukan karena terpaksa. Sebagai seorang Ibu sebisa mungkin Vivita memberikan wejangan yang bijak untuk anaknya.


"Iya Mi, Arta akan berusaha jadi kepala keluarga yang baik untuk keluarga Arta" jawab Arta.


jangan pelit-pelit ya buat like, komen, vote dan kasih hadiah buat author😄

__ADS_1


__ADS_2