
Riska yang berada tepat di bawah Bu Tika langsung syok. Merasa mual dan kepalanya terasa keleyengan setelah menghirup gas mematikan itu. Benar-benar busuk. Malang sekali nasib Riska harus merasakan bagaimana busuknya gas Bu Tika.
Tak kuat karna terlalu banyak menghirup gas dari Bu Tika, tubuh Riska menjadi oleng dan tak sanggup lagi menahan beban yang ada di atasnya.
Bruukkk... bruukkkk...
Menara manusia yang susah payah di buat para ibu-ibu no secret runtuh seketika karna Riska yang berfungsi sebagai penahan di bawah pingsan.
"Aduuhh... pinggangku" pekik Bu Erna, pinggangnya serasa patah karna terjatuh.
"Astagfirullah dek Riska" teriak Bu Tika yang melihat Riska tak berdaya setelah tertimpa tubuhnya.
Bu Tika segera bangun dari tubuh Riska, wajahnya nampak khawatir saat melihat keadaan gadis malang itu.
Riska tidak bisa bergerak, badannya terasa remuk karna tertimpa tubuh besar Bu Tika.
Kepalanya juga terasa sakit dan pusing, ia melihat seperti ada banyak burung yang berterbangan di atas kepalanya.
"Apa dek Riska baik-baik saja? Maafkan saya dek Riska, saya benar-benar tidak sengaja" ucap Bu Tika menyesal karna gara-gara tertimpa tubuhnya Riska jadi seperti itu.
"Kenapa dengan Riska?" Tanya Bu Erna panik saat melihat kondisi Riska. Gadis itu terlihat begitu menyedihkan.
Bu Erna sangat khawatir dengan Riska. Gadis itu tidak bergerak sama sekali dengan mata yang terbuka. Terlihat seperti orang yang mati karna terkena azab. Sadis memang.
"Saya juga tidak tahu Bu Erna, setelah jatuh tadi dia jadi seperti ini" kata Tika. Entah ia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu Hanya Tuhan dan Bu Tika lah yang tahu akan hal itu.
"Dek Riska, sadar dek Riska" ucap Bu Erna menepuk-nepuk pipi malang itu.
Riska tidak merespon ucapan Bu Erna, ia masih sangat syok dengan kejadian tadi. Penglihatannya menjadi gelap, ia pun memejamkan matanya.
__ADS_1
Melihat mata Riska terpejam, para ibu-ibu no secret tambah panik. Mereka langsung menggontong tubuh Riska ke pinggir lapangan takut terjadi sesuatu dengan gadis itu.
Riska membuka kedua kelopak matanya pelan, ia mengerjap perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
Gadis itu memandangi sekitarnya ternyata ia sedang berada di kamarnya. Riska memijat kepalanya yang terasa sakit, gadis itu teringat akan kejadian di mana tadi dirinya pingsan karna tertimpa Bu Tika.
Riska mengumpat dalam hati, ia benar-benar kesal dengan Bu Tika. Si biang gosip yang tidak punya akhlak itu membuang gas sembarangan, mengakibatkan ia harus merasakan bagaimana sedapnya mencium aroma gas alami Bu Tika.
Benar-benar sial, kemarin Riska menghirup gas mematikan Yuli sahabatnya dan hari ini ia harus kembali menghirup gas mematikan Bu Tika. Apa hidup Riska hanya untuk mencium kentut mereka.
Jika saja aroma gasnya seharum bunga mawar mungkin akan dengan senang hati Riska menghirupnya. Tapi sayang aromanya ternyata bagai bunga bangkai, sangat busuk. Mengingat aromanya saja membual Riska kembali mual, apalagi sampai kembali menciumnya mungkin Riska akan langsung pingsan. Itu Bu Tika habis makan apa sih sampai bau gasnya sebusuk itu? Pikir Riska.
"Apa kamu sudah sadar? Apa ada yang sakit? Mana yang sakit?" Tanya Arta beruntun. Khawatiran jelas terlihat di wajah tampannya yang masih tertutup make up.
Arta menatap intens Riska, memastikan gadis itu baik-baik saja. Takut Riska lecet atau terluka.
Riska mengangukkan kepalanya "Tidak ada yang sakit, aku baik-baik saja" jawab Riska, merasa risih dengan tatapan Arta padanya.
Entah kenapa Arta sangat khawatir dengan keadaan Riska. Ada perasaan cemas kala melihat gadis itu pingsan.
Riska mencoba bangun dari posisinya, ia ingin pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, karna saat ini kandung kemihnya sudah terasa penuh.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak boleh bangun, kata dokter kamu harus istirahat" kata Arta terkejut melihat Riska bangun dari posisinya berbaring.
"Aku hanya ingin ke kamar mandi" ucap Riska mencoba berdiri tapi kepalanya masih terasa pusing. Riska pun oleng tapi dengan sigap Arta menangkap tubuh ramping itu agar tidak jatuh ke lantai.
"Biar aku bantu" kata Arta.
Riska mengangguk "Terserahlah" jawabnya cuek.
__ADS_1
Arta pun langsung membantu gadis itu, menuntunnya ke kamar mandi.
Riska sudah tidak peduli, saat ini yang ia inginkan adalah segera ke kamar mandi dan menuntaskan panggilan alamnya itu.
Riska sudah tidak sanggup lagi menahannya terlalu lama, bisa-bisa ia kencing di celana.
"Pergilah" kata Riska setelah mereka sampai di kamar mandi.
"Baiklah, aku akan menunggu di luar" jawab Arta.
"Tidak perlu menungguku. Pergilah ke kamarmu, aku sudah tidak apa-apa" ucap Riska menyuruh Arta pergi dari kamarnya.
"Apa kau yakin?" Sahut Arta.
"Iya, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir" kata Riska.
"Eemm baiklah kalau begitu, jika kau butuh sesuatu panggil saja aku. Aku ada di kamar" kata Arta.
"Iya" jawab Riska.
Arta pun berlalu keluar dari kamar mandi dan meninggalkan kamar Riska menuju ke kamarnya.
Hahahaha....
Tawa Riska langsung pecah setelah kepergian Arta.
Novel ini belum di kontrak, harap para pembaca menambahkan ke favorite karna takutnya setelah mendapat kontarak judulnya akan berubah dan kemungkinan kalian akan kesulitan untuk menemukan judul baru dari novel ini.
Atau kalian bisa memfollow Author untuk terus bisa mengikuti kelanjutan cerita dari novel ini.
__ADS_1
Caranya, kalian Follow Author kemudian klik profilnya maka akan muncul novel-novel karya Author.