
Riska berjalan menuju kulkasnya, ia ingin melihat bahan apa saja yang ada di sana agar bisa ia masak untuk sarapannya pagi ini.
"Masak apa ya?" Katanya berbicara sendiri setelah membuka kulkas.
Riska melihat hanya ada telur, sosis, sedikit sayur, dan juga 1 buah wortel yang ada dalam kulkasnya saat ini.
Kemarin Riska sangat sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Ryo hingga dirinya sampai lupa jika belum berbelanja untuk keperluan masak di apartemen.
"Ya ampun, gara-gara sibuk nyiapin acara kemarin, gue sampai lupa belanja bahan makanan" kata Riska menepuk jidatnya, ketika melihat seluruh isi kulkasnya yang nampak kosong.
"Untung masih ada sayur, telor, sama sosis. Ya udah gue masak nasi goreng aja deh biar cepet. Dan seingat gue kayaknya masih ada sisa nasi kemarin malam deh" gumamnya.
"Nanti setelah pulang kuliah baru gue belanja" lanjutnya lagi. Ia pun mengambil sayur, sosis serta telor yang masih tersisa itu.
Riska membawa semua bahan itu untuk di masak. Ia memegang telor di tangan kanannya sementara sayur beserta bahan lain di tangan satunya. Kemudian Riska menutup pintu kulkas menggunakan kakinya.
Saat melewati tempat sampah, tanpa sengaja Riska menginjak benda licin dan
Bruuukkk...
Riska jatuh terpeleset, semua sayuran yang di bawanya melayang di udara, bagaikan gerakkan slowmotion.
"Aawwww..." pekik Riska saat pantatnya mendarat sempurna di lantai.
Puk...puk...
Telur beserta sayur jatuh tepat di atas kepalanya.
Telur itu langsung pecah tak berbentuk lagi, isinya meleleh di rambut Riska dan jangan lupakan sayur sawi yang juga jatuh tepat di atas kepalanya, membuatnya terlihat seperti sedang memakai wig sayur. Sedangkan bahan yang lain jatuh entah kemana.
"Arta...Sialannn..." teriak Riska menggema ke seluruh gedung apartemen, saat tahu dirinya menginjak kulit pisang yang kemarin di buang Arta sembarangan.
Teriakkannya membuat gedung apartemen itu berguncang seperti terkena gempa bumi. Para penghuni apartemen di sana langsung berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.
"Ada apa ini? Kenapa semua jadi bergerak begini?" Tanya salah satu penghuni apartemen panik pada penghuni lain saat mereka sudah keluar dari apartemen.
"Sepertinya sedang terjadi gempa bumi Bu" Jawab penghuni lain.
__ADS_1
"Iya, sepertinya ini gempa bumi" sahut yang lainnya juga.
Setelah di rasa situasi mulai aman, mereka semua lalu kembali masuk ke apartemen masing-masing.
***
Sementara itu di dalam mobil menuju sekolah, Arta terbatuk karena tersedak air liurnya sendiri.
Uhuk uhuk uhuk...
Arta yang menyetir langsung menepikan mobilnya. Ia takut kosentrasinya terganggu karena batuk dan membahayakan para pengendara lain.
"Kamu kenapa Beb?" Tanya Rissa yang melihat Arta batuk-batuk.
Rissa lalu membantu menepuk-nepuk punggung Arta berharap bisa meredakan batuknya.
"Gak tahu Sa, uhuk..uhuk... kayaknya ada yang lagi ngomongin aku deh" kata Arta masih sedikit batuk. Arta merasa bingung kenapa ia bisa tersedak air liurnya sendiri.
Konon kata orang tua jaman dulu, jika kita tersedak air liur sendiri itu artinya ada seseorang yang sedang membicarakan kita saat ini.
"Masa sih? Siapa yang berani ngomongin kamu Beb? Awas aja kalau dia sampai ngomongin yang jelek-jelek tentang kamu. Kalau sampai aku tahu orangnya, aku olek dia biar jadi sambel terasi" Kata Rissa kesal, tanpa sadar menepuk punggung Arta terlalu keras.
Setelah merasa batuknya reda, Arta kembali melajukan mobilnya menuju sekolah.
***
Di apartemen
Riska benar-benar sangat kesal saat mengetahui penyebab dia terpeleset adalah kulit pisang yang kemarin di buang sembarangan oleh Arta.
"Dasar Arta kampret, buang kulit pisang sembarangan, kan jadi gue yang kena imbasnya. Mana kaki sama pantat gue sakit banget lagi" Riska mendumel kesal dan segera bangun dari tempatnya terpeleset seraya membuang kulit telur serta sayuran yang berada di kepalanya.
Riska bergegas pergi ke kamarnya walaupun dengan langkah yang pincang. Ia harus segera mandi, membersihkan bau amis telur yang menempel di kepalanya.
Setelah lebih dari 15 menit berada di kamar mandi, Riska akhirnya selesai dengan mandinya. Ia langsung memakai pakaiannya serta memoles sedikit wajahnya dengan make up tipis agar terlihat lebih cantik dan segar.
Riska memutuskan tidak jadi membuat sarapan dan langsung pergi ke kampus karena ia takut akan terlambat ke kampus jika harus kembali memasak.
__ADS_1
Kaki Riska masih terasa sakit membuatnya sulit untuk menyetir. Dia pun terpaksa memesan taksi untuk berangkat ke kampusnya.
Sesampainya di kampus Riska langsung di sambut oleh Sonia dan Yuli yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Kenapa lo lama banget Ca? Terus kenapa lo naik taksi?" Tanya Sonia yang melihat Riska turun dari taksi.
Riska menghampiri Sonia dan Yuli.
"Udah, mending kita ke kelas dulu. Bentar lagi dosen bakal masuk, nanti kita telat lagi" kata Riska tanpa menjawab pertanyaan Sonia.
Mereka bertiga akhirnya langsung menuju kelas karena memang sebentar lagi kelas akan segera di mulai.
Benar saja apa yang dikatakan Riska, setelah mereka masuk ke kelas tak berapa lama dosen pengajar juga masuk ke kelas mereka dan langsung memulai pelajaran.
***
"Eeh Ca, dari tadi gue perhatiin jalan lo kok kayak aneh gitu?" Kata Yuli penasaran.
Kini mereka bertiga sedang berjalan keluar kelas, setelah beberapa saat lalu kelas usai dan dosen meninggalkan kelas mereka.
"Iya Ca, jalan lo kayak orang pincang. Kaki lo sakit?" Tanya Sonia juga, yang sedari tadi juga penasaran dengan jalan Riska yang tidak seperti biasanya.
"Nanti gue ceritain kenapa jalan gue bisa kaya gini. Mending kita cari makan dulu, gue udah laper banget nih. Soalnya tadi pagi gue gak sempet sarapan" kata Riska.
"Ya udah deh, gue juga udah laper. Tapi ingat, lo harus cerita sama kita Ca" kata Sonia.
"Iya bawel" jawab Riska mencubit gemas pipi Sonia yang tembem.
Sonia yang mendapat cubitan dari Riska, langsung menggerucutkan bibirnya, kesal.
Sedangkan Riska dan Yuli terkikik geli melihat ekspresi lucu Sonia.
Mereka bertiga lalu pergi menuju gerobak makan Bang Jono yang biasa mangkal di depan kampus mereka.
Sedikit tentang Bang Jono, Dia adalah seorang penjual makanan. Laki-laki paruh baya itu menjual beberapa menu makan seperti bakso, mie ayam dan juga nasi goreng. Tapi yang menjadi menu favorite Riska dan kedua sahabatnya adalah bakso buatan Bang Jono. Rasa bakso Bang Jono sangat enak sangat berbeda dengan bakso lain dan cara pembuatannya juga sangat mengutamakan kebersihan. Itu lah yang membuat mereka bertiga selalu makan di tempat Bang Jono.
Dulu saat masih sekolah SMA, Riska dan kedua sahabatnya Sonia dan Yuli sangat penasaran kenapa rasa bakso Bang Jono sangat enak, sangat berbeda dari bakso yang bisa mereka makan di penjual lain. Akhirnya karena rasa penasaran, Riska dan kedua sahabatnya diam-diam mengikuti Bang Jono saat mengolah bakso dagangannya di rumahnya. Dan dari situ lah mereka tahu jika Bang Jono selalu mengutamakan kebersihan makanan buatannya untuk para pelanggan.
__ADS_1
Oleh karena itu Riska dan kedua sahabatnya sudah menjadikan bakso Bang Jono sebagai langganan mereka sejak SMA. Karena letak kampus dan SMA mereka memang berseberangan.
Ingat jangan pelit buat kasih like dan komen😁