Bukan Pasangan Biasa

Bukan Pasangan Biasa
Eps 06 (Pengumuman perjodohan)


__ADS_3

"Iya boing, bocah ingusan kaya kamu!" kata Riska sambil tertawa.


"Enak aja kamu ngatain aku bocah ingusan" kesal Arta di sebut bocah ingusan. Meskipun masih bocah tapi Arta termasuk cowok tertampan dan terfamous di sekolahnya. Para wanita pasti tergila-gila saat melihat wajah tampanya.


Tiba-tiba saja muncul ide untuk mengoda Riska. "Bocah-bocah gini aku bisa bikin kamu bunting lho" kata Arta semakin mendekat ke arah Riska seakan ingin melahap Riska detik ini juga.


"Mau coba bagaimana kuatnya bocah ingusan" lanjut Arta lagi masih menggoda Riska.


"Eeh awas ya kalau kamu macam-macam, kita sudah sepakat untuk tidak tidur bersama" kata Riska sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Khawatir Arta akan berbuat yang tidak-tidak padanya.


"hahaha...Baru gitu aja takut, apalagi kalau sampai beneran aku makan, pasti auto nangis" kata Arta tertawa mengejek kala melihat ekspresi Riska yang tampak ketakutan. Ia lalu menjauhkan tubuhnya.


"Siapa bilang aku takut, aku itu hanya waspada mungkin saja nanti kamu khilaf. Secara kan aku cantik" kata Riska menyombongkan dirinya dan mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Cih percaya diri sekali dia" gumam Arta.


"Apa kamu bilang?" kata Riska yang mendengar gumaman Arta tapi tidak terlalu jelas.


"Gak kok, aku gak bilang apa-apa" jawabnya.


"Baiklah aku sudah selesai, bagaimana denganmu? Apa yang ingin kamu katakan?" kata Arta kembali ke topik pembahasan mereka.


"Oke balik lagi ke kesepakatan kita. Aku hanya ingin mengatakan jika kita akan tinggal di apertemenku ini" kata Riska, mengatakan tujuannya berbicara dengan Arta.


"Kenapa kita harus tinggal di apertemen ini? Kenapa tidak tinggal di apertemenku saja yang ada di daerah A? Apertemen di sana jauh lebih besar dari pada di sini?" Tanya Arta heran.


Arta memang memiliki apertemen mewah di daerah A. Ia membeli apartemen itu dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri.


"Gak, aku gak mau tinggal di apertemen kamu. Itu terlalu jauh dengan kampus dan juga itu berlawanan arah dengan kantor Papa. Jadi aku ingin kita tinggal di sini" kata Riska.


Selain kuliah Riska juga bekerja di perusahaan Papanya, dia di tunjuk menjadi sekertaris sang Papa. Tujuannya agar ia nanti lebih mudah untuk mempelajari masalah perusahaan.


Arta menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Riska.


"Bener juga sih. Baiklah, kalau begitu kita akan tinggal di apartemen ini, tapi di mana kamar tidurku?" Tanya Arta, ia memperhatikan seluruh sudut apartemen Riska. Karena mereka sudah sepakat untuk tidur terpisah jadi Arta harus punya kamar tidur sendiri.


"Kamu bisa memakai kamar yang ada di lantai atas atau kamar yang berhadapan dengan kamarku, terserah mau yang mana. Aku mau istirahat dulu" kata Riska sambil berlalu menuju kamarnya meninggalkan Arta seorang diri di sana.

__ADS_1


Setelah di pikir-pikir, akhirnya Arta memilih kamar yang berhadapan dengan kamar Riska. Karena ia malas jika harus naik turun tangga setiap hari.


Di dalam kamar


Setelah sampai di kamarnya, Riska langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kesayangannya. Tubuhnya terasa sangat lelah karena acara pernikahan tadi. Matanya menerawang jauh ke atas. Riska masih tidak percaya, jika ia telah menikah dengan seorang anak kecil yang masih berstatus sebagai pelajar SMA. Rasanya ini seperti mimpi, ia berharap cepat terbangun dan bisa menjalani kehidupannya seperti biasanya. Tapi itu semua hanya harapannya saja karena pada kenyataannya ini semua bukan lah mimpi.


Riska ingat saat 3 bulan yang lalu Mama dan Papanya serta kedua orang tua Ryo mengumumkan perjodohannya dengan Ryo. Saat itu sedang diadakan acara makan malam keluarga untuk merayakan hari ulang tahun Arta yang ke-17 tahun. Riska dan kedua orang tuanya di undang untuk menghadiri acara tersebut.


Flashback


"Baiklah, karena semua orang sudah berkumpul di sini. Maka saya akan memberikan pengumuman penting untuk kita semua" ucap Denis, membuat semua orang penasaran.


Mereka semua mulai bertanya-tanya pengumuman penting apa yang akan Denis sampaikan malam ini.


"Kami para orang tua memutuskan untuk menjodohkan Ryo dan juga Riska" lanjut Denis tersenyum bahagia.


Semua orang terlihat bahagia saat mendengar kabar jika Ryo dan Riska akan di jodohkan. Apalagi kedua orang tua Ryo dan Riska mereka tampak sangat bahagia.


Orang tua Ryo dan Riska sudah lama merencanakan perjodohan Ryo dan Riska. Bahkan perjodohan mereka sudah di rencanakan sejak mereka kecil. Tapi mereka merahasiakannya dan baru mengatakannya sekarang.


"Iya Martin, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga" kata Denis membalas pelukan Martin.


Para orang tua pun tersenyum bahagia dengan perjodohan itu.


Denis dan Martin sudah lama bersahabat. Bahkan persabatan mereka telah terjalin sejak kecil. Jadi, mereka berniat menjodohkan Ryo dan Riska agar persahabatan mereka tidak putus dan menjalin hubungan keluarga yang baru.


Mendengar kata perjodohan Riska terlihat biasa-biasa saja. Karena sebelum berangkat ke acara itu, ia telah di beritahu Martin dan Devi jika ia akan di jodohkan dengan Ryo anak dari sahabat Papanya.


Awalnya Riska sangat terkejut kala mendengar jika ia akan dijodohkan dengan Ryo. Meskipun Riska dan Ryo sudah saling kenal lama tapi menurutnya perjodohan ini terlalu tiba-tiba dan terburu-buru. Apalagi di jaman modern seperti ini perjodohan tidak lagi di lakukan.


Tetapi Riska tidak bisa menolak permintaan orang tua angkatnya yang sudah membesarkannya sejak kecil. sekitar umur 5 tahun Riska di adopsi oleh Martin dan Devi. Bahkan kedua orang tuanya memperlakukannya dengan sangat baik seperti anak mereka sendiri. Membuat Riska tidak bisa menolak perjodohan ini. Anggaplah ini sebagai balas budi atas kebaikan kedua orang tuanya yang telah membesarkannya sedari kecil.


Berbeda dengan Ryo, ia nampak sangat terkejut dengan perjodohan itu. Sepertinya Ryo belum mengetahui jika ia akan dijodohkan dengan Riska.


Setelah acara makan malam selesai, Ryo menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berbincang dengan para kerabatnya.


"Pa, Ma. Abang ingin bicara sesuatu!" Ucap Ryo pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Sebentar ya, saya tinggal dulu. Ayo Mi!" Kata Denis, pamit kepada kerabatnya.


Kini Ryo dan kedua orang tuanya sudah berada di halaman belakang rumah, tepatnya di sebuah gazebo tempat untuk bersantai keluarga.


Ryo duduk berhadapan dengan Denis dan Vivita.


"Kamu ingin bicara apa Ryo?" Tanya Denis.


"Kenapa Mami dan Papi menjodohkanku dengan Riska? Mami dan Papi pasti tahu jika Riska hanya anak angkat dari Om Martin dan Tante Devi" kata Ryo.


"Mi, Pi. Aku tidak ingin menikah dengan anak pungut itu, pokoknya aku gak mau menikah dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya" ucap Ryo kesal.


Mendengar Ryo menghina anak sahabatnya membuat Denis marah.


"Derryo!!!" Bentak Denis. Ia tidak menyangka anaknya akan berkata seperti itu, terhadap anak angkat sahabatnya.


"Tenang Pi, nanti penyakit Papi kambuh lagi" kata Vivita mengkhawatirkan keadaan suaminya.


"Ryo kamu tidak boleh berbicara seperti itu terhadap Riska. Papi tidak mau tahu, pokoknya kamu harus menikah dengan Riska. Tidak ada bantahan" ucap Denis dengan tegas.


"Aku tidak mau Pi. Sampai kapan pun aku tidak akan mau melakukan pernikahan ini. Titikk..!" Setelah berkata seperti itu Ryo langsung masuk kembali ke dalam rumah. Meninggalkan kedua orangtuanya yang masih marah kepadanya.


Di dalam rumah Ryo melihat Riska yang berjalan menuju tempat acara makan malam, sepertinya Riska baru saja dari toilet.


Ryo langsung menarik tangan Riska dan membawanya ke tempat yang sepi agar tidak menarik perhatian orang-orang.


.


.


.


Hai para reaters (Readers tersayang) jangan lupa untuk like dan komen ya.


Author sangat berterimakasih bagi yang sudah memberikan like dan komennya.


Dan juga Author butuh bantuan para reaters buat promosiin karya Author ini biar pembacanya tambah banyak😄.

__ADS_1


__ADS_2