
Seperti pagi ini mereka semua telah berkumpul di meja makan sedang menikmati sarapan.
Sarapan pagi ini berjalan dengan lancar. Setelah sarapan Riska memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi rumah besar itu, ia merasa bosan berada di sana karena hari ini adalah wekend jadi seharian ini ia hanya berada di rumah. Sebenarnya Riska ingin keluar jalan-jalan bersama sahabat-sahabatnya seperti biasanya ketika wekend pasti mereka bertiga akan hang out bareng, tapi berhubung saat ini ia menginap di rumah mertua jadinya Riska memutuskan untuk tetap berada di rumah, kan tidak sopan ketika kita menginap di rumah mertua tapi kita malah keluyuran tidak jelas, minimal supaya terlihat sebagai menantu yang baik kita harus tetap berada di rumah walaupun tidak bisa membantu apa-apa.
Riska berjalan-jalan sendiri di rumah besar dan mewah itu, bahkan saking besar rumahnya mungkin bisa membutuhkan waktu setengah hari untuk bisa menjelajahinya dan jika tidak beruntung bisa-bisa tersesat. Karena saking besarnya anggap lah seperti itu, ingat ya ini dunia halu jadi bebas.
Riska masih sibuk mengelilingi dan menjelajahi selok beluk rumah besar itu, beruntung ia sudah pernah beberapa kali berkunjung ke sana jadi sedikit hafal dengan seluk beloknya.
Riska menghentikan langkahnya, ia melirik ke sebuah ruangan yang memiliki pintu berwana coklat, Riska penasaran kenapa setiap kali ia berkunjung ke rumah ini pintu ruangan itu selalu terkunci dan tidak pernah di buka, sedangkan pintu-pintu ruangan yang lain selalu bisa di buka. Kenapa ruangan berpintu coklat itu selalu di tutup dan di kunci. Ia tidak pernah melihat pintu ruangan itu terbuka.
Karena rasa penasaran Riska mendekati ruangan misterius itu. Jiwa ke kepoannya meronta-ronta, ada apa gerangan di dalam sana sehingga pintu ruangan itu selalu di kunci. Bahkan Riska tidak pernah melihat satu orang pun masuk ke dalam sana, sepertinya ruangan itu mempunyai rahasia yang mungkin tidak boleh di ketahui oleh orang lain. Apakah keluarga ini menyimpan sesuatu yang berharga di dalam sana sehingga ruangan itu selalu di kunci atau mereka menyembunyikan sesuatu di ruangan itu? Atau jangan-jangan mereka telah melakukan tindak kejahatan dan menyembunyikan barang bukti di ruangan itu seperti film-film yang biasa Riska tonton.
Ah sepertinya Riska terlalu banyak menononton film misteri. Riska mulai memperhatikan sekelilingnya yang telihat sepi, rumah ini begitu luas dan megah. Riska mulai nething (negatif thinking), Ia mulai curiga apa jangan-jangan semua kekayaan mertuanya ini adalah hasil dari pesugihan dan mereka menyembunyikan semua sesajinnya di dalam ruangan itu sehingga ruangan itu selalu di kunci agar orang lain tidak mengetahui apa telah mereka lakukan di sana. Ah sepertinya Riska lupa jika mertuanya adalah seorang pengusaha yang sangat sukses, jadi mana mungkin semua kekayaan ini hasil pesugihan. Riska ada-ada saja.
Riska melangkahkan kakinya mendekati rungan berpintu coklat itu, di lirik kanan dan kirinya merasa tidak ada orang ia lalu meraih handle pintu itu dan memutarnya pelan-pelan.
"Apa yang kamu lakukan?" Tegur seseorang tiba-tiba membuat Riska terpekik kaget dan refleks melepaskan handle pintu yang tadi depegangnya. Riska lalu membalikkan tubuhnya dan terlihat lah Vivita ibu mertuanya yang memandangnya penuh curiga.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini Ca?" Tanyanya lagi.
"Ng ng ngak ada kok Mi, ngak ngapa ngapain. Ica cuma bosan aja jadi memutuskan untuk berkeliling" jawab Riska gugup, ia takut Vivita akan marah padanya jika tahu dirinya mencoba membuka ruangan misterius itu.
"Ooohhh..." Vivita tersenyum mendengar jawaban sang menantu, sebenarnya ia tahu jika tadi Riska mencoba membuka ruangan berpintu coklat itu, tapi ia hanya diam, Vivita tidak ingin membuat Riska menjadi tidak nyaman dengannya.
"Fiuhhh... untung aja gak ketahuan. Tapi gue penasaran kenapa ruangan itu selalu di kunci ya. Ada apa sebenarnya di ruangan itu?" Batin Riska masih saja penasaran, jika saja tadi Vivita tidak datang mungkin ia bisa masuk ke sana mencari tahu isi dari ruangan itu. Apakah benar seperti dugaannya jika mertuanya melakukan pesugihan di salam sana. Riska terus berpikiran yang tidak-tidak.
Sebenarnya ruangan tersebut adalah sebuah kamar yang sudah bertahun-tahun di kunci dan tidak pernah di buka lagi. Siapun tidak di perbolehkan masuk ke kamar itu baik penghuni rumah maupun pelayan yang ada di sana. Hanya sang pemilik kamar lah yang boleh masuk. Kamar itu menyimpan suatu rahasia yang hanya di ketahui oleh penghuni rumah itu yaitu kelurga Amandinta. Entah apa isi di balik kamar itu hanya mereka yang tahu.
"Gak papa kok Mi" jawabnya " Ica balik ke kamar dulu ya Mi" lanjutnya dan melangkah pergi meninggalkan Vivita dengan rasa penasaran yang masih mengganjal.
Vivita lagi-lagi tersenyum mendengar jawaban menantunya, dia tahu pastinya Riska penasaran dengan isi kamar tersebut, itu semua bisa di lihatnya dari gelagat Riska karena tanpa Riska sadari Vivita telah memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.
Riska melangkah pergi meninggalkan Vivita, tapi baru beberapa langkah ia berhenti dan kembali menghampiri mertuanya itu.
Vivita mengernyit bingung melihat Riska kembali mengghampirinya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanyanya.
Sementara Riska cengengesan tak menentu.
"Maaf Mi, sebenarnya Ica sangat penasaran dengan isi kamar itu" menunjuk kamar berpintu coklat" Apa ada apa sih Mi di dalam sana? kenapa setiap ke rumah ini, Ica tidak pernah melihat pintu kamar itu di buka selalu saja terkunci sedang kamar-kamar yang lain tidak seperti itu" lanjutnya mengungkapkan rasa penasaran yang selama ini mengganjal di hati dan juga pikirannya. Rasanya sudah tidak tahan lagi untuk tidak bertanya dan melihat langsung isi kamar tersebut.
Vivita tertawa mendengar ucapan Riska, ia sudah menduga pasti cepat atau lambat Riska akan bertanya tentang kamar itu.
"Apa kamu benar-benar ingin tahu kenapa kamar ini selalu di kunci?" Tanya Vivita.
"Iya Mi" jawabnya cepat, ia sudah sangat penasaran dengan isi kamar itu.
"Baiklah kamu tunggu di sini Mami akan segera kembali" ucapnya dan langsung pergi meninggalkan Riska seorang diri di sana.
Sepeninggal Vivita suasana di sana berubah sedikit mencekam.
"Kok gue jadi merinding ya?" Ucapnya bergidik ngeri merasakan bulu-bulu di tubuhnya tiba-tiba berdiri.
__ADS_1