
Tak berapa lama Vivita datang dengan membawa sebuah kunci di tangannya, ia lalu membuka pintu ruangan itu dengan kunci yang tadi di bawanya.
Ceklek
Pintu ruangan itu terbuka.
"Ayo masuk" ajak Vivita.
Riska pun melangkah masuk ke kamar itu, hal pertama yang di lihatnya adalah sebuah kamar yang cukup luas bercat merah muda dan ada banyak boneka dengan beragam bentuk yang juga berwarna merah muda tersusun rapi di atas tempat tidur dan juga ada banyak mainan yang juga hampir semuanya berwarna merah muda. Ini terlihat seperti kamar seorang anak perempuan. Apakah ini kamar Ibu mertuanya Vivita? Pikir Riska.
"Ini adalah kamar Arta saat dia masih kecil" ucapVivita.
"Whaattt! Ini kamar Arta, yang benar saja" batin Riska terkejut mendengar kamar ini milik Arta. Mana mungkin Arta yang selalu terlihat keren dan cool punya selera seperti ini. Riska sedikit tidak percaya dengan ucapan ibu mertuanya.
Ya kamar ini memang milik Arta, tapi kamar ini sudah lama di tinggalkan oleh pemiliknya. Kamar yang telah bertahun-tahun lamanya di kunci dan tidak pernah lagi di buka. Siapun tidak di perbolehkan masuk ke sana baik itu penghuni rumah maupun para pelayan yang bekerja di rumah itu. Terkecuali Arta, hanya dia lah yang boleh masuk ke kamar itu karena kamar itu memang miliknya. Sesekali dia akan masuk ke kamar itu, entah apa yang di lakukannya di sana tidak ada yang tahu. Mereka semua tidak ada yang berani bertanya kepadanya.
"Kamar ini sudah lama kosong karena Arta tidak mau lagi tidur di kamar ini" lanjut Vivita.
Riska hanya diam mendengarkan Vivita.
__ADS_1
Entah apa yang membuat Arta tidak mau lagi tidur di kamar itu tidak ada yang tahu pasti. Tapi dari yang Vivita tahu penyebab Arta tidak mau lagi tidur di sana adalah karena sewaktu kecil Arta pernah mengalami kejadian buruk, dia pernah menjadi korban bullying oleh teman-temanya.
Akhirnya Vivita menceritakan tentang masa kecil Arta yang mirip seperti anak perempuan. Di mana semua benda yang dia punya harus berwarna pink, mulai dari tempat tidur, baju, mainan dan semua yang di sukainya harus berwarna pink. Arta kecil juga sangat manja dan cengeng, semua kemaunnya harus dituruti, persis seperti anak perempuan.
Bahkan Arta kecil hanya mau berteman dengan anak perempuan, dia tidak mau berteman dengan anak laki-laki seumurannya karena Arta kecil berpikir jika anak laki-laki itu nakal dan jahat, terkecuali Papi dan Abangnya Ryo dan tentunya dirinya sendiri. Jadi, Arta kecil ingin menjadi anak perempuan karena menurutnya perempuan baik, lembut dan tidak jahat sama seperti Maminya.
Vivita sadar, kemungkin semua sifat Arta itu karena saat dulu dirinya mengandung Arta, ia sangat menginginkan seorang anak perempuan. Tapi Tuhan berhendak lain, harapannya tidak sesuai dengan kenyataan yang lahir ternyata seorang anak laki-laki dia lah Arta.
Vivita juga menceritakan tentang masa-masa ketika Arta memasuki taman kanak-kanak. Di mana Arta selalu mengikuti semua anak perempuan di kelasnya untuk di ajaknya berteman, dia juga selalu mengikuti kemanapun mereka pergi.
Mendengar cerita itu membuat Riska langsung terbahak, ia bahkan sampai mengeluarkan air mata, saking lucunya. Ia tidak menyangka ternyata di balik ketampanannya, Arta memiliki sifat yang seperti itu.
Tiba-tiba Riska menyunggingkan senyumnya. Ini benar-benar berita yang luar biasa, dengan ini Riska bisa membalas perlakuan Arta tadi pagi kepadanya. Ia akan mengolok-olok Arta dengan ini semua.
"Iya, bahkan dengan tidak tahu malunya Arta sampai menunggu mereka di depan pintu toilet" jelas Vivita.
Ya Arta kecil sampai mengikuti mereka masuk ke toilet khusus wanita sehingga membuat semua teman-temannya kesal. Bahkan parahnya lagi dengan tidak tahu malunya Arta kecil menunggu mereka di depan pintu toilet, membuat mereka semua kesal dan jengkel dengan tingkah Arta.
Vivita tersenyum kala mengingat semua tingkah Arta kecil yang menurutnya sangat mengemaskan.
__ADS_1
Riska kembali terbahak bahkan mukanya sampai memerah karena terlalu banyak tertawa. Tidak hanya lembek ternyata Arta kecil juga sangat mesum. Ah pantas saja tadi pagi Arta bisa menggodanya.
"Tapi kenapa sekarang Arta berubah Mi? Dia yang sekarang benar-benar berbeda dari yang Mami ceritakan" tanyanya penasaran.
"Ooh itu karena saat Arta duduk di sekolah dasar dia pernah jadi korban bullying oleh teman-teman sekelasnya" kata Vivita raut wajahnya berubah sedih.
Vivita pun kembali menceritakan tentang masa kecil Arta yang pernah mengalami pembulian.
Flashback
Terlihat seorang anak laki-laki tengah berdiri di depan gedung sekolahnya. Cukup lama anak laki-laki itu berdiri di sana, sepertinya dia sedang menunggu jemputan.
Keadaan sekolah sudah mulai sepi, semua teman-teman sekolahnya sudah pulang ke rumah masing-masing karena bel pulang yang memang sudah lama berbunyi.
Anak itu menghembuskan napas kasar. Di liriknya kembali jalan yang biasa di lalui oleh orang suruhan orang tuanya yang biasa menjemputnya, tapi nihil orang tersebut tidak juga menunjukkan batang hidungnya.
Sesekali dia mengusap peluh yang mengalir di dahinya. Ya hari ini matahari bersinar sangat terik, bahkan matahari sudah tepat berada di atas ubun-ubun.
Anak itu masih tetap berdiri di tempatnya dengan perasaan jengkel. Kenapa orang suruhan orang tuanya terlambat menjemputnya, tidak tahu kah dia jika dirinya sudah sangat kepanasan dan lelah. Apalagi perutnya mulai keroncongan minta di isi.
__ADS_1
Ya anak lak-laki itu adalah Arta yang sedang menunggu sopirnya untuk menjemputnya. Tapi sampai sekarang sopirnya itu belum juga datang.
Dari kejauhan terlihat 4 orang anak laki-laki berjalan ke arahnya.