Bukan Pasangan Biasa

Bukan Pasangan Biasa
Eps 27 ( Tidur sekamar)


__ADS_3

Karna merasa malu sendiri, gadis itu segera mencari alasan agar ia terlihat tidak terlalu memalukan di depan bocah.


"Ya ini memang kamar kamu, tapi kan sebagai cowok kamu harusnya mengalah sama cewek. Kita sudah sepakat untuk tidur terpisah, jadi sebaiknya kamu tidur di kamar lain. Di rumah sebesar ini pasti masih banyak kan kamar kosong jadi kamu bisa tidur di sana" kata Riska.


Arta menghela napas panjang. Bagaimana mungkin Riska menyuruhnya untuk tidur di kamar lain, jika Mami dan Papinya tahu mereka tidur terpisah bisa habis hidup mereka berdua.


"Kamu ini gimana sih? Bagaima jika nanti Mami sama Papi liat aku tidur di kamar lain mereka pasti akan bertanya-tanya dan curiga sama kita. Kamu mau Papi sama Mami tahu keadaan pernikahan kita yang sebenarnya?" kata Arta kesal.


Dan seketika perkataan Arta menyadarkan Riska. Benar juga kata Arta, jika nanti mertuanya melihat Arta tidur di kamar lain, sudah di pastikan mereka akan bertanya dan curiga, dan bisa-bisa kesepakatan mereka berdua terbongkar kalau sampai itu terjadi.


"Terus kita harus gimana? Aku gak mau ya tidur sekamar sama kamu" kata Riska kekeh.


"Ya mau gimana lagi. Mau gak mau kita terpaksa harus tidur sekamar malam ini, jika tidak ingin Mami dan Papi tahu kalau kita telah membuat kesepakatan di pernikahan ini" kata Arta dan kembali merebahkan tubuhnya bersiap untuk tidur. Ia benar- benar sangat mengantuk. Ingin sekali cepat-cepat tidur apalagi malam memang sudah cukup larut.


Melihat Arta kembali merebahkan tubuhnya membuat Riska kesal.


"Eeh Arta bangun, ayo bangun" kata Riska mengoyang-goyangkan tubuh Arta.


Arta tidak peduli dengan ocehan Riska, ia memilih diam dan tetap memejamkan matanya.


"Ya udah gini aja, oke kita tidur sekamar malam ini tapi aku gak mau tidur seranjang sama kamu, jadi mending kamu tidur di sofa sana. Meskipun kita tidur sekamar tapi setidaknya kita tidak tidur di ranjang yang sama" kata Riska masih kekeh tidak ingin sekamar dengan Arta.

__ADS_1


Kamar Arta memang memiliki sebuah sofa bersantai yang berada di pojok kamarnya.


Ya walaupun harus tidur sekamar dengan Arta tapi setidaknya mereka tidak tidur di ranjang yang sama. Jika meraka tidur seranjang, Riska takut nanti Arta akan khilaf kepadanya dan berbuat yang tidak-tidak, secara kan dia cantik dan Arta juga tetaplah seorang laki-laki walaupun sering di anggap sebagai anak kecil. Dan yang Riska tahu pasti adalah semua laki-laki itu sama, mereka tidak akan membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Enak saja mau mencari kesepatan darinya, pikir Riska.


"Gak, aku gak mau tidur di sana. Sofa itu terlalu sempit untukku, mending kamu saja yang di sana. Ini kan kamarku jadi seharusnya kamu yang tidur di sofa itu bukan aku" kata Arta.


Walaupun masih sangat muda tapi Arta memiliki tubuh yang cukup tinggi untuk ukuran remaja seusianya. Jadi sofa di kamarnya itu terlalu kecil untuk tubuhnya yang tinggi.


"Kok aku sih? Seharusnya kamu yang tidur di sana. Sebagai seorang laki-laki gentle kamu harusnya mengalah sama wanita" kata Riska tidak ingin kalah.


Mendengar ucapan Riska, Arta mendengus kesal. Tidak ingin berdebat lebih lama Arta memilih mengalah. Ia mengambil salah satu bantal lalu membawanya menuju sofa tersebut.


Sementara itu di sofa Arta terlihat gelisah, ia tidur dengan posisi meringuk. Sofa itu tidak cukup panjang untuk menampung tubuhnya yang tinggi. Arta terus membolak-balikan badannya merasa tidak nyaman tidur di sofa sempit itu. Apalagi pikirannya saat ini sedang kacau kala mengingat perkataan Denis di ruang kerja tadi yang memberinya syarat untuk memberikan seorang cucu menambah Arta semakin tidak bisa memejamkan matanya.


Mata Arta melirik ke arah tempat tidur di mana Riska tengah tertidur lelap disana. Diam-diam ia berjalan ke arah tempat dan mengerak-gerakkan tangannya di depan wajah Riska. Melihat tidak adanya respon dari Riska senyumnya pun langsung terbit, ia berjalan memutari tempat tidur dan pelan-pelan ia merebahkan tubuhnya di samping Riska.


"Enak saja dia menyuruhku untuk tidur di sofa, sedangkan dia malah enak-enak tidur di sini. Ini kan kamarku bukan kamar dia jadi seharusnya aku yang tidur di sini bukan dia" batin Arta. Ia langsung memejamkan matanya karena ia merasa sudah sangat mengantuk dan tak lama Arta pun tertidur.


***


Malam telah berganti dengan pagi, pelan-pelan Riska membuka kedua kelopak matanya. Ia menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya. Matanya melirik ke arah sofa di mana semalam Arta tidur di sana, terlihat sofa itu telah kosong sepertinya Arta sudah bangun lebih dulu dari dirinya. Riska pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


Saat akan berjalan ke kamar mandi tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, terlihat lah Arta masuk dengan tubuh yang penuh dengan keringat sepertinya Arta baru saja selesai berolahraga.


Riska memandang Arta tak berkedip, wajah Arta yang tampan dan penuh keringat membuatnya terlihat sangat seksi. Apalagi baju olahraga yang pas menempel di tubuh Arta yang proporsional membuatnya tidak terlihat seperti anak SMA melainkan terlihat seperti pria dewasa. Walaupun Arta terbilang sangat muda tapi bentuk tubuhnya sudah sama dengan para pria dewasa, badannya yang tinggi dan bentuk tubuhnya yang atletis menambah sepurna ketampanan Arta.


Riska masih diam tak bergeming, ia terpesona melihat ketampanan Arta.


Bahkan Arta tidak segan-segan melepaskan pakaiannya di depan Riska, sehingga terpampanglah tubuh atletis Arta dengan dada yang bidang dan perut yang berbentuk kotak-kotak. Diam-diam Riska mengagumi keindahan tubuh Arta.


"Lap itu iler kamu netes" goda Arta saat melihat Riska tak berkedip memandangnya.


Refleks Riska langsung mengusap mulutnya. Tapi ternyata tidak ada air liur yang menetes di sana, membuatnya seketika tersadar jika ia telah di permainkan oleh Arta.


"Dasar bocah ingusan...!!!" teriak Riska kesal.


Dengan cepat Arta berlari menuju kamar mandi dan langsung menguncinya dari dalam, ia takut terkena amukan singa betina yang baru bangun tidur. Di kamar mandi ia tergelak kala mendengar Riska mendumel tidak jelas di luar sana karena kesal pada dirinya.


***


Pagi ini seperti biasa seluruh keluarga Amandinta sarapan bersama di meja makan. Sudah menjadi tradisi bagi keluarga itu untuk selalu makan bersama baik itu sarapan, makan siang, maupun makan malam. Walau Sesibuk apapun, mereka tetap berusaha untuk meluangkan waktu agar bisa berkumpul dengan keluarga. Bagi mereka waktu yang paling berharga adalah saat bersama keluarga. Tidak ada hal yang paling membahagiakan selain bersama keluarga.


Like dan komennya dong😍

__ADS_1


__ADS_2