
Riska terlihat sangat hebat dalam memadupadankan warna make up ke wajah Arta. Ia sangat tahu warna apa saja yang cocok untuk kulit wajah Arta. Wajah Arta yang tadinya tampan mempesona, kini sedikit demi sedikit berubah menjadi sosok bidadari dari telaga cinta, cantik sekali.
Bayangkan saja wajah Arta yang biasanya rupawan kini berubah menjadi barbie cantik akibat ulah tangan terampil Riska. Ternyata hasil karya Riska tidak terlalu buruk. Buktinya Arta menjadi pria tercantik di antara pasangan yang lain.
Tawa Riska hampir meledak saat melihat wajah Arta yang penuh make up karna ulahnya. Riska akui ternyata Arta cukup cantik memakai make up.
"Kenapa?" Tanya Arta saat melihat Riska seperti menahan tawanya.
Riska menggelengkan kepalanya " tidak apa-apa" jawab Riska memalingkan wajahnya tidak sanggup melihat wajah cantik Arta. Riska ingin sekali tertawa tapi ia mencoba untuk menahannya takut Arta menjadi malu.
Melihat tingkah Riska, Arta merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres. Ia merasa curiga kepada Riska.
Arta mengambil cermin yang ada di dekatnya.
"Jangan..." teriak Riska dan langsung merebut cermin yang berada di tangan Arta.
"Para pasangan di larang melihat wajah mereka saat lomba" ucap Riska menyembunyikan cermin itu kebelakang tubuhnya.
Arta semakin curiga melihat tingkah Riska yang aneh. Jangan-jangan Riska telah melakukan sesuatu pada wajahnya.
"Mana ada peraturan seperti itu" jawab Arta.
"Tentu saja Ada, kau saja tadi yang tidak dengar peraturan itu. Makanya jangan suka melamun" jawab Riska berharap Arta percaya padanya.
Tentu saja Riska berbohong, mana ada peraturan seperti itu. Riska tidak ingin Arta melihat wajah tampannya berubah menjadi barbie cantik, bisa-bisa nanti Arta malu dan langsung menghapus make up yang telah susah-susah Riska buat. Meskipun wajah Arta tertutup make up tapi Riska akui wajah suaminya kecilnya itu masih tetap kelihatan tampan.
Arta tidak semudah itu percaya kepada Riska.
"Cepat kembalikan cerminnya" kata Arta menadahkan tangannya.
"Tidak akan" jawab Riska semakin menyembunyikan cermin itu.
Arta mendengus kesal, kini ia yakin pasti telah terjadi sesuatu pada wajahnya.
Di sisi lain Bu Ember tengah sibuk memoles wajah suaminya Pak Darwin.
__ADS_1
"Aauuwww... sakit Mih" pekik Pak Darwin saat muncung eleyner yang digunakan Bu Ember tanpa sengaja mengenai matanya.
"Maaf maaf Pih, Mami gak sengaja" sesal Bu Ember, saking tergesa-gesanya di kejar waktu Bu Ember kurang hati-hati.
Mata Pak Darwin memerah bahkan air matanya menetes keluar karna rasa perih, membuat make di wajahnya menjadi luntur.
"Astaga jangan nangis dong Pih, luntur ini make upnya" kesal Bu Ember karna suaminya terus menangis menyebabkan riasannya yang di buatnya menjadi rusak.
"Sebenarnya Papi juga gak mau nangis Mih, tapi mata Papi sangat perih" jawab Pak Darwin, air matanya kembali menetes.
"Ck di tahan dong Pih perihnya. Kalau Papi terus menangis begini make upnya jadi rusak. Papi mau kita kalah?" Kata Bu Ember kembali memperbaiki make up suaminya yang sudah hancur.
Wajah Pak Darwin yang tadinya cantik kini berubah menjadi burik karna luntur terkena air matanya.
Pak Darwin mendengus kesal, mudah sekali istrinya itu menyuruhnya untuk menahan perih di matanya, padahal dia sendiri membuat matanya menjadi perih.
"Ya enggak lah Mi, kita harus menang. Papi akan berusaha menahannya" jawab Pak Darwin.
"Bagus, itu baru suami solehah selalu nurut sama istrinya" jawab Bu Ember tersenyum.
Tidak ingin kalah, tanpa babibu lagi Bu Erna juga langsung menggendong suaminya Pak Darwin, menyusul pasangan lain yang sudah lebih dulu di depannya.
Bu Erna tidak peduli lagi dengan make up suaminya yang berantakan, yang terpenting saat ini adalah ia bisa sampai ke finish lebih dulu di bandingkan pasangan yang lain.
"Lebih cepat lagi Kak Riska, pasangan tua itu sudah menyusul kita" ucap Arta yang sesekali menengok ke belakang.
"Iya, aku sedang berusaha" jawab Riska yang tengah menggendong Arta sambil berlari.
Tubuh Arta yang besar dan berat membuat Riska kesulitan untuk berlari.
Sementara itu, tidak butuh waktu lama Bu Ember dengan kekuatan super emak-emaknya sudah bisa menyusul Arta dan Riska, pasangan yang paling unggul saat ini.
"Ayo Mih lebih cepat lagi, kalahkan mereka semua" perintah Pak Darwin yang berada di gendongan Bu Ember.
"Ashiaappp... pegangan yang kuat Pih" kata Bu Ember semakin mempercepat larinya.
__ADS_1
"Kenapa larinya lambat sekali, ayo lebih cepat lagi. Jika lambat begini kita akan kalah" kata Arta kesal melihat Bu Ember dan suaminya sudah berada tepat di belakang mereka.
"Diamlah jangan banyak bergerak, kau itu berat. Kalau tidak kita berdua akan jatuh" geram Riska karna Arta terus bergerak menengok ke belakang.
Apalagi mulut Arta terus mengoceh, menyuruhnya untuk lebih cepat berlari membuat Riska semakin kesal. Arta pikir tubuhnya itu kapas apa hingga Riska mudah menggendongnya.
Mungkin jika yang Riska gendong adalah salah satu adik kembarnya, ia bisa menambah kecepatan larinya. Tapi yang saat ini ia gendong adalah Arta si remaja bertubuh besar. Tubuh Riska saja besar Arta, bagaimana bisa Riska berlari dengan cepat sambil menggendong Arta.
Karna sibuk berdebat, Riska tidak memperhatikan langkahnya dan seketika itu.
Bruukkk...
Arta dan Riska terjatuh. Riska tidak sengaja tersandung kakinya sendiri.
"Hahaha... bye-bye anak kecil" ejek Pak Darwin saat melewati pasangan muda yang terjatuh itu, membuat Arta dan Riska kesal.
Bu Ember dan Pak Darwin menjadi pasangan pertama yang sampai ke finish.
"Ini semua gara-gara kamu" kata Arta menyalahkan Riska.
"Jika saja kamu lebih hati-hati dan tidak jatuh pasti kita yang akan menang" lanjutnya lagi.
"Kenapa kamu malah nyalahin aku? Kamu yang salah, seandainya tadi kamu diam aku pasti gak bakal hilang keseimbangan" balas Riska tidak terima di salahkan.
"Ah sudah lah, aku malas berdebat denganmu" kata Arta kesal dan meninggalkan Riska begitu saja.
Percuma juga mereka berdebat, toh mereka tetap kalah.
Sedangkan Riska merasa kesal menatap kepergian Arta.
Akhirnya pengumuman nama pemenang pun di lakukan. Yang menjadi pemenang di lomba berpasangan ini adalah Bu Rt dan Pak Rt. Mereka mendapatka hadiah dinner romantis di salah satu restoran mewah.
Pasangan suami istri Bu Ember dan Pak Darwin kalah. Walaupun mereka adalah pasangan pertama yang sampai ke finish, tetapi mereka tetap tidak menjadi pemenang.
Penilaian yang di lakukan dari dua aspek membuat pasangan tua itu mengalami kekalahan. Make up di wajah Pak Darwin sangat jelek sehingga mendapat nilai yang rendah membuat mereka kalah di perlombaan ini. Padahal Bu Erna sudah sangat ingin menikmati dinner romantis bersama suaminya di restoran mewah itu. Tapi apalah daya takdir belum berpihak pada mereka, kasihan.
__ADS_1