
"Huuffftt...untung gak telat" gumam Riska seraya mengusap peluh di dahinya karena tadi sempat berlarian mengejar waktu agar tidak terlambat masuk kelas.
Ia pun melangkah menuju kursinya dan mendaratkan b*k*ngnya di sana, napasnya masih ngos-ngosan karena berlari menuju kelasnya.
"Akhirnya si Zubaedah dateng juga" kata Sonia yang berada di sebelah Riska, ia lega melihat kedatangan sahabatnya itu.
Tadi Sonia sangat khawatir karena Riska tak kunjung datang ke kampus. Ia takut sahabatnya itu terlambat masuk kelas, padahal hari ini mereka akan mengadakan kuis untuk menambah nilai mata pelajaran kuliah, jika Riska tidak masuk mungkin satu sahabatnya itu tidak akan dapat gelar sarjana tahun depan karena nilainya di bawah IPK. Apalagi Dosen yang mengajar sangat Killer, dia tidak akan menoleransi dan menerima alasan apapun untuk pembelaan.
"Darimana aja lo Zubaedah baru nongol?" ucap Yuli yang duduk di belakang Riska.
"Bangun kesiangan gue" jawab Riska.
"Tumben lo bangun kesiangan, jangan-jangan tadi malam lo abis ngeronda lagi sama..." kata Yuli menggantung menaik turunkan alisnya" Abis berapa ronde Ca?" Lanjut Yuli.
"Tuyul kampret... kayaknya otak lo bener-bener perlu di laundry" kata Riska melotot dan refleks mentabok Yuli dengan buku di tangannya tapi belum sempat buku itu mendarat di kepala Yuli, Dosen pengajar tiba-tiba masuk dan langsung menyapa mereka semua, membuat Riska mendengus kesal sementara Sonia dan Yuli cekikikan melihat kekesalan Riska.
"Selamat pagi semua" sapa sang Dosen.
"Pagi Pak" jawab mereka serentak dan pelajaran pun langsung di mulai.
Sementara itu di tempat lain, Arta hampir saja terlambat datang ke sekolah. Satpam penjaga telah menutup separuh gerbang sekolah beruntung Arta datang tepat waktu sebelum gerbang itu tertutup sempurna, jika tidak mungkin hari ini ia akan terlambat dan mendapat dua hukuman sekaligus.
Hukuman pertama kerena dia terlambat datang ke sekolah dan hukuman yang kedua karena dia tidak mengumpul tugas. Tapi ternyata hari ini dewi fortuna sedang berpihak padanya, jika tidak kemungkinan hari ini Arta bisa kering karena terlalu lama di jemur di lapangan.
__ADS_1
Arta bernapas lega setelah satpam membuka gerbang, ia pun langsung melajukan mobilnya menuju parkiran dan memarkirkan mobilnya di samping mobil sahabatnya Baim.
Setelah itu Arta langsung bergegas menuju kelasnya.
"Gue kirain hari ini lo gak sekolah Bro" kata Baim menghampiri Arta dan menaruh sesuatu di mejanya.
"Nih buku lo, thanks ya" ucapnya mengembalikan buku catatan Arta yang ia pinjam kemarin.
Arta mendelik melihat buku catatan yang tadi pagi di carinya tengah berada di hadapannya saat ini. Kalang kabut ia mencarinya tapi ternyata Baim yang meminjamnya.
Arta hanya bisa menghela napas kasar walau sebenarnya dirinya sangat ingin marah. Kesal sudah pasti ia rasakan, gara-gara sibuk mencari bukunya hampir saja dirinya terlambat ke sekolah.
Arta tidak bisa memarahi Baim karena tidak semuanya salah sahabatnya itu tapi dirinya juga bersalah. Jelas-jelas kemarin sahabatnya itu telah meminta ijin kepadanya untuk meminjam buku catatannya tapi sepertinya Arta melupakannya. Kenapa akhir-akhir ini Arta jadi sering pelupa, ah sepertinya ia terlalu banyak pikiran.
Bel istirahat baru saja berbunyi, semua siswa siswi langsung berhamburan menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan guna mengembalikan asupan tubuh yang tadi sempat terkuras karena belajar.
"Pelan-pelam makannya Beb, gak bakalan ada yang ngambil makanan kamu kok" kata Rissa terkekeh sembari membersihkan bibir Arta yang terdapat sisa makanan.
"Terimakasih" ucapnya tersenyum pada sang kekasih dan Rissa menganggukkan kepalanya tersenyum menatap Arta.
Ya tadi Arta makan terlalu cepat, ia sangat kelaparan karena sedari pagi belum ada satupun makanan yang masuk ke perutnya. Tadi pagi Arta tidak sempat sarapan karena terlalu sibuk mencari buku catatannya yang hilang, tapi ternyata oh ternyata buku yang di carinya ada pada sahabatnya Baim.
"Ck kalian berdosa banget mesra-mesraan di depan para jomblo" kata Baim dramatis, iri melihat kemesraan di depannya.
__ADS_1
"Ya udah kalau ayang Baim pengen kayak mereka jadian aja sama Yemi biar kita juga bisa mesra-mesraan kayak mereka dan yang pasti ayang Baim gak jomblo lagi karena udah punya Yemi yang cantik ini" ucap Yemi yang berada di sebelah Baim dan langsung bergelayut manja pada sang pujaan hati.
"Idihh... ogah gue, jadian aja sana lo sama Mang Trisno" katanya dan mendorong Yemi dari tubuhnya, ia langsung mengusap-usap lengan yang tadi sempat menjadi sandaran Yemi, seolah-olah jijik. Membuat Yemi mengercutkan bibirnya.
"Eeh gak mau, siapa juga yang mau pacaran sama Mang Trisno. Novi kali tuh yang mau pacaran sama Mang trisno" ucap Yemi kesal.
"Lah kok jadi ke gue, lo kali yang pacaran sama tuh satpam" kata Novi tidak terima.
"Mana ada, orang dia aja biasanya suka genit ke kamu" balas Yemi tak kalah.
Dan perdebatan Mereka tentang siapa yang jadi pacar Mang Trisno pun berlanjut. Mereka berdua sama-sama tidak ingin mengalah memperebutkan siapa yang akan mendapat gelar menjadi kekasih Mang Trisno.
Sedikit tentang Mang Trisno, Dia adalah satpam penjaga gerbang sekolah mereka. Dia punyai kumis yang tebal dan separu kepalanya botak tidak di tumbuhi rambut.
"Beb hari ini temenin aku belanja yah" kata Rissa.
"Kayaknya aku gak bisa nemenin kamu belanja deh Sa karena hari ini aku harus ke cafe ada pekerjaan penting yang harus aku urus. Maaf, lain kali aja yah" bujuk Arta.
"Iya, tapi lain kali janji ya temenin aku belanja" jawabnya, nampak raut kecewa saat mendengan penolakan sang kekasih.
"Iya, aku janji" kata Arta membelai sayang rambut Rissa, membuat kekasihnya itu tersenyum manis.
***
__ADS_1