Bukan Pasangan Biasa

Bukan Pasangan Biasa
Eps 22 (Di rumah sakit)


__ADS_3

"Kebiasaan tuh anak main pergi-pergi aja" ucap Sonia saat melihat Riska meninggalkan mereka begitu saja.


"Kuy Yul kita pergi juga" lanjut Sonia.


"Kemana?" Tanya Yuli.


"Udah lo ikut gue aja" ucap Sonia dan langsung menarik tangan Yuli, dengan pasrah Yuli pun mengikuti Sonia.


***


"Ini, makasih ya Pak" kata Riska menyerahkan uang kepada sopir taksi dan langsung turun dari taksi.


Dengan tergesa-gesa Riska melangkah menuju kamar rawat Denis. Ia berharap tidak terlambat menjemput mertuanya itu.


Saat hampir sampai di depan kamar rawat Denis, Riska di kejutkan oleh seseorang.


"Aakkhhh..." pekik Riska terkejut.


Seorang pria tiba-tiba saja menarik tangannya.


"Astaga Arta kamu bikin kaget aja" Riska mengelus dadanya yang hampir jantungan karena terkejut.


Ternyata pria yang tadi menariknya adalah Arta.


"Ayo kita masuk" kata Arta dan langsung berjalan lebih dulu di ikuti Riska di belakangnya.


Sejak tadi Arta sudah menunggu kedatangan Riska. Ia tidak ingin masuk ke kamar rawat Denis sendirian. Alasannya karna jika Arta masuk sendirian ke sana pasti Mami dan Papinya akan bertanya-tanya tentang Riska dan kenapa Arta tidak bersama gadis itu. Sedangkan Arta malas untuk menjawab semua pertanyaan itu. Jadi lah Arta lebih memilih menunggu Riska di dekat kamar Denis dari pada harus masuk sendirian ke sana.


"Ma, Pa" sapa Arta saat masuk.


Terlihat Vivita dan seorang pelayan wanita sedang mengemasi barang-barang untuk di bawa pulang. Sementara Denis duduk di atas hospital bed.


"Kalian sudah datang" kata Vivita tersenyum ke arah anak dan menantunya.


"Iya Mi, apa Papi sudah boleh pulang


sekarang?" Tanya Arta.


"Iya Papi sudah di perbolehkan pulang. Tapi kita harus menunggu dokter Andrian untuk kembali memeriksa keadaan Papimu, sebelum dia pulang ke rumah" ucap Vivita.


Dokter Andrian merupakan dokter pribadi keluarga Amadinta. Walaupun Andrian masih muda tapi dia adalah dokter yang sangat handal. Andrian sangat dekat dengan keluarga Amadinta, karena Andrian sendiri merupakan sahabat dari Ryo. Tapi sampai sekarang Ryo masih tidak ada kabar.


Arta hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Biar Ica bantu Mi" kata Riska menghampiri Vivita dan langsung membantunya.


"Terima kasih ya Ca. Seneng deh liat menantu Mami ini bantuin Mami" kata Vivita dan di balas senyuman oleh Riska.

__ADS_1


Tak berapa lama seorang dokter muda masuk ke ruangan itu. Sepertinya dia dokter Andrian.


"Halo semuanya" sapa dokter Andrian


"Wowww sepertinya kalian semua sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah" lanjutnya saat melihat mereka sudah berkemas.


"Iya nak Andrian, Saya sudah tidak betah berlama-lama di rumah sakit ini. Saya ingin cepat-cepat pulang ke rumah" kata Denis.


"Baiklah jika Om Denis ingin cepat pulang. Saya akan mengecek keadaan Om dulu baru setelah itu Om boleh pulang" kata dokter Andrian, kemudian ia langsung memeriksa keadaan Denis sambil sesekali memberikan pertanyaan pada Denis.


Riska telah selesai membantu Vivita mengemasi barang mereka untuk di bawa pulang. Akan tetapi tiba-tiba saja perutnya terasa sakit, ia harus segera pergi ke toilet.


"Mi, perut Ica sakit. Ica pergi ke toilet dulu ya" ijinnya pada Vivita.


"Iya, tapi jangan lama-lama ya sayang. sebentar lagi kita akan pulang ke rumah" kata Vivita.


"Iya Mi, Ica gak akan lama kok" sahut Riska


Riska lalu pergi menuju toilet.


"Ahh... akhirnya lega juga" ucapnya kemudian mencuci tangannya di wastafel, setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi.


Setelah mencuci tangannya Riska segera kembali ke ruangan Denis, ia takut semua orang sudah menunggu dirinya.


Di tengah perjalanan tiba-tiba Riska seperti melihat orang yang di kenalnya. Karena penasaran Riska memutuskan untuk menghampiri orang tersebut.


Ternyata mereka adalah si Upin dan Ipin penuh perbedaan alias Abi dan Ferry.


"Kenapa kalian ada di rumah sakit? Siapa yang sakit?" Tanyanya pada dua pria kembar yang beda rupa serta orang tua itu.


Melihat Riska ada di hadapannya, Abi langsung menangis dan memeluk wanita itu.


"Huaaa... Riska. Gara-gara Yuli gigi gue di cabut" adu Abi kepada Riska.


Riska kaget bercampur bingung karena Abi tiba-tiba menangis dan memeluknya. Tapi ia hanya diam tidak berniat untuk membalas pelukan pemuda itu.


Sementara Ferry yang berada di sampingnya hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat kembarnya itu.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka sejak tadi, Kemudian orang itu pergi begitu saja.


"Emang apa yang Yuli lakukan sampai gigi lo harus di cabut?" Tanya Riska setelah melepaskan pelukan Abi.


Gadis itu penasaran, apa yang telah di lakukan salah satu sahabatnya itu kepada Abi, sampai-sampai membuat Abi harus mencabut salah satu giginya.


"Ceritanya tuh gini Ris. Bla bla bla" Ferry menceritakan perihal Yuli yang memberikan saran pada Abi agar Abi bisa sembuh dari sakit gigi. Alhasil bukannya mendapat kesembuhan, tapi gigi Abi malah kena cabut.


Riska tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Ferry.

__ADS_1


"Hahaha... kalian ini gimana sih, Yuli di percaya kayak gak kenal dia aja. Lain kali jangan mau di kibulin sama tuh Tuyul" kata Riska masih dengan tawanya.


Riska heran bagaimana mungkin Abi dan Ferry percaya dengan apa yang di katakan sahabat Absurdnya itu. Dari sifatnya saja sudah keliatan jika Yuli itu tidak bisa di percaya sama sekali.


"Mana kita tahu kalau dia bakal bohongin kita Ris. Seandainya aja kemarin gue tahu kalau dia bohong, gue gak bakalan mau terima saran dari dia. Awas aja kalau nanti gue ketemu sama dia, gue bakal buat Yuli jadi rempeyek" kata Abi geram. Gara-gara Yuli ia harus kembali berurusan dengan dokter gigi. Dan lagi-lagi giginya di cabut.


"Kalo lo Ris, ngapain lo di rumah sakit? Keluarga lo ada yang sakit?" Tanya Ferry.


Mendengar pertanyaan Ferry, Riska langsung menepuk jidatnya, ia teringat akan pesan Vivita untuk tidak terlalu lama ke toilet.


"Astaga gue lupa, tadikan Mami Vivita bilang jangan lama-lama" Riska.


"Guys gue duluan ya. Bye" setelah mengatakan itu Riska langsung meninggalkan Abi dan Ferry tanpa menjawab pertanyaan Ferry.


Riska berlari kecil menuju kamar rawat Denis. Sesampainya di depan kamar, Riska memelankan langkahnya dan segera masuk. Beruntung mertuanya itu belum pulang.


"Nah ini Riskanya sudah datang" ucap Vivita saat melihat Riska masuk.


"Maaf Mi, Pi. Terlalu lama menunggu" ucap Riska menyesal.


"Iya, gak papa kok sayang. Ya sudah karena sekarang kamu sudah datang sebaiknya kita segera pulang" kata Vivita.


Mereka semua lalu pulang ke kediaman keluarga Amadinta.


Sesampainya di rumah mereka di sambut oleh Pak Ko dan para pelayan yang berdiri berjejer menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang kembali Tuan besar dan Nyonya besar" kata Pak Ko membungkukkan badannya di ikuti oleh semua pelayan.


Denis hanya tersenyum dan mengangguk, berjalan melewati Pak Ko dan para pelayan lainnya.


"Selamat datang Tuan Muda, Nona Riska" lanjut Pak Ko.


Riska tersenyum sebagai tanda terimakasih atas sambutan yang di berikan Pak Ko dan pelayan lainnya. Sementara Arta hanya berjalan acuh, ia sudah terbiasa dengan sambutan seperti itu.


Riska melangkahkan kakinya memasuki rumah besar itu. Rumah yang masih terlihat sama seperti saat terakhir kali ia berkunjung ke sana.


Saat itu Riska dan keluarganya menghadiri acara makan malam untuk merayakan ulang tahun Arta yang ke 17 dan di saat itu pula di umumkannya perjodohan Riska dengan Ryo.


Setelah acara perjodohan itu Riska tidak pernah lagi berkunjung ke rumah itu. Vivita memang sering mengajaknya untuk mampir atau sekedar main ke rumah, tapi Riska selalu menolak ajakan Vivita. Ia beralasan banyak tugas kuliah yang harus di kerjakannya.


Padahal kenyataan yang sebenarnya adalah Riska sedang menghidari Ryo, laki-laki yang dulu di jodohkan dengannya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa buat like dan komen💟


__ADS_2