Bukan Pasangan Biasa

Bukan Pasangan Biasa
Eps 58


__ADS_3

Di sebuah restoran yang cukup mewah, Riska terlihat tengah melamun.


"Kamu kenapa Ca?" Ucap Nico melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Riska. "Ica... Riska...!!!" Teriaknya.


"Ah iya, ada apa Kak?" Jawab Riska terkejut.


"Seharusnya Kakak yang nanya sama kamu. Kamu kenapa melamun? Makanan kamu aja sampai gak di makan" ucap Nico.


Riska memperhatikan piring makannya, ternyata benar perkataan Nico sedari tadi ia hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa memakannya sedikitpun.


"Hehehe... Ica gak papa kok Kak" kata Riska cengengesan.


"Kamu sakit?" Tanya Nico lagi.


Riska menggelengkan kepalanya.


"Nggak Kak Nico sayang, Ica baik-baik aja kok" jawab Riska manja menggoda Nico, sedangkan Nico hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah wanita yang sudah dianggapnya sebagai adiknya itu.


Nico heran dengan tingkah Riska akhir-akhir ini yang sering terlihat melamun. Sebuah pertanyaan pun muncul di benaknya, Apakah pernikahan Riska dan Arta tidak bahagia sehingga membuat Riska menjadi seperti ini.


"Kalau begitu cepat habiskan makananmu setelah ini kita langsung kembali ke kantor" ucap Nico dan Riska pun mengangguk.

__ADS_1


Sebenarnya saat ini Riska masih merasa kenyang, sebelum ke kantor Ia sudah makan cukup banyak di cafe Cahaya Ilahi. Tapi karna Nico mengajaknya untuk makan siang bersama Riska pun terpaksa menyetujuinya, rasanya tidak enak menolak ajakan dari Nico. Apalagi Nico adalah laki-laki yang di cintainya, Riska tidak akan membuang kesempatan besar ini, makan bersama dengan seseorang yang kita cintai adalah sesuatu yang sangat membahagiakan bukan.


Walaupun masih kenyang Riska tetap memaksakan dirinya untuk makan. Semua itu ia lakukan sebagai ucapan terima kasihnya atas kebaikan Nico kemarin yang telah membantunya membawakan mobilnya yang mogok ke bengkel.


Selesai makan mereka berdua pun langsung kembali ke kantor.


Sementara itu di dapur cafe Cahaya Ilahi, seorang gadis cantik terlihat tengah sibuk mencuci piring. Di samping gadis itu ada begitu banyak tumpukan piring-piring kotor. Tangannya terus mengosok semua piring-piring itu bahkan jari-jemarinya sudah berubah menjadi keriput karna terlalu lama bersentuhan dengan dinginnya air. Dan jangan lupakan juga mulutnya yang terus komat kamit mengeluarkan sumpah serapah untuk kedua sahabatnya.


Seandainya saja ia tahu akan terjadi hal seperti ini, lebih baik tadi ia memilih menuruti perkataan Mamanya untuk pulang dan makan di rumah bersama dengan keluarganya dari pada ikut makan bersama kedua sahabatnya. Tapi apalah daya nasi telah menjadi bubur, ia harus menerima nasibnya sekarang menjadi tukang cuci piring dadakan demi membayar makanan yang tadi ia dan kedua sahabatnya makan.


Ya gadis itu adalah Yuli, ia harus membayar makanan yang tadi ia dan kedua sahabatnya makan, dengan cara mencuci semua piring-piring kotor di cafe itu sebagai ganti atas makanan yang tadi telah mereka bertiga makan tadi.


Yuli terus menggerutu kesal, sungguh tega sekali Riska dan Sonia meninggalkanya sendiri dan membuatnya harus menanggung semua penderitaan ini. Jangankan untuk membayar makanan yang tadi ia pesan, membeli cd di mall tadi saja Yuli harus meminjam uang kepada Sonia.


Yuli jadi menyesal, kenapa tadi ia harus ikut makan di cafe ini. Padahal saat di perjalan menuju cafe tadi Sonia mengatakan akan mentraktir mereka bertiga.


Oleh karna itu lah Yuli tertarik untuk ikut. Semua itu karena Sonia telah berjanji akan membayar makanan mereka bertiga. Tapi sungguh di luar dugaan ternyata Sonia meninggalkannya tanpa membayar pesenan mereka tadi. Alhasil Yuli lah yang harus membayarnya dengan menjadi tukang pencuci piring dadakan.


Tapi saat ini ada yang lebih mengganggu pikirannya, ia merasa aneh saat teringat akan kejadian tadi di mana ia benar-benar di buat malu oleh Arta. Apakah Arta sungguh tidak mengingat dirinya atau kah hanya pura-pura. Padahal Yuli sudah memberitahukan jika dirinya adalah sahabat Riska istrinya dan mereka juga pernah bertemu di acara pernikahan kemarin. Tapi kenapa saat tadi Yuli meminta bantuan Arta, bocah itu berkata seolah-olah tidak mengenalnya.


Apakah semua itu Arta lakukan karna tadi dia sedang bersama dengan kekasihnya, takut jika pernikahannya dengan Riska akan terbongkar, batin Yuli. Ah sudahlah untuk apa Yuli memikirkan itu semua, itu bukanlah masalah penting untuknya, yang paling terpenting saat ini ialah, ia harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya saat ini dan segera pulang.

__ADS_1


Yuli menelisik seluruh dapur cafe tempatnya saat ini terlihat begitu bersih dan rapi. Ia baru tahu jika kafe ini adalah milik Arta si bocah ingusan, suami dari sahabatnya sendiri Riska. Ternyata tidak seperti dugaannya selama ini, yang berpikir jika Arta adalah bocah manja dan yang selalu mengandalkan kesultanan orang tuanya. Tapi ternyata bocah itu sangat mandiri, di umurnya yang masih terbilang sangat muda dia sudah bisa mendirikan cafenya sendiri. Yuli rasa, Riska sungguh beruntung memiliki Arta. Tidak hanya tampan dan muda tapi Arta juga sangat mandiri dan berpikiran dewasa, begitulah pikir Yuli.


Jika cafe ini benar-benar milik Arta, kenapa Arta tidak menggratiskan makan yang tadi ia dan kedua sahabatnya Riska dan Sonia makan, padahal salah satu dari mereka bertiga adalah istrinya sendiri Riska.


Pprraanggg.....


Sebuah piring terjatuh ke lantai. Saking asiknya mengeksplor isi dapur Cahaya Ilahai Yuli tidak sengaja menjatuhkan piring di tangannya. Tangannya yang licin penuh dengan busa sabun pencuci piring membuat piring itu tak sengaja terlepas dari genggamannya.


"Astaga... kalau kerja itu yang benar dong!" Teriak salah seorang pelayan wanita yang memiliki wajah yang cukup cantik dengan bibir tebal yang seksi.


Ya pelayan wanita itu tahu jika Yuli yang saat ini menjadi tukang pencuci piring dadakan karna tidak sanggup membayar makanannya di cafe tempatnya bekerja saat ini.


"Cih, dasar Amigas, anak miskin gaya sultan. Gayanya aja kayak sultan padahal cuma orang miskin" cibirnya lagi, menghina Yuli. Sepertinya jika di lihat dari pakaian yang pelayan wanita itu kenakan dia adalah seorang asisten koki di cafe itu.


Yuli mengumpat pelan, bisa-bisanya seorang pelayan menghinanya. Ingin sekali ia meremas mulut lemes si pelayan wanita itu agar bibir tebalnya itu jadi duwer sekalian. Yuli benar-benar tidak terima dirinya di hina seperti ini. Andai saja saat ini Yuli punya banyak uang ia pasti akan meleparkan uang tersebut ke wajah pelayan rendahan itu, agar wanita tahu jika dirinya bukanlah orang miskin.


Saat ini Yuli benar-benar kesal dan menyalahkan sang Papi. Kenapa Papinya terlambat mengirim uang bulanan untuknya bulan ini? Jika saja uang bulanannya sudah di transfer pasti Yuli tidak akan mendapat penghinaan seperti ini. Sungguh menjengkelkan.


*Suara Hati Author*


Sebenarnya Author pengen... banget... bisa Update tiap hari kaya Author lain tapi karna likenya punya Author selalu sedikit tiap Update bikin semangat Author jadi down. 😭😭😭

__ADS_1


Coba aja kalau udah baca cerita Author ini di kasih like biar Author semangat gitu lanjutin ceritanya.


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2