Bukan Pasangan Biasa

Bukan Pasangan Biasa
Eps 40 (Lomba berpasangan)


__ADS_3

Setelah selesai bersiap mereka semua lalu bergegas menuju taman yang berada di bawah tempat acara di selenggarakan karna sebentar lagi acara akan di mulai.


Terlihat Arta mengikuti ketiga wanita itu dari belakang. Ia di paksa Bu Erna untuk ikut bersama mereka ke perlombaan itu. Arta mendapat tugas dari Bu Erna untuk menjadi suporter mereka di perlombaan nanti.


Sesampainya di taman tempat acara, sudah banyak orang yang datang. Mereka semua menggunakan kostum serta pakaian yang bermacam-macam tetapi tentu dengan tetap memakai tema kemerdekaan sang merah putih.


Di sana juga tersedia banyak makanan gratis untuk siapapun yang ingin makan. Di tengah-tengah taman sudah berdiri beberapa batang pohon setinggi pohon listrik. Di pohon itu telah banyak digantungi berbagai macam barang barang untuk para tim yang bisa berhasil naik ke atas.


Ya mereka mengadakan lomba panjat pinang. Itu adalah salah satu perlombaan yang menjadi ikon di setiap perayaan hari kemerdekaan. Tanpa adanya lomba panjat pinang ini rasanya seperti ada yang kurang.


Semua orang yang ikut berpartisipasi di acara itu begitu antusias. Mereka semua nampak gembira merayakan hari paling bersejarah sepanjang ini. Tak henti-hentinya mereka menggemmakan lagu kebangsaan negara tercinta ini sebagai bukti akan rasa cintanya terhadap tanah air.


Acara yang juga di hadiri oleh para pejabat setempat itu berlangsung meriah. Para pantia menyelenggarakan banyak lomba untuk memeriahkan acara tersebut. Ada lomba untuk perorangan, berpasangan, kelompok bahkan lomba khusus anak-anak pun juga ada.


Lomba-lomba itu bertujuan untuk meriahkan acara tersebut. Selain itu lomba itu juga bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan, merayakan hari kemerdekaan, meningkatkan rasa cinta kepada tanah air, melatih kerja sama dan kekompakan tim dan masih banyak lagi manfaat yang di dapat dari perlombaan itu.

__ADS_1


Acara di mulai saat pembawa acara membuka acara. Setelah itu beberapa kata sambutan juga di berikan oleh pejabat setempat sebagai bukti penghormatan untuk para pahlawan yang telah berjuang mengorbankan jiwa dan raganya untuk membela negeri tercinta ini.


Acara berlangsung sangat meriah. Lomba demi lomba berjalan dengan lancar dan sempurna. Para penonton dan peserta lomba benar-benar terhibur, menikmati perayaan tersebut.


Para perserta lomba sang kompetitif dalam bersaing. Jika terjadi suatu kecurangan dalam lomba mereka langsung di diskualifikasi tanpa adanya toleransi.


Teriakan demi teriakan penyemangat terus bergemuruh untuk para peserta lomba. Mereka mendukung peserta lomba yang tengah berlomba di tengah lapangan.


Lomba demi lomba telah di lewati. Nama-nama pemenang lomba pun mulai keluar satu persatu. Para pemenang itu mendapatkan berbagai macam hadiah sebagai penghargaan karna telah ikut berpartisipasi dalam memeriahkan acara tersebut.


Riska terlihat sudah mulai kelelahan, ia baru saja menyelesaikan lomba balap karung. Tapi sayang namanya kali ini tidak keluar menjadi pemenang seperti lomba-lomba sebelumnya. Karna tenaganya sudah hampir terkuras abis akibat banyaknya lomba yang di ikutinya. Hampir semua lomba hari ini di ikuti olehnya, semua itu bukan tanpa sebab melainkan karna Bu Erna yang mendaftarkan namanya hampir di setiap lomba hari ini dan pastinya tanpa sepengetahuannya tentunya.


Riska mendengus kesal kala namanya kembali di panggil menjadi peserta lomba. Rasa lelah bekas lomba sebelumnya saja masih belum hilang dan sekarang ia harus kembali mengikuti lomba lagi. Mereka tidak tahu apa jika ia sudah sangat lelah mengikuti semua lomba-lomba itu. Bahkan hadiah yang di dapatnya kini sudah sangat banyak karna terus menjadi pemenang. Hampir semua lomba yang di ikuti Riska di menangkan olehnya.


"Semangat dek Riska" ucap Bu Erna memberikan Support.

__ADS_1


Riska hanya melongos medengar kata penyemangat dari Bu Erna.


Ah... ingin sekali rasanya Riska pergi dari acara ini sekarang juga dan pulang ke apartemennya. Tapi sayang seribu sayang Bu Erna dan Bu Tika selalu menempel di dekatnya seperti lintah yang tidak membiarkannya untuk pergi dari sana. Membuat terpaksa harus tetap berada di san


Riska mengernyit bingung kala mendengar nama Arta di sebut menjadi pasangannya. Apakah ini lomba berpasangan? Pikirnya, karna biasanya Riska hanya ikut dalam lomba perorangan. Tapi kenapa Arta bisa menjadi pasangannya? Siapa yang mendaftarkannya? Batin Riska.


Riska menatap tajam ke arah Bu Erna dan Bu Tika, sementara yang di tatap mengalihkan pandangannya pura-pura tidak tahu.


"Ah kenapa di sini banyak sekali nyamuk?" Kata Bu Erna menepuk-nepuk udara seakan sedang menepuk nyamuk padahal di sana sama sekali tidak ada satu pun nyamuk.


Sementara Bu Tika pura-pura bersiul memanggil Burung-burung yang berjejer di tali listrik yang mengantung dengan menirukan suaranya.


"Cit cuit cit cuit cuit" begitulah kira-kira suara siulan Bu Tika.


Ck Riska berdecak kesal melihat tingkah dua ibu-ibu yang pura-pura tidak tahu itu.

__ADS_1


"Cih dasar ibu-ibu no secret" Batin Riska.


Kebohongan dua ibu-ibu itu sangat terlihat jelas. Riska sudah bisa menebak pasti mereka berdua yang telah mendaftarkan namanya dan Arta menjadi peserta lomba. Namanya juga para ibu-ibu no secret sudah pasti tidak rahasia dan kebohongan mereka pun bisa di lihat dengan jelas.


__ADS_2