
Semenjak perdebatannya dengan Ryo malam itu, Riska jadi menghindari Ryo. Riska sangat malas bertemu dengan Ryo karna laki-laki itu terus saja mengancam akan membatalkan perjodohan mereka. Andai saja Ryo benar-benar membatalkan perjodohan mereka itu tidak akan jadi masalah. Malah jika perjodohan itu batal akan sangat bagus untuk Riska, toh ia juga tidak setuju dengan perjodohan ini.
Berbagai cara di lakukan Riska untuk menghidari Ryo. Tapi karena memang pada kenyataannya ia dan laki-laki itu di jodohkan, dengan terpaksa Riska harus tetap kembali bertemu dengan Ryo. Walaupun berbagai alasan sudah ia berikan untuk menghindari pertemuan itu, tapi tetap saja mereka harus bertemu untuk mengurus pernikahan mereka.
Tapi jodoh tidak ada yang tahu, siapa sangka ternyata Ryo laki-laki yang di jodohkan dengannya bukan lah jodoh. Tetapi Riska malah berjodoh dengan Arta adik dari Ryo, yang kini telah resmi menjadi suaminya.
"Ini sudah sore Mi, Pi. Sebaiknya Aku dan kak Riska pulang ke apartemen" kata Arta.
Saat ini mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Loh kalian mau pulang ke apartemen? Kenapa gak nginep di sini? Besok kan juga weekend. Jadi, lebih baik kalian nginep di sini saja, ya gak Pih?" kata Vivita dan di angguki oleh Denis.
Arta dan Riska saling pandang. Apa yang harus mereka berdua lakukan? Jika mereka berdua menginap di rumah Arta sudah di pastikan mereka akan tidur sekamar, kalau tidak maka Denis dan Vivita akan curiga pada mereka. Tapi bagaimana dengan kesepakan mereka. Jika Arta dan Riska menolak menginap, mereka tidak memiliki alasan untuk itu.
"Ca, kamu mau kan nginep di sini? Mami kan juga pengen sekali-sekali serumah sama anak dan menantu Mami yang cantik ini" kata Vivita lagi dengan tampang memohon pada Riska.
Riska jadi bingung, ia merasa tidak enak jika harus menolak ibu mertuanya.
Setelah di pikir-pikir akhirnya Riska menganggukkan kepalanya, dengan terpaksa ia menerima permintaan Vivita tidak tega juga rasanya melihat mertuanya memohon kepadanya.
"Baiklah Mi, Ica sama Arta akan menginap di sini malam ini" kata Riska tersenyum.
"Tidak apa-apa Ca, ini hanya untuk satu malam, anggap saja lo tidur dengan anak kecil" batin Riska menyemangati dirinya sendiri.
Sementara itu Arta hanya terdiam, tidak berkata setuju atau pun menolak.
"Nah gitu dong, kamu memang menantu terbaik Mami. Ya sudah, sebaiknya kalian berduan istirahat di kamar, kalian pasti capek" kata Vivita.
Riska menuju kamar Arta yang berada di lantai 2 rumah itu, dengan di temani oleh seorang pelayan wanita.
"Silahkan Nona" ucap pelayan wanita itu setelah membuka pintu kamar Arta.
"Iya terimakasih" jawab Riska.
Setelah memastikan Riska masuk ke dalam kamar, pelayan wanita itu pun langsung pergi dari sana.
__ADS_1
Riska masuk ke dalam kamar Arta.
Hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah kamar yang sangat luas, bercat abu-abu tua yang dipadukan dengan warna krim. Kamar itu terlihat seperti kamar seorang pemuda pada umumnya. Dengan sebuah tempat tidur berukuran king size yang tepat berada di tengah-tengah kamar.
Riska memperhatikan seluruh isi kamar itu, terlihat sangat bersih dan juga rapi. Sepertinya kamar Arta rutin di bersihkan walaupun sang empunya kamar tidak ada.
Riska berjalan menuju balkon dan membuka pintu kacanya. Sejuknya angin sore langsung dapat di rasakan Riska saat pintu kaca itu terbuka.
Dari atas sana terlihat jelas jernihnya air kolam berenang yang berada di bawah. Ada juga sebuah taman kecil yang berada tepat di samping kolam renang itu.
Taman itu di tanami berbagai bunga warni warni, Riska sangat menyukai taman kecil itu. Bunga-bunga yang sedang mekar terlihat sangat cantik dan indah saat di lihat dari atas balkon itu.
Lama Riska berdiri di balkon bahkan tanpa terasa hari telah berganti dengan malam. Angin yang tadinya sejuk kini mulai berubah dingin.
Merasa tubuhnya mulai kedinginan, Riska memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar dan kembali menutup pintu kaca balkon itu rapat-rapat.
Tok.. tok.. tok...
Pintu kamar di ketok dari luar.
"Iya, ada apa?" Tanya Riska setelah membuka pintu dan terlihat seorang pelayan wanita sedang menunduk di depannya.
"Maaf mengganggu nona, waktunya untuk makan malam. Semua orang sudah menunggu Anda di meja makan" kata pelayan itu.
"Baiklah, aku akan segera ke sana" jawab Riska.
"Kalau begitu, saya permisi nona" setelah mengatakan itu pelayan wanita tersebut langsung pergi.
Dengan segera Riska pergi menuju ruang makan.
Riska sudah cukup hafal dengan selok belok rumah super mewah dan besar itu, karna ia sudah beberapa kali pernah berkunjung dan terakhir ia berkunjung ialah saat ulang tahun Arta yang ke 17, yaitu sekitar 2 bulan yang lalu dan di saat itu pula di umumkannya perjodohan Riska dengan Ryo kakak dari Arta.
Sesampainya di ruang makan, sudah terlihat semua orang telah berkumpul di sana hanya Riska saja lagi yang belum ada.
Melihat semua orang sudah berada di meja makan dengan segera Riska menuju kursi kosong yang berada di sebelah Arta dan mendudukkan tubuhnya di sana.
__ADS_1
Setelah kedatangan Riska, acara makan malam pun di mulai. Mereka langsung menyantap makan malam yang telah di siapkan Pak Ko dan para pelayan lainnya.
"Arta sebentar lagi kamu akan lulus SMA, Apa kamu sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di mana?" Tanya Denis pada Arta di sela-sela makan malam mereka.
"Iya Pi, aku sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolahku di London. Seperti impian ku selama ini" jawab Arta.
Sejak kecil Arta memang punya impian untuk sekolah di luar negeri. Jadi untuk memujudkan impiannya itu ia memutuskan untuk kuliah di salah satu Universitas yang paling terkenal yang ada di London.
"Papikan sudah bilang sama kamu, Papi tidak setuju kamu sekolah di luar negeri. Di tanah air juga banyak Universitas yang bagus dan kualitasnya juga tidak kalah dari universitas-universitas yang ada di luar negeri. Jadi kenapa harus sekolah di luar negeri?" kata Denis.
Denis memang tidak mengizinkan Arta untuk kuliah di luar negeri. Ia tidak ingin putra bungsunya itu juga pergi dari rumah, sama seperti yang dilakukan Ryo kemarin dan itu sangat membuatnya kecewa pada putra sulungnya itu.
"Dan jika nanti kamu melanjutkan sekolah di luar negeri bagaimana dengan Riska yang kuliah di sini? Apa kamu akan meninggalkan istrimu sendiri di tanah air? Apalagi Kalian baru saja menikah masa kalian harus berpisah" lanjut Denis.
Arta hanya diam, ia tidak peduli dengan Riska yang kuliah di tanah air, yang Arta inginkan saat ini adalah ia bisa mewujudkan impiannya untuk sekolah di London.
"Iya, benar apa kata Papi kamu Arta. Kasihan Riska kalau kamu tinggalin dia sendiri di tanah air. Sebaiknya kamu kuliah di sini saja ya, tidak perlu ke luar negeri. Universitas tempat Riska kuliah juga sangat bagus dan pastinya tidak kalah dengan Universitas di luar negeri" kata Vivita membenarkan ucapan suaminya, berharap Arta mau mengurungkan niatnya untuk kuliah di luar negeri.
"Tidak Mi, Pi. Aku akan tetap pada tujuan awalku yaitu melanjutkan sekolahku di London. Mami sama Papi tahu kan sejak kecil aku ingin sekali sekolah di luar ini dan ini lah saatnya aku akan mewujudkan impianku itu" kata Arta.
Tekad Arta sudah bulat, ia ingin mewujudkan impiannya untuk mendirikan perusahaan sendiri dan membuat perusahaaan miliknya menjadi perusahaan terbesar di dunia. Jadi bagaimanapun caranya ia harus kuliah di London agar bisa mewujudkan cita-citanya itu.
Jangan lupa buat:
like
komen
vote
beri hadiah
tambahkan ke favorite👌
__ADS_1