
Belum sempat Riska menolak perjodohan dari Bu Erna lift berbunyi.
Tiingg....
Pintu lift terbuka, Riska pun bernapas lega. Akhirnya ia bisa lepas dari ibu-ibu no secret ini.
Ketiga wanita beda rupa itu lalu ke luar dari lift.
"Saya duluan ya Ibu-ibu" kata Riska sopan saat sampai di depan apartemennya.
Kedua Ibu-ibu itu tersenyum mengangguk sebagai jawaban.
Aah akhirnya Riska bisa menjauh dari para ibu-ibu rempong itu. Rasanya sangat sesak berada di satu ruangan yang sama dengan mereka.
Saat hendak menekan password apartemennya tiba-tiba Bu Erna memanggil Riska.
"Dek Riska" panggil wanita berkacamata itu.
Riska memutar kedua bola matanya malas. Untuk apa lagi ibu-ibu ini memanggilnya, belum puaskah mereka tadi bertanya. Apa ada sesuatu lagi yang harus mereka mau mereka tanyakan darinya? Mirip kaya wartawan pencari berita saja, Pikir Riska.
Riska membalikkan tubuhnya, menampilkan senyum keterpaksaan.
"Iya, ada apa Bu?" Jawabnya masih dengan senyum yang di paksakan. Kesal juga lama-lama berhadapan dengan para tetangga peta (pencari berita) seperti mereka.
"Saya lupa kasih tahu dek Riska kalau besok akan ada acara 17 an di lapangan belakang apartemen ini. Seluruh penghuni apartemen di sini di harapkan dapat berhadir untuk memeriahkan acara tersebut. Akan ada banyak perlombaan yang akan di selenggarakan besok" ucap Bu Erna tersenyum.
"Iya, Bu terimakasih atas informasinya. Akan saya usahakan untuk hadir di acara itu" jawab Riska dengan gigi yang terkatup rapat menahan kesal, gemas sekali rasanya. Ia harus segera masuk ke apartemennya jika tidak amarahnya akan meledak saat ini juga.
Biibb... pintu apartemen terbuka, Riska akan melangkah masuk
__ADS_1
"Ooh ya, dek Riska mau ikutan lomba. Kalau mau ikut lomba nanti akan saya daftarkan jadi peserta" kata Bu Erna lagi tidak sadar jika gadis di depannya itu kesal padanya.
Astaga! ibu-ibu ini benar-benar menyebalkan, bikin Riska naik darah saja. Untung mereka lebih tua darinya jadi Riska harus bersikap sopan, jika tidak pastilah ia akan memaki mereka habis-habisan.
"Terserah ibu saja" kata Riska, giginya bergemelatuk menahan amarah seakan ingin menerkam habis kedua ibu-ibu di depannya.
Mereka tidak tahu apa jika Riska sangat lelah dan ingin segera beristirahat.
"Baiklah dek Riska" ucap Bu Erna dan berlalu pergi meninggalkan Riska.
Huh! Akhirnya ibu-ibu itu pergi juga, pikirnya.
Riska pun langsung melangkah masuk ke dalam apartemennya.
Biibbb... pintu apartemen kembali tertutup.
"Baru pulang?" Tanya Arta yang melihat Riska baru saja masuk ke apartemen.
Rasa lelah membuatnya hanya berdehem saat menjawab pertanyaan Arta. Ia malas untuk bicara, moodnya saat ini sedang down gara-gara bertemu dengan ibu-ibu penghuni apartemen.
"Aku lapar, buatkan aku malam" kata Arta yang memang belum makan malam.
Nah kan baru saja tadi para ibu-ibu peta memujinya sekarang sudah mulai keluar sikap menyebalkannya. Belum hilang rasa kesalnya pada ibu-ibu tetangganya sekarang Arta malah menambahnya. Jika sudah begini Riska harus lebih banyak menampung stok kesabaran.
Riska menghela napas kasar, Arta tidak tahu apa jika dirinya sangat lelah. Baru pulang kerja langsung di suruh membuat makan malam. Nasib-nasib punya suami bocah, benar-benar pengertian batin Riska.
Ingin rasanya Riska memukul kepala Arta untuk menumpahkan semua kekesalannya, tapi sayang Arta adalah suaminya. Tidak mungkin kan ia memukul suaminya, bisa-bisa dirinya nanti berdosa.
Kan gak lucu jika nanti Riska terhalang masuk surga hanya karna pernah melakukan dosa memukul suaminya sendiri.
__ADS_1
"Iya, setelah aku membersihkan diri aku akan membuatkanmu makan malam" jawab Riska dengan kesabaran yang masih tersisa dan berlalu pergi ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Riska bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket karna seharian bekerja.
Riska menyiapkan air hangat di bath up, sepertinya berendam sebentar di air hangat bisa sedikit menghilangkan rasa lelah di tubuhnya, pikirnya.
"Eemm nyaman sekali" gumam Riska saat tubuhnya sudah berendam di air hangat. Ia memejamkan matanya dan mulai mereleks kan tubuh serta pikirannya yang sempat kusut.
Karna merasa sangat nyaman tanpa sadar Riska ketiduran dan melupakan tugasnya membuat makan malam.
Sementara itu di luar, Arta sudah sangat kelaparan menunggu Riska yang tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Sebenarnya apa yang dia lakukan di kamarnya? Kenapa mandinya lama sekali? Tidak tahu apa jika aku sudah sangat lapar" gerutu Arta kesal.
Karena Riska tak kunjung menampakkan diri, akhirnya Arta memutuskan untuk menyusul Riska ke kamarnya.
Tok tok tok
"Hei apa yang kau lakukan di dalam, kenapa lama sekali" kata Arta namun tidak mendapat sahutan dari sang empunya kamar.
"Cepat keluar, aku sudah sangat kelaparan" teriak Arta lagi tetapi masih tidak mendapatkan jawaban.
Arta kembali mengtok pintu kamar Riska bahkan ia sampai menggedor-gedornya.
Wajah Arta berubah panik kala tidak mendapat apapun dari Riska. Ia takut terjadi sesuatu dengan Riska.
"Kak Riska apa kau baik-baik saja?" Teriak Arta lagi takut Riska kenapa-kenapa.
Khawatirannya itu bukan tanpa alasan, saat Riska pulang tadi Arta sempat melihat wajah wanita itu nampak pucat, seperti orang yang sedang sakit.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya🤗