
Sementara itu Riska hanya diam mendengarkan percakapan Arta dan kedua mertuanya. Gadis itu tidak ingin ikut campur dengan urusan Arta, baik itu untuk urusan sekolah maupun impian Arta, karena dalam kesepakatan yang telah mereka sepakati sudah sangat jelas di katakan oleh Arta, jika mereka berdua tidak boleh ikut campur dalam kehidupan masing-masing.
Dan Jika pun nanti Arta sekolah di luar negeri, itu akan sangat bagus untuk Riska karena ia tidak perlu repot-repot lagi berperan sebagai seorang istri yang baik di depan Mama, Papa serta kedua mertuanya.
Di tambah lagi jika nantinya Arta sekolah di London, dia bisa kembali leluasa melakukan berbagai aktivitas di apartemennya. Selama beberapa hari ini Riska merasa canggung dan kurang nyaman di apartemennya sendiri karna adanya Arta.
Tapi lain halnya dengan Denis, laki-laki paruh baya itu tidak paham dengan jalan pikiran anak bungsunya.
Di saat pasangan baru menikah akan sangat lengket dan ingin selalu berduaan. Anak bungsunya ini malah ingin meninggalkan istrinya ke luar negeri padahal Arta dan Riska baru menikah beberapa hari.
Denis lupa, hal itu mungkin akan berlaku untuk pasangan yang menikah karna saling mencintai. Sedangkan Arta dan Riska menikah karna keterpaksaan.
Denis benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Arta. Tapi ia mencoba memakluminya, mungkin karena anaknya itu terlalu muda, jadi Arta belum cukup dewasa dalam mengambil sebuah keputusan.
Denis akan meminta pendapat Riska tentang keputusan Arta, mungkin saja menantunya itu tidak setuju jika Arta melanjutkan sekolahnya ke luar negeri sama sepertinya.
"Bagaimana denganmu Riska, apa kamu setuju jika Arta melanjutkan sekolahnya ke luar negeri?" Tanya Denis pada Riska, berharap Riska tidak setuju dengan keputusan Arta kuliah di London.
Rupanya kali ini perkiraan Denis salah, harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Ternyata Riska setuju dengan keputusan Arta dan membiarkan Arta pergi ke London.
"Eemm iya Pi. Kalau Riska sih terserah Arta saja. Jika memang Arta ingin sekolah di luar negeri dan mengejar impiannya kenapa tidak. Riska setuju-setuju saja, mungkin itu yang terbaik untuk Arta" kata Riska.
Riska sedikit terkejut saat Papi mertuanya bertanya tentang keputusan Arta untuk sekolah di luar negeri. Gadis itu tidak mengira jika Denis akan meminta pendapatnya. Karena bingung harus menjawab apa, akhirnya Riska menjawab sesuai apa yang ada dipikirannya. Tuh jika nanti Arta melanjutkan sekolahnya Di London itu akan sangat bagus untuk dirinya.
Mendengar jawaban Riska, Denis merasa kecewa. Kini tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk mencegah Arta agar tidak pergi. Denis menyesal kenapa dulu dia tidak membiarkan Arta sekolah di luar negeri. Jika saja Denis tahu Arta akan kembali ingin sekolah di luar negeri lebih baik dari dulu dia membiarkan Anak bungsunya itu sekolah di London.
Dulu saat lulus dari SMP, Arta juga pernah mengatakan jika dia ingin melanjutkan sekolahnya di luar negeri. Tapi Denis melarangnya dan meminta Arta untuk tetap sekolah di tanah air dan saat itu Arta pun menuruti keinginan Denis untuk sekolahnya di tanah air karna dia tidak tega melihat Vivita yang terus menangis tidak ingin melepaskannya. Maklum saja orang tua mana yang ingin berpisah dengan anaknya.
__ADS_1
Menurut Vivita waktu itu Arta masih kecil, jadi dia tidak berani melepas Arta terlalu jauh. Apalagi di luar negeri kehidupan sangat bebas, wanita itu takut anaknya salah pergaulan dan terjerumus ke lembah hitam.
Denis harus bagaimana? Ryo sudah kabur dari rumah dan sekarang Arta juga ingin sekolah di luar negeri, semua anak-anaknya pergi meninggalkannya. Denis merasa sangat sedih.
Denis memutuskan bagaimana pun caranya kali ini dia harus kembali membuat Arta agar tetap berada di tanah air.
Denis sibuk dengan pikirannya sendiri, laki-laki paruh baya itu harus menyusun rencana agar Arta tidak jadi pergi ke luar negeri dan tetap bersama Riska, dengan begitu maka Denis juga akan dengan cepat mendapatkan seorang cucu. Ah membayangkan kehadiran seorang cucu di tengah keluarganya seketika membuat Denis tersenyum bahagia, Denis sangat ingin menggendong cucu pertamanya.
Sementara itu di samping Denis, Vivita istrinya terus memanggilnya. Tetapi karena Denis terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, dia tidak mendengar panggilan sang istri.
"Papi, Pi" panggil Vivita dengan suara pelan.
"Papi" panggil Vivita lagi, tapi masih saja tidak mendapat respon dari sang empunya nama.
Kesal tidak mendapat jawaban dari suaminya, akhirnya Vivita dengan sengaja menginjak kaki Denis yang berada di bawah meja.
Mendengar suara teriakkan, semua mata langsung tertuju pada Denis. Denis pun menjadi pusat perhatian semua orang di meja makan.
"Ada apa Pih? Papi kenapa? Apa jantung Papi sakit lagi?" Tanya Arta khawatir saat mendengar jeritan Denis. Ia takut penyakit jantung Papinya kembali kambuh seperti kemarin.
"Gak papa kok Ar. Tadi kaki Papi tiba-tiba saja keram, maklum sudah tua" kata Denis menenangkan Arta yang terlihat sangat khawatir.
"Aahhh syukur lah, aku kira jantung Papi kembali sakit" kata Arta merasa lega.
"Iya Papi baik-baik saja. Kalian semua silahkan lanjut makan" kata Denis tersenyum.
Mendengar Denis baik-baik saja, semua orang kembali melanjutkan acara makan malam.
__ADS_1
Denis langsung menatap tajam istrinya. Ia sudah hafal pasti istrinya lah yang sudah menginjak kakinya di bawah sana, siapa lagi yang paling berani menginjak kaki tuan besar rumah itu selain istrinya. Tapi ketika melihat istrinya yang juga menatapnya dengan mata yang tak kalah tajamnya membuat nyali seorang Denis Amadinta seketika menciut. Kharisma tuan besar dan sikap arogan yang selama ini di milikinya seketika langsung runtuh jika sudah berhadapan dengan sang ratu.
Kali ini Denis terpaksa mengalah. Jika sudah berurusan dengan istrinya sudah di pastikan dia tidak akan pernah bisa menang karena jika dia melawan maka jatah mingguannya lah yang akan di pertaruhkan. Biasa para sutri(suami takut istri).
"Kok Mami nginjek kaki Papi sih. Sakit kaki Papi, Mi" bisik Denis kesal dengan suara pelan agar tidak terdengar Arta dan juga Riska.
""Abisnya Papi sih, Mami panggil-panggil gak dengar. Mami kan kesel, Mami injek deh kaki Papi" kata Vivita balas berbisik tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Melihat istrinya masih terlihat kesal Denis memutuskan untuk tidak membahas masalah kakinya dan memilih meminta maaf lebih dulu dari pada nanti malam dia harus tidur di luar lebih baik mencari jalan aman pikir Denis.
"Iya Papi minta maaf, Mi. Tadi Papi gak denger kalau Mami manggil Papi. Memangnya ada apa Mi?" Tanya Denis pada sang istri. Dia penasaran perihal apa gerangan yang membuat istrinya itu sampai tega menginjak kakinya.
"Mami punya rencana Pi, buat gagalin Arta kuliah di London" kata Vivita dengan semangat mengatakan kepada suaminya.
"Yang bener Mi, tapi bagaimana caranya?" Tanya Denis.Perkataan Vivita kali ini bagai angin segar untuknya.
Vivita lalu membisikkan sesuatu di telinga Denis. Denis mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, dia tersenyum puas mendengar rencana istrinya.
Ya walaupun istrinya memiliki banyak kekurangan dan tidak seperti kebanyakan istri pada umumnya tapi jika di saat seperti ini Vivita bisa sangat bermanfaat.
Denis sangat puas dengan ide yang di berikan Vivita. Kali ini dia yakin pasti bisa mencegah anak bungsunya itu untuk kuliah di London dan Denis juga sangat yakin jika Arta tidak akan bisa mengelak.
Ya walaupun rencana ini mungkin hanya berlaku untuk sementara, tapi tidak apa-apa bagi Denis. Dia bisa mencari cara lain lagi nanti. Yang penting saat ini Denis bisa membuat Arta tetap berada di tanah air.
"Mami memang hebat, tahu banget yang Papi mau" puji Denis sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Siapa dulu dong, Mami" kata Vivita membanggakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya😄