
Riska menatap intens wajah tampan Arta, hidung mancung, alis yang tebal dan kulit yang putih mulus tanpa ada satu pun jerawat membuatnya tak berkedip. Ia begitu terpesona dengan ketampanan Arta.
Ahh... masih remaja saja Arta sudah setampan ini, apalagi jika nanti suaminya itu sudah dewasa pasti ketampanannya akan bertambah berkali-kali lipat. Membayangkan dirinya tinggal serumah dan setiap hari bisa menatap wajah tampan Arta seketika membuat Riska bahagia.
Ah sial! kenapa Riska malah berpikiran sampai ke situ. Belum tentu juga pernikahan mereka langgeng. Apalagi jika di lihat dari sikap mereka berdua yang sangat tidak cocok, menunjukkan jika pernikahan mereka mungkin tidak akan bertahan lama.
Ya Walau masih remaja tetapi ketampanan Arta sudah tidak di ragukan lagi. Bahkan seorang sutradara terkenal pernah mengajaknya untuk ikut membintangi sebuah film. Tapi dengan sopan Arta menolaknya, dia beralasan tidak ingin menjadi seorang aktor pemain film.
Entah kenapa memikirkan semua itu membuat Riska menjadi murung. Apa iya dirinya dan Arta akan berpisah? Apakah pernikahan ini tidak akan bertahan lama? Akankan nanti ia siap menjadi janda di usia muda? Berbagai pertanyaam mulai menghujani pikirannya.
"Sangat cantik" batin Arta kala memperhatikan setiap inci wajah Riska. Ia juga terpesona melihat kecantikan Riska. Ya Arta diam-diam juga memperhatikan Riska.
Cukup lama mereka bersitatap, saling mengagumi satu sama lain.
Mata Arta pun turun ke bibir Riska yang nampak merah jambu. Terlihat sangat menggoda di matanya.
Gleekkk
Arta menelan kasar air liurnya.
"Apa boleh aku mencobanya" gumam Arta pelan.
Entah setan dari mana Arta begitu ingin mencicipi bibir ranum itu. Padahal saat bersama Rissa ia tidak pernah merasa seperti ini, Arta selalu bisa menahannya walau ia ingin.
"Ah iya ada apa?" jawab Riska yang sempat mendengar gumamman Arta tapi tidak terlalu jelas di telinganya.
Suara Riska sukses membuat mereka berdua tersadar dan langsung menjauhkan wajah masing-masing. Arta dan Riska jadi salah tingkah. Keadaan yang tadinya tenang kini berubah menjadi canggung.
Eeheemm
Arta berdehem untuk mengilangkan rasa canggung di antara mereka. Ia merasa salah tingkah karna sempat mengagumi kecantikan gadis cantik itu. Padahal jika di pikirkan kembali tidak masalah bagi Arta mengagumi Riska, toh Riska adalah Istrinya.
"Ooh ya aku hampir lupa, besok Papi akan pulang dari rumah sakit dan mereka ingin agar kita menjemput mereka besok" kata Arta.
"Baiklah, besok sepulang dari kampus aku akan langsung ke rumah sakit" jawab Riska dan langsung pergi dari sana. Ia sudah tidak nyaman berlama-lama berduaan dengan Arta.
Selama ini Riska memang memiliki banyak teman laki-laki, tapi ia tidak pernah dekat atau menjalin hubungan serius dengan mereka. Riska hanya berteman sekedarnya saja tidak lebih.
Arta adalah laki-laki pertama yang memilki status yang jelas dengan Riska dan itu membuatnya kurang nyaman, karna ini adalah pengalaman pertama bagi Riska berhubungan dengan lawan jenisnya. Apalagi Arta tinggal seapartemen dengannya, meskipun mereka tidak tidur sekamar tapi itu cukup membuat Riska tidak nyaman.
Riska bergegas pergi dari sana, tapi saat ia akan melewati Arta, Riska terperanjat kaget karna tiba-tiba saja Arta memegang tangannya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Riska.
Riska menatap ke arah tangannya yang tengah di pegang Arta. Dengan refleks Arta langsung melepaskan tangan itu.
"Kaki kakak kenapa?" Tanya Arta, yang tadi sempat memperhatikan jalan Riska yang sedikit pincang.
"Hah... dia tanya kaki gue kenapa. Gak sadar apa kaki gue kayak gini itu gara-gara dia" kata Riska kesal, tapi kata-kata itu hanya bisa ia ucapkan dalam hati tanpa bisa di keluarkan dari mulutnya.
Ingin sekali Riska mengumpat dan meluapkan kekesalannya tadi pagi kepada Arta, tapi ia mencoba menahannya. Riska takut jika dirinya mengumpat ia akan membuat bocah ingusan itu menangis karna saking sakit hatinya mendengar kata-kata tajam yang ke dari mulut pedasnya.
"Tapi tumben nih anak peduli sama gue, biasanya juga cuek" batin Riska lagi.
"Abis jatuh tadi pagi, mungkin terkilir. Tapi gak papa" jawab Riska dengan senyum yang di paksakan. Menatap iba ke arah kakinya yang sakit dan terlihat bengkak.
Riska tidak sempat memberikan obat atau pun salep ke kakinya karna tadi pagi ia terlalu teburu-buru. Sepulang dari kampus pun Riska langsung pergi ke kantor dan terlalu sibuk untuk memperhatikan kakinya.
"Ooohh..." Arta hanya beroh ria sambil menganggukkan kepalanya.
Melihat respon Arta yang hanya beroh ria membuat Riska sedikit kesal. Ia mengira Arta peduli padanya. Ck kasian, nasib punya suami bocah jadi tidak pengertian.
"Ya ampun kepedean banget lo Ca, mana mungkin bocah ingusan ini peduli sama lo" batin Riska dan berlalu pergi dari sana dengan sejuta kekesalan.
Saat ini Riska tengah sibuk mengacak-acak kamarnya. Ia mondar-mandir ke sana kemari mencari ponselnya yang hilang entah kemana.
"Ish di mana sih? Perasaan tadi gue masukkin ke dalam tas deh" kata Riska bebicara sendiri.
Semua barang yang ada di tasnya sudah ia keluarkan, tapi ponselnya tetap tidak ada.
"Duh dimana Ya?" Kata Riska lagi lalu membuka semua laci kamarnya. Tapi hasilnya nihil, ponselnya tetap tidak di temukan.
Riska mengacak-acak rambutnya frustasi, bingung kemana lagi ia harus mencari ponselnya. Ia lupa menaruh ponselnya di mana.
Matanya beralih menatap lemari pakaian.
"Apa mungkin dalam lemari ya? Oh Mungkin aja gue lupa terus gak sengaja naruh di lemari, coba gue cari deh" kata Riska pada diri sendiri dan langsung mengacak-acak lemari pakaiannya.
Semua barang yang ada dalam lemari itu mulai berhaburan keluar. Mulai dari baju, celana, bahkan bra serta cdnya berserakan di lantai. Tak ketinggalan kasurnya yang sudah penuh dengan baju-bajunya. Kini kamar Riska sudah seperti kapal pecah, sangat berantakan.
"Ponsel oh ponsel mengapa engkau sembunyi, macem mana aku tak sembunyi pulsaku tak pernah di isi" Riska bersenandung, lalu ia terkikik geli merasa lucu dengan lirik yang ia nyanyikan sendiri.
Masih sibuk mengacak-acak lemarinya dan akhirnya semua pakaiannya habis ia keluarkan tapi hasilnya tetap sama, ponselnya tetap tidak ada di sana.
__ADS_1
"Oh iya mungkin ponsel gue ketinggalan di dapur waktu gue masak tadi" kata Riska dan langsung menuju dapur tanpa membereskan kamarnya yang sudah seperti kapal pecah itu bahkan mungkin keadaannya bisa lebih parah dari itu.
Di dapur Riska kembali mencari ponselnya dan hasilnya sama saja, nihil. Poselnya hilang bagai di telan bumi.
Saat tengah sibuk mencari poselnya tiba-tiba Arta datang mengagetkannya.
"Apa yang kak Riska lakukan?" Kata Arta yang sedari tadi melihat Riska seperti tengah mencari sesuatu.
"Astaga kaget gue" pekik Riska terkejut karna Arta. Ia mengelus-elus dadanya, hampir saja ia jantungan. Untung saja Riska memiliki jantung yang kuat, jika tidak mungkin sekarang ia sudah masuk rumah sakit karna gagal jantung.
Sedangkan Arta mengernyit bingung karena Riska tidak menjawab pertanyaannya, tapi malah kembali sibuk mencari sesuatu.
"Kamu itu cari apa sih?" Tanya Arta lagi yang melihat Riska mondar-mandir seperti setrikaan.
"Lagi cari ponsel tadi lupa naruhnya di mana" kata Riska menjawab pertanyaan Arta.
Arta menganggukkan kepalanya, mengerti dengan masalah Riska.
"Coba kamu ingat-ingat dulu, kapan terakhir kali kamu pegang ponselnya" kata Arta memberikan solusi, kasihan juga melihat Riska yang tak kunjung menemukan ponselnya.
Kata-kata Arta barusan seketika membuat Riska tersadar akan kesalahannya.
"Astaga kenapa gak kepikiran dari tadi, jadikan gue gak perlu capek-capek kesana-kemari. Kamu juga Arta kenapa gak kasih tahu dari tadi sih" kata Riska, tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur. Kejadian yang lalu tidak bisa dia putar kembali.
"Kok malah nyalin aku? itu kan salah kamu sendiri?" Kesal Arta karena di salahkan.
Sementara Riska tidak mengubris ucapan Arta, ia sibuk memutar otak mengingat kembali kejadian yang telah terjadi hari ini. Mulai dari dia berangkat ke kampus, di kampus saat bersama para sahabatnya, dan ketika di kantor Sang Papa dan ponselnya masih tetap ada. Hingga akhirnya ingatan Riska tertuju saat di mana ia tidak sengaja menabrak seorang pemuda tampan di supermarket.
"Ahh sekarang aku ingat, sepertinya ponselku terjatuh saat di supermarket tadi" kata Riska mengingat kejadian di supermarket tadi. Ketika ia sibuk membaca email di ponselnya dan tanpa sengaja ia menabrak seorang pemuda di depannya.
Arta yang melihat tingkah Riska hanya bisa menggelengkan kepalanya. ia heran mengapa Riska bisa sangat ceroboh.
"Berarti kamu harus kembali ke supermarket itu lagi" ucap Arta.
"Iya aku akan coba kembali ke sana besok, semoga saja ponselnya masih ada" jawab Riska.
Hari sudah cukup larut, tidak mungkin bagi Riska untuk keluar malam-malam. Untung saja tidak ada hal yang mendesak di ponselnya, jadi ia memilih untuk mengambilnya besok.
Riska kemudian pergi ke kamarnya. Sesampai di kamar ia langsung membaringkan tubuhnya di kasur kesayangannya tanpa memperdulikan kamarnya yang sangat berantakan bagaikan terkena tsunami itu. Dan tanpa menunggu lama Riska pun terlelap masuk ke alam mimpinya.
Hai! hai! Readers yang cantik dan ganteng, jangan lupa buat tinggalin komen dan likenya ya😙.
__ADS_1