
Di apartemen, terlihat seorang remaja laki-laki tengah asik menonton pertandingan sepak bola yang di tayangkan di salah satu channel televisi. Remaja itu terlihat sangat fokus menonoton pertandingan tersebut.
"Ya terus, tendang tendang, Yah..." teriaknya kecewa saat bola tidak jadi masuk ke gawang lawan.
"Over, over bolanya" katanya lagi dengan gaya tubuh yang seakan-akan ikut menendang bola, sangat menghayati pertandingan menegangkan itu.
"Akh... kenapa kau memberikan bolanya ke lawan" kesalnya lagi.
Pertandingan sepak bola itu semakin sengit, bola terus melaju ke arah gawang lawan dan dengan sekali tendangan.
"Yeahhh... goal..." teriak Arta loncat-loncat kegirangan seolah dia lah yang memasukkan bola itu ke gawang. Padahal tim sepak bola kebanggannya lah yang memasukkan bola itu, tim idola Arta berhasil membobol pertahanan lawan mereka.
Arta kembali menyaksikan pertandingan sepak bola itu. Tapi tidak lama kemudian pertandingan itu berakhir. Remaja itu terlihat puas saat tim sepak bola kebanggaannya keluar sebagai pemenang.
Setelah acara pertandingan itu selesai Arta segera mematikan televisi, dia menekan tombol off pada remote dan seketika benda berbentuk persegi panjang itu pun mati, menampilkan layar yang berwarna hitam.
Arta menyandarkan tubuhnya di sofa, matanya melirik ke arah jam dinding di mana menunjukkan sudah lewat dari jam 10 malam.
"Kenapa dia belum pulang?" Gumam Arta.
Sudah selarut ini tapi Riska belum juga pulang ke apartemen. Tidak biasanya gadis itu belum pulang jam segini karna biasanya paling lambat Riska pulang jam 7 malam.
__ADS_1
Arta bangkit dari tempat duduknya berjalan menuju kamarnya berniat untuk tidur.
Saat akan membaringkan tubuhnya di tempat tidur tiba-tiba ponselnya berbunyi sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
Arta bergegas mengambil ponselnya di atas nakas samping tempat tidur, terlihat di layar ponsel panggilan video call tertera nama Wonderful Mami.
Kenapa maminya menelponnya? Tidak biasanya sang Mami menelponnya tengah malam begini. Apa ada hal yang penting sampai Vivita memanggil dengan video call? Tidak ingin terus menerka-nerka Arta pun langsung mengangkat panggilan itu dan seketika wajah Vivita muncul memenuhi layar ponselnya.
"Halo anak tampan Mami" sapa Vivita dengan senyum sumberingah saat melihat wajah tampan Anak bungsunya.
"Halo juga Mi" jawab Arta. "Ada apa Mami menelpon Arta? Papi gak lagi sakit kan?" Kata Arta khawatir, dia takut Denis kembali jatuh sakit.
Mendengar jawaban Maminya, Arta bernapas lega dia pikir Denis kembali sakit sehingga Vivita menghubunginya malam-malam begini.
"Terus kenapa Mami menelpon Arta malam-malam begini?" Tanya Arta.
"Maaf Mami ganggu tidur kamu sayang, Sebenarnya Mami mau menghubungi Riska untuk membicarakan sesuatu yang penting dengannya tapi ponsel Riska tidak aktif jadi Mami memutuskan menghubungi kamu" ucap Vivita memberitahukan maksudnya menelpon Arta.
Arta memutar kedua bola matanya malas, hal sepenting apa sih sampai Vivita harus menghubunginya malam-malam hanya untuk berbicara kepada Riska? Kenapa tidak menunggu besok saja? Kaya bakalan gsk ada hari esok saja, pikir Arta.
"Kasih ponsel kamu ke Riska Ar, Mami mau ngomong sesuatu ke dia" ucap Vivita lagi.
__ADS_1
Mampus, bagaimana cara Arta memberikan ponselnya ke Riska sementara gadis itu masih belum pulang. Vivita pasti akan marah besar jika tahu Riska belum pulang jam segini. Mana Arta tidak tahu lagi kebaradaan Riska sekarang ada di mana. Jika nanti Vivita menanyakan keberadaan menantu kesayangannya itu, Arta tidak tahu harus menjawab apa pada Vivita.
"Kenapa kamu diam saja Ar? Cepat kasih ponsel kamu ke Riska" kata Vivita yang melihat Arta diam saja.
"Eemm itu Mi, sebenarnya Kak Riska gak ada" jawab Arta gugup.
"Hah gak ada? Memangnya Riska kemana gak ada?" Tanya Vivita cepat saat melihat wajah Arta yang nampak gugup. Wanita itu memicingkan matanya curiga pasti ada sesuatu yang telah terjadi.
"Eemmm dia lagi di kamar mandi, iya di kamar mandi. Jadi Arta gak bisa ngasih ponselnya ke dia" ucap Arta berbohong, semoga saja Maminya percaya.
"Kenapa tidak di bicarakan besok saja sih Mi? ini sudah larut malam" kata Arta berharap Vivita mau menerima usulnya dan segera mengakhiri panggilannya sebelum kebohongannya terbongkar. Jika Vivita tahu dia berbohong maka pasti ratu kesayangannya itu akan murka saat mengetahui Riska masih belum pulang jam segini.
"Gak bisa di bicarakan besok Ar harus sekarang. Ya sudah kalau Riskanya lagi di kamar mandi Mami akan menunggunya, palingan sebentar lagi dia juga keluar" jawab Vivita.
Skakmat... Vivita akan menunggu Riska. Arta menelan salivanya kasar habis lah sudah hidupnya malam ini. Remaja itu hanya bisa berdoa dalam hati berharap Riska cepat pulang. Jika Riska tidak cepat pulang, maka dia akan mendapat masalah besar, Vivita pasti akan memarahinya dan menuduhnya tidak memperhatikan Riska karna mengacuhkan istrinya yang tidak pulang sampai sekarang. Padahal kenyataannya kan memang begitu.
Sepertinya malam ini Arta tidak sedang hoki, doanya tidak di jabah oleh Yang Maha Kuasa, kebohongan Arta pun akhirnya terbongkar karna Riska yang tak kunjung pulang ke apartemen.
Vivita yang mengetahui Arta berbohong langsung memarahinya anaknya habis-habisan. Dia sangat kecewa karna Arta tidak memperhatikan Riska istrinya sendiri. Istri sendiri tidak pulang Arta terlihat santai dan tidak peduli.
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak😚.
__ADS_1