Bukan Pasangan Biasa

Bukan Pasangan Biasa
Eps 37 (Menggoda iman)


__ADS_3

Berkali-kali Arta mencoba membuka pintu kamar wanita yang telah menjadi istrinya itu, tapi sayang pintu kamarnya terkunci dari dalam membuat Arta semakin panik di buatnya.


Sementara itu, dalam kamar tepatnya di dalam kamar mandi. Riska baru saja terbangun dari tidurnya.


"Astaga, gue ketiduran" kaget Riska.


Riska pun langsung ke luar dari bath up dan bergegas membersihkan tubuhnya.


Setelah merasa sudah bersih, Riska segera mengambil handuk dan melilitkannya di tubuhnya. Ia harus secepatnya berpakaian karna Arta pasti sudah sangat kelaparan menunggunya, pikirnya.


Di luar kamar, Arta panik bercampur khawatir, ia takut telah terjadi sesuatu dengan Riska.


Tidak ada cara lain lagi, Arta harus mendobrak pintu kamar Riska, untuk mengetahui keadaan gadis itu di dalam sana.


Arta mengambil ancang-ancang.


Braakkk...


Dengan sekali tendangan pintu kamar itu terbuka, bertepatan dengan Riska yang baru keluar dari kamar mandi.


Arta terpaku saat melihat pemandangan di depannya. Bagaimana tidak terpaku? Riska hanya memakai handuk yang di lilit sebatas paha dan dadanya. Kaki jenjang putih mulusnya terekspos sempurna, belum lagi buah dadanya yang sedikit menyembul keluar membuat Arta menelan ludahnya kasar.


Rambut Riska yang terurai basah semakin menambah kesan seksi di mata Arta. Ya Tuhan, pemandangan seperti ini benar-benar mengoda imannya, pikir Arta.

__ADS_1


Arta masih diam tak berkedip, apalagi saat bau harum vanilla dari sabun yang di pakai Riska menyeruak masuk kehidungnya, membuat iman Arta semakin menipis saja.


Sementara Riska terpekik kaget, melihat Arta yang tiba-tiba ada di kamarnya. Tapi sesaat kemudian ia tersadar dengan keadaannya saat ini yang hanya menggunakan handuk di tubuhnya.


Apalagi saat melihat Arta yang menatapnya dengan tatapan menginginkan seakan siap menel*nj*ngi tubuhnya detik itu juga.


"Dasar bocil mesummm..." teriak Riska memekik seakan bisa memecahkan gendang telinga siapa saja yang mendengarnya.


Mendengar teriakan Riska membuat Arta langsung ngacir meninggalkan kamar itu. Ia harus pergi dari sana sebelum imannya benar-benar runtuh dan tentunya sebelum terkena amukan dari sang singa betina yang sayangnya itu adalah istrinya sendiri. Tapi Arta merasa lega, gadis itu ternyata baik-baik saja.


Suasana di meja makan terlihat sunyi, hanya terdengar bunyi dentingan sendok dan garpu yang sedang beradu.


Sepasang suami istri beda usia itu sama-sama diam, tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara.


Mereka berdua makan malam dalam keadaan hening, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sedangkan Riska memilih diam menikmati makanannya dengan kepala yang terus menunduk, masih merasa malu atas kejadian tadi.


Bagaimana tidak malu? Arta baru saja melihat hampir semua lekuk tubuhnya yang hanya memakai handuk sebatas paha dan dada. Meskipun Arta adalah suaminya tapi tetap saja ia merasa malu karna itu pertama kalinya bagi dirinya tidak memakai baju di hadapan lawan jenisnya.


Riska sadar jika bocah di depannya ini terus curi-curi pandang ke arahnya, tapi ia pura-pura cuek dan memilih menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merah karna malu.


"Aku sudah selesai" ucap Arta dan bangkit berdiri dari kursinya, meninggalkan Riska yang masih asik menikmati makan malamnya.

__ADS_1


Setelah melihat kepergian Arta, Riska baru merasa lega. Akhirnya ia bisa bernapas seperti biasanya. Rasanya benar-benar tidak nyaman dan canggung bersama Arta.


Selesai makan malam, Riska langsung membersihkan sisa makan malam mereka dan kembali ke kamarnya. Ia ingin segera beristirahat, tubuhnya rasanya sudah sangat lelah karna seharian bekerja.


Keesokkan harinya, matahari sudah mulai merangkak naik ke peraduannya. Cahayanya menerangi hampir sebagian wilayah bumi, membuat bumi yang tadinya gelap berubah menjadi terang.


Di sebuah apartemen di pusat kota, nampak seorang gadis cantik yang telah bersuami tapi masih perawan itu terlihat masih nyaman bergulung di bawah selimut tebalnya. Hari ini adalah hari libur, waktunya untuk bermalas-malasan.


Riska menggeliat membalikkan tubuhnya guna menghindari cahaya matahari yang masuk ke kamarnya. Ia masih betah berada di bawah balutan hangat selimutnya. Karna hari ini tanggal merah jadi Riska tidak punya kegiatan apapun, ia memilih bermalas-malasan untuk mengisi hari liburnya.


Saat akan kembali melanjutkan tidurnya, tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar apartemen yang membuatnya merasa terganggu.


Suara sorak sorai orang bernyanyi berpadu dengan musik yang sangat memekak di telinga. Bunyi drum dan wajan yang di pukul saling bersahutan beradu menjadi sebuah musik.


Hari ini adalah hari HUT kemerdekaan, seluruh penghuni apartemen merayakannya dengan suka cita. Biasanya di hari seperti ini akan diadakan banyak lomba untuk memeriahkan hari spesial yang hanya terjadi satu kali dalam setahun.


Seluruh penjuru tanah air di hiasi dengan sang merah putih yang di kibarkan di seluruh pelosok negeri baik di kota maupun di desa. Pada sebulan seperti ini akan banyak di temukan nuansa-nuansa kemerdekaan. Segala macam pernak pernik atau hiasa-hiasan yang berhubungan dengan HUT RI banyak di temukan di jalan-jalan, tempat wisata, angkotan umun dan di berbagai tempat lainnya guna mengenang hari kemerdekaan tersebut.


Di hari special ini pun hampir semua orang di tanah air mengenakan baju dengan warna merah putih dan tak lupa mereka juga melengkapinya dengan atribut yang berwarna merah putih sebagai upaya untuk memperingati dan merayakan hari paling bersejarah itu.


.


.

__ADS_1


.


like dan komen ya.


__ADS_2