
Malam ini hujan turun dengan sangat lebat, seseorang laki-laki terlihat berlarian kecil di lorong sebuah rumah sakit dengan tergesa-gesa. Wajahnya menampakkan khawatiran yang luar biasa.
Setelah bertanya pada seorang suster di mana letak ruangan tempat sahabatnya di rawat, laki-laki itu lantas langsung menuju ke sana.
Laki-laki itu adalah Martin, tadi setelah mendapat kabar jika sahabatnya mengalami kecelakaan ia pun langsung pergi ke rumah sakit di mana sahabatnya di rawat.
Setibanya di ruang ICU, Martin langsung masuk ke ruangan itu dan terlihatlah sahabat baiknya tengah tak sadarkan diri setelah mengalami kecelakaan lalu lintas.
"Arman..." panggilnya saat melihat sahabatnya itu membuka mata sedangkan yang di panggil hanya mengulas senyum lemah.
"Tunggu sebentar akan aku panggilkan dokter" ucapnya lagi dan hendak pergi namun di hentikan oleh Arman.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya pelan "tidak perlu aku baik-baik saja" ucapnya lemah.
"Di mana istri dan anakku? Bagaimana keadaan mereka?" Tanyanya menatap Martin.
Dan Martin hanya terdiam, membuat Arman tahu jika istri dan anaknya tidak dalam kondisi baik-baik saja.
"Maaf Arman istrimu sudah tidak ada" jawab Martin pelan "dan untuk anakmu... dia masih belum di temukan" lanjutnya dia merasa iba atas apa yang terjadi pada keluarga sahabatnya itu.
Arman memejamkan matanya, air matanya seketika menetes mendengar keadaan anak dan istrinya.
Ya, Arman sekeluarga baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobil yang mereka tumpangi jatuh ke jurang.
"Kamu tenang saja Arman, aku sudah menyuruh orang-orang ku untuk mencari anakmu dan aku yakin dia masih hidup" lanjutnya lagi memberi sedikit harapan untuk sahabatnya itu, berharap anak dari sahabatnya itu di temukan dalam keadaan selamat.
Walaupun kemungkinan hidup anak sahabatnya itu kecil, tapi tidak mematahkan semangat Martin untuk membantu sahabatnya.
Arman pun terdiam, laki-laki itu merasa jika waktunya juga tidak banyak lagi.
"Aku memiliki satu permintaan, maukah kau mengabulkannya" ucap Arman tiba-tiba.
"Apa ini menyangkut pelaku yang mencelakai kalian. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu aku sudah menyuruh sekertaris pribadiku untuk menyelidiki kasusnya dan mencari siapa dalang dari semua ini" jawab Martin matanya mengkilat penuh marah.
Dia pasti akan menangkap pelaku yang telah mencelakai sahabatnya itu dan memberikan hukuman yang setimpal karna telah berani mengganggu sahabat baiknya.
"Tidak bukan itu, aku hanya meminta jika anakku nanti di temukan dan masih hidup tolong rawatlah dia seperti anakmu sendiri" ucap Arman, membuat Martin langsung terkesiap mendengar itu.
Flashback
__ADS_1
Martin tersadar dari lamunannya kala mendengar suara Devika.
"Papa mikirin apa sih? Tanya Devika karna tadi Martin sempat terlihat melamun, ia lalu memberikan secangkir kopi pada Martin.
Martin hanya tersenyum dan mengambil kopi pemberian istrinya lalu meminumnya.
"Nggak kok Ma, Papa hanya teringat akan Arman" jawab Martin.
Devika mengerti pasti suaminya, Rindu akan sahabatnya itu.
"Sudah lah Pa, Mama yakin Arman sudah tenang di sana. Apalagi saat tahu anaknya tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik" ucap Devika teringat akan anak dari sahabat suaminya itu yang dulunya dikira sudah meningal ternyata masih hidup dan mereka besarkannya seperti anak sendiri.
Di saat tengah berbincang-bincang terdengar suara teriakan seorang anak kecil.
"Papa... Mama..." teriak seorang anak perempuan berlari menghampiri Martin dan Devika dan langsung memeluk Sang Papa.
Sementara itu di belakangnya seorang anak laki-laki sedang mengejarnya dengan membawa seekor ulat berukuran kecil yang di dapatnya di taman belakang rumah.
"Pa, Ma. Bang Riko nakal" adunya pada kedua orang tuanya seraya menunjuk sang Abang yang tengah memegang ulat di tangannya.
Martin dan Devika seketika menatap Riko, sementara yang di tatap hanya cengengesan. Kedua orang tua itu pun menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya.
Dulu Martin dan Devi sulit memiliki anak, untuk itu ia dan istrinya mengangkat Riska menjadi anaknya. Dan setelah bertahun-tahun bersabar menanti sang buah hati, akhirnya Devi hamil anak kembar. Martin dan Devi pun sangat bahagia dengan kehadiran Riko dan Rika.
"Riko, kamu tidak boleh seperti itu Nak" tegur Martin pada anak laki-lakinya itu.
"Hehehe... iya Pa, Riko cuma bercanda kok. Lagian Rikanya aja yang penakut" jawabnya cengengesan.
"Kembalikan ulat itu ke tempatnya" perintah Devika pada Riko.
"Iya Ma" jawab anak laki-laki itu dan langsung berlari menuju taman belakang, mengembalikan hewan yang tadi di ambilnya itu ke tempatnya.
"Ma, Rika kangen sama Kak Ica" ucap gadis kecil bernama Rika itu dengan wajah sendu.
Ya sudah lama Riska tidak pulang ke rumah. Gadis itu belum pernah sekalipun berkujung kerumah setelah pernikahannya dengan Arta kemarin. Membuat Rika rindu dengan Kakak perempuannya itu, karna biasanya Riska lah yang sering menemaninya bermain.
"Iya, Riko juga kangen sama Kak Ica Ma, kapan Kak Ica pulang ke rumah?" kata Riko juga yang baru saja kembali dari taman belakang.
Devi dan Martin hanya tersenyum melihat tingkah kedua anak kembarnya.
__ADS_1
Tiing.. sebuah ide muncul di kepala Riko.
"Ma, Pa kenapa kita gak ke apartemen kak Ica aja, kita kasih kejutan untuk Kakak" ucap Riko semangat.
"Iya, Rika setuju dengan ide Abang, ayo kita ke apartemennya Kak Riska, Ma" sahut Rika antusias.
"Ayo dong Ma, boleh ya, boleh ya Ma" bujuk kedua bocah kembar itu dengan memamerkan puppy eyesnya.
Devi menggelengkan matanya dan melirik ke arah Martin meminta persetujuan suaminya. Dan Martin pun mengangguk.
"Baiklah, weekend ini kita akan ke apartemen Kak Ica" ucap Devi dan seketika kedua anak kembarnya bersorak bahagia.
"Horee, horee... kita akan ke apartemen Kak Ica" teriak keduanya bahagia.
***
Riska terlihat fokus pada layar komputer di depannya. Sesaat kemudian ia meregangkan otot-ototnya yang kaku karna terlalu lama bekerja.
"Ahh...akhirnya selesai juga" ucapnya.
Gadis itu melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 18 lewat. Riska lalu pun bergegas untuk pulang.
Hari ini hujan kembali turun, mungkin karna sudah memasuki musim penghujan jadi hujan semakin sering terjadi.
Tinnn... tinnn.... tinn...
Suara klakson kendaraan saling bersahutan, saat ini sedang terjadi kemacetan yang cukup parah, sudah hampir satu jam Riska terjebak macet, mobilnya berjalan merayap. Mungkin ini karna hujan deras, membuat debit air naik, sehingga beberapa jalan tidak bisa di lewati karna banjir. Membuat mobil dan kendaraan menumpuk sehingga menimbulkan kemacetan.
Fyyuhhh...
Riska menghembuskan napas lega saat keluar dari kemacetan.
Gadis itu dengan cepat mengemudikan mobilnya menuju aparteman karna hari sudah mulai malam.
Biibb... suara pintu apartemen terbuka. Riska langsung melangkah masuk menuju kamarnya. Sesampainya di kamar gadis itu melempar tas selempangnya sembarangan lalu mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Badannya sudah sangat lengket penuh keringat karna seharian sibuk kesana kemari.
Sementara itu di kamar satunya, Arta juga baru saja selesai dengan aktivitas mandinya. Setelah berpakaian Arta lantas mengambil ponselnya yang terus berkedip menandakan ada notifikasi masuk.
Di lihatnya ternyata ada beberapa chat dari Rissa dan Arta pun langsung membalas chat tersebut.
__ADS_1
jangan lupa like dan komennya.