Bukan Pasangan Biasa

Bukan Pasangan Biasa
Eps 17 (Mengalahkan aktor Korea)


__ADS_3

"Iya, bahkan gigi lo gak bakalan di cabut" ucap gadis minim akhlak itu.


"Nih ya, kata Nenek buyut gue kalau kita lagi sakit gigi, kita harus tempelin terasi ke gigi yang sakit maka sakitnya akan langsung hilang" kata Yuli memberitahu Abi.


Entah Nenek buyutnya yang mana yang mengatakan itu padanya, jika terasi bisa menyembuhkan sakit gigi.


"Bukannya akan tambah sakit ya, kalau di tempelin terasi?" ucap Ferry mengernyit bingung.


Setahunya jika sedang sakit gigi tidak boleh makan makanan yang mengandung terasi. Apalagi sampai menempelkannya di gigi.


"Iya emang benar sih. Tapi lo pernah dengar gak istilah racun bisa di jadikan obat?" Kata Yuli membela diri.


"Iya sih, gue emang pernah denger istilah itu. Tapi..." kata Ferry menggantung, ia merasa ragu dengan ucapan gadis di depannya ini.


Ferry langsung melirik ke arah Abi yang berada di sebelahnya.


"Tuh kan lo pernah denger. Udah deh Bi, mending lo percaya aja sama gue, yakin deh sakit gigi lo bakalan sembuh" kata Yuli menyakinkan Abi.


"Masa sih Yul" kata Abi nampak ragu dengan saran yang di berikan Yuli.


"Iya gue jamin deh. Mending sekarang lo pulang, lo coba cara Nenek buyut gue" gadis minim akhlak itu kembali menyakinkan dua pemuda bodoh di depannya.


Mendengar perkataan Yuli yang cukup menyakinkan lantas saja membuat Abi percaya.


"Oke deh. Gue akan coba cara Nenek buyut lo itu. Tapi awas ya kalo sampai lo bohongin gue" kata Abi mengancam Yuli.


"Iya lo tenang aja, gue gak bakalan bohongin lo kok" katanya dengan tampang yang seakan-akan tidak pernah melakukan kebohongan seumur hidupnya.


Akhirnya Abi pun percaya, mereka bertiga kemudian berpisah. Abi dan Ferry langsung pulang ke rumah Abi untuk mencoba metode nenek buyut Yuli. Sementara Yuli kembali menemui kedua sahabatnya.


"Lama banget Yul, jamuran nih kita nungguin lo di sini" kata Sonia kesal.


"Sorry guys, tadi ada kendala di jalan" kata Yuli.


Setelah membayar makanan mereka pada Bang Jon, ketiga sahabat itu kemudian berpisah di depan kampus.


Sonia dan Yuli pulang ke rumah masing-masing. Sementara Riska langsung menuju kantor sang Papa.


**


Hari sudah mulai berganti malam. Lampu-lampu jalan sudah mulai menunjukkan cahayanya masing-masing. Riska baru saja keluar dari gedung perusahan.

__ADS_1


Walaupun hari sudah mulai gelap, Riska tetap menyempatkan dirinya mampir ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan yang habis di kulkasnya.


Saat ini Riska sedang memilih sayuran yang akan dia masak untuk makan malam nanti. Setelah memilih sayuran Riska kembali mendorong troli belanjaannya menuju penjual daging.


Setelah membeli daging, Riska kembali memeriksa daftar belanjaannya. Merasa telah terbeli semua, ia kemudian menuju kasir untuk membayar semua barang belanjaannya.


Saat akan menyerahkan uang ke kasir tiba-tiba sebuah email masuk ke ponsel Riska. Ia pun segera mengambil ponselnya untuk memeriksa email tersebut.


Selesai membayar Riska segera membawa barang belanjaannya, dengan mata yang masih fokus menatap ke layar ponselnya. Saking sibuk dengan ponselnya, Riska sampai tidak memperhatikan jalan di depannya hingga tanpa sengaja ia menabrak seorang pemuda yang tengah berjalan di depannya.


Bruukkk...


"Aauwwww..." pekik Riska saat menabrak dada pemuda itu cukup keras, membuatnya langsung terjungkal ke belakang.


Semua barang belanjaan Riska berhamburan di lantai, begitu juga dengan ponselnya yang jatuh entah kemana.


"Sorry sorry aku gak sengaja, kamu gak papa kan" ucap pemuda itu seraya membantu Riska bangun dan mengumpulkan semua barang belanjaan Riska.


Pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh atau merasa sakit saat bertabrakan dengan Riska. Seakan tabrakan tadi hanya angin lalu baginya. Sangat berbeda dengan Riska yang merasakan sakit di jidatnya karna menabrak dada pemuda itu.


"Iya gak papa kok, bukan salah kamu juga. Tapi salah aku yang jalan gak liat-liat" kata Riska tersenyum menatap pemuda di depannya.


Tampan, itu lah kata yang tepat yang Riska berikan untuk laki-laki di depannya saat ini.


Gadis mana pun pasti akan langsung terpikat padanya, termasuk juga Riska yang tanpa sadar mengagumi pemuda itu.


"Ini belanjaannya" ucapnya tersenyum manis seraya menyerahkan barang belanjaan Riska.


Melihat senyum manis laki-laki itu, tanpa sadar Riska ikut tersenyum.


"Ah iya terimakasih" ucap Riska masih dengan senyumnya.


Kemudian berlalu pergi meninggalkan pemuda itu. Ia harus cepat pulang ke apartemen untuk memasak makan malam.


Sementara pemuda itu hanya tersenyum melihat kepergian Riska, sampai gadis cantik itu tak terlihat lagi oleh pandangannya.


"Ternyata dia sangat cantik, apalagi jika di lihat dari dekat" gumamnya yang tadi memang sempat melirik wajah Riska.


Mata pemuda itu menatap ponsel yang tergeletak di atas lantai, sepertinya ponsel itu tidak sengaja terjatuh saat gadis cantik tadi menabraknya.


"Astaga poselnya tertinggal, tapi bagaimana cara gue mengembalikannya sedangkan gue kan gak tahu alamat rumahnya" katanya bingung karna tidak tahu alamat rumah gadis itu.

__ADS_1


"Ah iya, sebaiknya gue kembalikan saja besok di kampus. Akhirnya gue punya alasan buat kenalan sama Lo" gumam Pemuda itu, tersenyum penuh arti dan berlalu pergi.


Flashback On


Saat Riska dan kedua sahabatnya berjalan di tengah lapangan kampus, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka. Tepatnya ia terus menatap ke arah Riska.


"Mereka itu siapa bro?" Tanya seorang pemuda pada teman di sebelahnya seraya menunjuk ke arah lapangan di mana Riska dan kedua sahabatnya berada.


"Oh itu Ton, mungkin karna lo anak baru jadi lo belum tahu siapa mereka. Mereka itu adalah cewek terpopuler di kampus ini dan denger-denger sih mereka bertiga belum pada punya pacar loh" jawab temannya.


"Tapi nih kalau boleh gue saranin mending lo gak usah deh deketin mereka. Mereka itu susah banget buat di dekatin, si Robby yang terkenal tampan aja gak bisa dapetin mereka" lanjutnya.


"Ohh, thanks ya infonya" ucap pemuda tersebut menepuk bahu temannya dan berlalu pergi begitu saja.


"Cantik dan menarik" gumamnya dengan senyum yang sulit di artikan.


Flashback End


Kini Riska sudah sampai di apartemennya. Ia langsung menyusun semua belanjaan yang tadi di belinya ke dalam kulkas. Kulkas yang semula kosong kini sudah mulai terisi kembali.


Saat tengah sibuk menyusun barang belanjaannya, tiba-tiba terdengar suara pintu aparteman terbuka. Riska menduga itu pasti Arta, karena saat dirinya sampai di apartemen tadi keadaan apartemen masih terlihat sepi, menandakan jika Arta masih belum pulang. Dan sesuai dugaannya ternyata itu benar Arta.


Sesampainya di apartemen Arta langsung menaruh tasnya di atas sofa dan berlalu ke arah dapur untuk mengambil minuman dingin. Ia merasa sangat haus.


Di dapur Arta melihat Riska sedang sibuk menyusun sayuran ke dalam kulkas.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Riska saat melihat Arta dengan ekor matanya sedang berada di dapur.


"Heemm" jawab Arta dan langsung menuju kulkas di mana Riska berada.


Saat Arta akan mengambil botol minuman tanpa diduga Riska menegakkan tubuhnya dan seketika membuat wajah mereka bertemu.


Deg


Wajah keduanya sangat dekat bahkan bibir mereka hampir saja bersentuhan. Jantung keduanya mulai berdebar tak karuan. Ini kali pertama bagi mereka bersitatap dengan jarak sedekat itu.


"Astaga mengapa bocah ingusan seperti dia tampan sekali, bahkan ketampanannya bisa mengalahkan aktor Korea" batin Riska histeris melihat ketampanan Arta dari jarak dekat. Ia baru sadar ternyata suami kecilnya ini sangat tampan.


Riska akui, walaupun masih remaja tetapi Arta sudah punya wajah yang sangat tampan. Riska berpendapat pasti Arta terkenal dengan cowok playboy di sekolahnya. Gadis mana yang tidak menyukainya, jika wajah dia setampan ini. Pasti Arta sering bergonta-ganti pacar, pikir Riska.


Ah... Saat remaja saja Arta sudah setampan ini, apalagi jika nanti suaminya itu sudah dewasa pasti ketampanannya akan bertambah berkali-kali lipat. Membayangkan dirinya tinggal serumah dan setiap hari bisa menatap wajah tampan Arta seketika membuatnya bahagia. Ah Kok Riska jadi berpikiran ke situ sih. Belum tentu juga pernikahan mereka akan bertahan lama. Apalagi jika di lihat dari sikap mereka berdua yang tidak cocok, menunjukan jika pernikahan mereka tidak akan langgeng.

__ADS_1


Jangan lupa buat like dan komennya ya reatersđŸ˜™đŸ’› LOVE YOU.


__ADS_2