
"Hei anak kecil, kalah jangan nangiss" ejek Darwin pada Arta sembari mengacungkan jari tengahnya.
Arta melotot tidak percaya mendengar dirinya masih di sebut anak kecil. Anak kecil bagaimana? Tubuhnya saja sudah tinggi dan besar begini. Ya meskipun wajahnya memang baby face. Tapi kan ia sudah SMA jadi Arta bukan lagi anak kecil melainkan sudah remaja.
Dan apa tadi, si pria tua itu bahkan mengacungkan jari tengahnya kepadanya. Ck pria tua itu bahkan tidak ada apa-apanya di bandingkan dirinya yang tampan ini.
Apalagi Arta masih sangat muda dan tampan, pasti ia jauh lebih unggul dari Pak Darwin. Ya walaupun dari segi bentuk tubuh Arta kalah telak dari pria tua itu. Sebab suami Bu Erna itu adalah seorang perwira tinggi, jadi sudah di pastikan otot-ototnya besar semua.
"Aku bukan anak kecil Om dan akan kupastikan Om lah nanti yang akan menangis bukan aku" kata Arta kesal merasa tersinggung. Memangnya Arta secengeng itu apa sampai harus menangis hanya karna kalah lomba.
Arta mengurungkan niat untuk pergi dari sana. Ia merasa tertantang untuk mengalahkan Pak Darwin si pria tua dan ia bertekad membuat pria tua itu menangis menerima kekalahannya.
"Kalian pasti akan kalah. Jadi lebih baik kalian berdua mundur sebelum tim kalian malu" ucap Bu Ember meremehkan sembari terseyum mengejek.
"Tidak akan! kita lihat saja nanti siapa yang akan menjadi pemenang?" Kata Riska menantang.
Riska yakin pasti dirinya dan Arta bisa mengalahkan pasangan tua itu. Mereka berdua bertekad akan menang di lomba ini. Menang bukan untuk mengincar hadiah yang yang telah di siapkan panitia, tapi untuk mematahkan kesombongan pasangan suami istri songong itu karna ini menyangkut harga diri tim mereka.
Kedua pasang suami istri beda usia itu saling menatap tajam penuh persaingan seakan hanya mereka berempat yang akan melakukan perlombaan itu. Mereka lupa jika bukan hanya mereka yang akan berlomba tapi masih banyak pasangan lain lagi di sana. Mereka semua sama-sama tidak ingin kalah dalam lomba berpasangan ini.
"Semangat kita pasti menang" ucap Riska mengepalkan tangannya ke atas di ikuti Arta.
"Ya kita pasti bisa mengalahkan pasangan tua itu" balas Arta juga.
Sementara pasangan tua di sebelahnya menatap sinis melihat tingkah pasangan muda itu.
__ADS_1
Lomba pun di mulai dengan menghitung mundur dari angka 3 2 1.
Preettt...
Bunyi peluit nyaring menjadi pertanda di mulainya perlombaan itu.
Para pasangan pun langsung di sibukkan mendandani suami atau pasangan mereka. Mereka hanya di beri waktu 5 menit untuk merubah para suami mereka menjadi barbie cantik. Dalam waktu 5 menit tersebut, selesai atau tidak mereka tetap harus menggendong pasangan mereka sampai ke finish. Karna di lomba ini penilaian akan di ambil dari 2 dua aspek, yaitu dari segi make up dan kecepatan dalam sampai ke finish.
Para peserta bersaing dengan sangat ketat, tangan-tangan cekatan mereka bergerak cepat memoles wajah pasangan mereka masing-masing agar terlihat paling cantik.
Gemuruh sorak sorai penonton menggema untuk menyemangati para peserta lomba. Mereka terus meneriakkan nama-nama peserta yang mereka dukung.
Di saat para supporter lain asik mendukung dan menikmati lomba. Para ibu-ibu sopporter no secret dan julid malah terlihat memanas, mereka saling menatap tajam. Aura permusuhan sangat terpancar di kedua kubu.
"Arta, Riska. Kalian pasti menang" teriak ibu-ibu no secret.
Sementara para ibu-ibu julid juga tidak ingin kalah. Mereka langsung meneriakkan pasangan Bu Ember dan Pak Darwin.
"Ayo Bu Ember, Pak Darwin. Kalahkan pasangan muda itu buktikan kalian bisa" teriak ibu-ibu julid tak kalah nyaring.
"Iya buktikan pada pasangan muda itu, meskipun kalian sudah tua tapi kalian masih kuat di atas ranjang. Upss..." teriak salah satu ibu-ibu tim julid langsung menutup mulutnya keceplosan.
Pleetakk...
Salah satu ibu-ibu di sampingnya langsung menoyor kepala temannya itu.
__ADS_1
"Ranjang mulu di pikiran lo" kata ibu tersebut.
Sementara yang di toyor hanya cengesan sambil mengusap- usap kepalanya yang sakit.
"Lah mau gimana lagi Bu. Emang rasanya tetap enak walaupun sudah tua" jawabnya.
Yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu. Teman mereka yang satu itu memang terkenal dengan kegesrekkannya. Hampir setiap kata yang keluar dari mulutnya pasti tidak jauh-jauh dari urusan ranjang.
Sedangkan tim ibu-ibu no secret hanya tersenyum masam melihat tingkah musuh bebuyutannya.
"Cih dasar ibu-ibu gak tau malu, di tempat seperti ini saja masih membicarakan masalah ranjang" cibir Bu Erna.
"Iya benar itu Bu Erna. Tapi yang di katakan ibu-ibu julid tadi juga benar kok. Walaupun sudah tua rasanya tidak berubah. Suami saya saja masih hampir tiap hari minta jatah pada saya" ucap Bu Tika tersenyum malu-malu, mengingat suaminya yang masih sangat kuat meskipun sudah tua.
Bu Erna langsung mendelik tajam menatap Bu Tika. Dasar Bu Tika ini ternyata sama saja dengan mereka, pikir Bu Erna.
Sedangkan yang di tatap langsung menyurutkan senyumnya menunduk takut melihat tatapan Bu Erna yang seakan ingin mengoyak dirinya.
"Cih dasar Bu Erna bilang saja di iri" umpat Bu Tika, tapi hanya bisa dalam hati tidak berani mengatakannya.
Maklum saja Bu Erna adalah seorang janda. Sudah 3 tahun Bu Erna berpisah dengan suaminya. Jadi, sudah pasti Bu Erna lama tidak mendapatkan jatah, pikir Bu Tika.
Terimakasih Buat kalian yang sudah mau memberikan like dan dukungan di karya Author yang apalah daya bagaikan remahan rempeye gosong ini. 😆😆😆
Jangan pelit-pelit napa sama jempolnya, biar Author tambah semangat nih buat lanjutin ceritanya.
__ADS_1
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍