Bukan Pasangan Biasa

Bukan Pasangan Biasa
Eps 26 (Jamu penyubur kandungan)


__ADS_3

Setelah 15 menit bertempur dengan peralatan dapur, akhirnya Vivita selesai dengan kegiatannya.


Vivita memberikan secangkir minuman buatannya kepada Riska.


Riska mengernyit bingung saat mertuanya memberikannya segelas minuman yang terlihat aneh, gadis itu mengambil gelas minuman tersebut dengan sedikit ragu.


Riska memerhatikan minuman itu, warnanya sedikit keruh dan baunya kurang enak, mirip seperti jamu.


"Di minum sayang, Mami khusus membuatkannya untukmu" kata Vivita seraya tersenyum.


"Beneran harus di minum Mih?" Tanya Riska. Ia nampak Ragu untuk meminumnya.


Pasalnya dari baunya saja minuman itu kurang enak apalagi dengan rasanya. Tapi Riska juga enak hati jika harus menolak mertuanya. Vivita sudah capek-capek membuatkan minuman itu khusus untuk dirinya. Tapi masalahnya sekarang adalah apakah ia sanggup untuk meminum apalagi sampai menghabiskannya.


"Tentu saja sayang, harus di minum sampai habis" jawabnya cepat.


Akhirnya dengan sangat terpaksa Riska meminum minumam aneh itu. Hal pertama yang ia rasakan saat minuman itu melewati tenggorokannya adalah pahit dan sepat tidak enak sama sekali.


Riska memaksa dirinya untuk menghabiskan minuman itu. Tegukan demi tegukan ia telan dengan susah payah. Demi menghargai usaha sang mertua Riska harus bisa menghabiskannya walaupun dirinya harus rela menderita.


"Sudah habis Mih" ucap Riska dan memperlihatkan gelas kosong bekas minuman itu kepada Vivita.


"Menantu Mami emang pinter" puji Vivita sambil mengelus pucuk kepala menantu kesayangannya itu.


"Sebenarnya itu minuman apa sih Mih? Rasanya kok aneh banget, mirip kayak jamu?" Kata Riska penasaran, karena sehabis ia menimun minuman itu mulutnya terasa sangat tidak enak.


"Ini adalah jamu khusus untuk penyubur kandungan, Mami memberikan jamu ini agar kamu bisa cepat hamil Ca" kata Vivita tersenyum bahagia. Ia bahagia karna Riska bisa menjadi menantunya, apalagi Riska adalah anak yang baik dan juga penurut tidak banyak membantah dan protes. "Dan kamu tenang saja, Mami jamin jamu ini ampuh untuk mempercepat kehamilan karna Mami sudah membuktikannya sendiri" lanjut Vivita.


Vivita harus mendukung rencana yang dia susun dengan Denis, dia harus berbuat sesuatu agar Riska bisa cepat hamil. Jika Riska hamil maka otomatis Arta tidak akan jadi untuk pergi kuliah ke luar negeri. Tidak mungkin kan Arta meninggalkan istrinya yang sedang hamil ke luar negeri kecuali dia adalah suami yang laknat.


Mendengar jamu penyubur kandungan Riska membelalakkan matanya kaget. Ternyata benar dugaannya minuman yang di minumnya tadi adalah jamu. Tapi yang gadis itu tidak menyangka adalah kenapa mertuanya itu memberikannya jamu penyubur kandungan? Apakah Vivita bermaksud membuatnya cepat hamil? pikir Riska.


"Aah rasanya Mami dan Papi sudah tidak sabar ingin menggendong Anak kalian, Cucu kami" kata Vivita, matanya berbinar membayangkan ia bisa mengendong cucu-cucunya.

__ADS_1


Riska hanya tersenyum miring, ternyata benar dugaannya, Vivita menyuruhnya meminum jamu itu agar ia bisa segera hamil.


"Aduh Mami, Meskipun aku meminum jamu ini setiap hari pun tetap saja aku tidak bisa hamil. Bagaimana aku mau hamil, aku sama Arta saja tidur terpisah?" batin Riska tertawa.


Tapi entah kenapa tiba-tiba saja perasaan bersalah mulai mengerogoti hatinya. Apalagi saat melihat ekspresi Vivita yang terlihat bahagia walaupun hanya membayangkan kehadiran bayinya dan Arta hadir di tengah keluarga mereka. Risak merasa sangat bersalah karena telah mengbohongi seluruh keluarganya perihal pernikahan yang tengah di jalaninya bersama Arta saat ini. Tapi apa lah daya ia juga tidak ingin semua ini terjadi, keadaan lah yang memaksa dirinya dan Arta untuk melakukan semua itu.


Dengan tergesa-gesa Riska menaiki tangga yang melingkar indah di rumah mewah itu, gadis itu berlari menuju kamar Arta yang berada di lantai 2.


Tadi setelah meminum minuman aneh yang katanya jamu penyubur kandungan itu, entahlah Riska juga tidak tahu itu jamu apa karena ia baru pertama kali melihat dan mendengarnya. Tiba-tiba perutnya terasa tidak enak dan mual. Riska pun meminta ijin kepada ibu mertuanya untuk lebih dulu beristirahat dan dengan senang hati Vivita mengijinkannya.


Sesampainya di kamar Riska langsung berlari menuju toilet dan memuntahkan semua isi perutnya di sana.


Owekk owekk owekk


Hah hah hah Riska tersengal-sengal


"Ya ampun, Mami Vivita kenapa sih nyuruh gue minum jamu penyubur kandungan? Mana rasanya gak enak kek air comberan" gerutunya kesal.


Kayak Riska pernah minum air comberan aja? pikir author.


Owekk owekk owekk


Riska kembali memuntahkan isi perutnya, ia terus muntah-muntah dalam kamar mandi.


Sementara itu Arta baru saja masuk ke dalam kamarnya. Saat masuk ia mendengar suara orang yang sedang muntah-muntah dari arah kamar mandi. Karena penasaran, remaja itu lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mengetahui siapa gerangan yang ada di dalam sana. Untung saja pintunya sedikit terbuka jadi Arta bisa sedikit mengintip ke dalam dan terlihat lah Riska yang tengah berusaha mengeluarkan isi perutnya.


Owekk... suara Riska yang sedang mengeluarakan isi perutnya.


Dengan cepat Arta menghampiri Riska dan membantu gadis itu dengan memijit tekuknya.


"Kamu kenapa? Kamu sakit?" Tanya Arta. Ia terus memijit tekuk Riska berharap bisa mengurangi rasa mual gadis itu.


Riska hanya menjawab dengan gelengan kepala, ia tidak sanggup untuk mengeluarkan suara akibat rasa mual yang terus mendera. Untung saja Arta datang, jadi ia merasa sedikit terbantu dengan Arta.

__ADS_1


"Hah hah Gak papa kok, aku baik-baik saja" kata Riska setelah rasa mualnya sedikit mereda.


Setelah merasa dirinya sudah lebih baik tidak mual-mual lagi, Riska kemudian berjalan menuju wastafel untuk berkumur-kumur dan mencuci wajahnya.


Setelah selesai gadis itu lalu keluar dari kamar mandi, berniat untuk tidur karena ia merasa sudah tidak mempunyai tenaga lagi dan ingin cepat-cepat istirahat.


Sementara itu Arta hanya mengikuti Riska dari belakang sambil memperhatikan semua yang tengah dilakukan gadis itu.


"Apa kamu yakin tidak apa-apa, sepertinya kamu kurang sehat? Apa perlu aku panggilkan dokter" Kata Arta, melihat Riska yang sudah membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja" jawabnya sudah memejamkan matanya siap untuk tidur.


"Eemmm baiklah kalau begitu" Arta.


Karena merasa mengantuk Arta pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Riska dan langsung memejamkan mata bersiap untuk tidur.


Merasa ada pergerakan di sebelahnya, Riska lantas menoleh ke samping dan terlihatlah Arta yang tengah memejamkan matanya, sontak saja melihat itu membuat Riska seketika terkejut dan refleks bangun.


"Ngapain kamu tidur di sini, pergi sana ke kamarmu?" ucap Riska menatap Arta dengan tajam, enak saja Arta ingin tidur di kamarnya seranjang dengannya pula. Ini tidak bisa di biarkan.


"Gue gak akan biarin dia mengambil kesempatan sedikit pun dari gue, mentang-mentang gue lagi gak enak badan, enak saja dia mau cari kesempatan tidur di kamar gue" batinnya tidak terima.


Mendengar Riska terus mengoceh, Arta membuka kedua matanya malas.


"Coba di lihat-lihat lagi deh ini di mana. Harusnya aku yang nanya sama kamu, ngapain kamu tidur di sini. Jelas-jelas ini kamar aku, tentu saja aku tidur di sini" kata Arta jengkel.


Mendengar perkataan Arta, Riska lalu memperhatikan seluruh sudut kamar itu dan seketika gadis itu tersadar, ia lupa jika saat ini dirinya sedang menginap di rumah Arta. Dan sekarang ia sedang berada di kamar Arta bukan kamarnya yang ada di apartemen. Malu bukan maen, itulah yang di rasa Riska saat ini.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya.


__ADS_2