
"Cantik tunggu" teriak Riska, mengejar Arta yang lebih dulu keluar dari lift.
Sedangkan orang yang di panggil cantik, malah semakin mempercepat langkahnya tidak menghiraukan panggilan Riska. Ia sangat malu saat Riska memanggilnya cantik, apalagi saat ini mereka tengah menjadi pusat perhatian orang-orang di lobi karna teriakan Riska tadi.
"Aduh si cantik buru-buru banget, tunggu kakak kenapa" goda Riska lagi dan mensejajarkan langkahnya dengan Arta.
Arta sangat kesal dengan Riska. Kenapa gadis itu senang sekali menggodanya?
"Berhenti memanggilku cantik" ucap Arta dengan gigi yang terkatup rapat, gemas dengan gadis itu.
Riska mencolek dagu Arta"Ciee... si cantik marah" ucapnya semakin menggoda remaja itu.
Arta refleks menghentikan langkahnya "Kau!" Geram Arta melotot.
Ingin sekali Arta melakban mulut gadis itu agar berhenti menggodanya. Ia sangat malu apalagi saat orang-orang di sana menatap mereka dengan menahan senyum.
Arta benar-benar di buat pusing dengan tingkah Riska. Kenapa sejak pagi gadis itu tidak berhenti menggodanya?
Arta menudingkan telunjuknya ke wajah Riska.
"Jangan pernah lagi memanggilku dengan sebutan cantik atau kau..."
"Oke... oke... aku berhenti" ucap Riska memotong ucapan Arta.
Sepertinya Arta sudah berada di mode marah. Lebih baik Riska berhenti menggodanya, sebelum ia terkena amukan remaja itu. Mending cari jalur aman, pikir Riska.
"Baiklah aku janji tidak akan memanggilmu cantik lagi" ucap Riska, jarinya membentuk huruf V dan tersenyum.
"Bagus" kata Arta.
"Tapi... boong..." teriak Riska dan langsung berlari.
"Dadah cantik kakak duluan ya" Teriaknya lagi seraya melambaikan tangannya ke arah Arta sebelum hilang dari pandangan.
Arta melotot tidak percaya, lagi-lagi Riska memanggilnya cantik. Andai saja tadi Riska tidak langsung berlari Arta akan menyumpal mulut gadis itu dengan sepatunya biar puas.
__ADS_1
Arta menggelengkan kepalanya, ia heran kenapa bisa memiliki istri seperti Riska.
Hari ini cuaca terlihat tidak terlalu mendukung, gumpalan awan hitam mulai memenuhi langit kota. Ya cuaca hari memang terlihat mendung tapi tidak turun hujan.
Riska bersama kedua sahabat sedang berada di kantin kampus, mereka beristirahat sembari menunggu makul berikutnya.
"Ngapain sih lo bawa payung kemana-mana, orang belum hujan juga. Mending singkirin deh tuh payung bikin gue risih aja liatnya?" Kata Sonia pada Yuli.
Sonia heran melihat Yuli hari ini selalu membawa-bawa payung kemana-mana.
"Itss lo gak boleh ngomong kayak gitu, ini tuh payung kebanggaan gue" kata Yuli dan memeluk sayang payung merah kebanggaannya, seakan-akan payung itu adalah benda yang sangat berharga yang tidak boleh lecet sedikitpun.
Sonia menatap Jijik dengan tingkah sahabatnya itu. Bahkan Yuli memegang payung itu dengan sangat lembut, seperti bayinya.
"Sejak kapan tuh payung jadi kebanggaan lo?" Tanya Riska heran.
Payung berwarna merah dengan ganggang tangan yang besar sama seperti payung biasanya, tidak ada istimewanya sama sekali. Tapi mengapa Yuli menganggapnya sebagai payung kebanggannya?
"Sejak kemarinlah" jawab Yuli cepat.
Ya Yuli mendapatkan payung itu karna menang dalam lomba makan kerupuk di acara 17 an kemarin, yang di selenggarakan di kompleks perumahannya. Oleh sebab itu, Yuli sangat menyayangi payung merah itu karna itu adalah hasil kerja kerasnya.
Dari arah kejauhan Yuli melihat Abi dan Ferry berjalan ke arah mereka. Perasaan Yuli mulai berubah tidak enak, entah kenapa ia merasa harus segera pergi dari sana sebelum si kembar beda rupa itu menghampiri merekan.
"Guys, ke kelas yuk!" ajak Yuli pada kedua sahabatnya.
"Ngapain ke kelas? Jam masuk aja masih lama" jawab Riska.
"Tahu nih, tumben pengen cepet-cepet masuk kelas biasanya juga masuk paling akhir" timpal Sonia.
"Ya udah kalau kalian gak mau, gue ke kelas duluan ya" kata Yuli langsung pergi dari sana, tak lupa membawa payung kebanggaannya.
"Lah kerasukan apa tuh anak, tumben-tumbenan jadi rajin begitu? Tanya Sonia.
Sementara Riska hanya menghendikkan bahunya tidak tahu dan kembali memasukkan snaks ke mulutnya.
__ADS_1
"Riska, Sonia kalian liat Yuli gak?" Tanya Abi dan Ferry yang tiba-tiba datang.
Melihat kedatangan Abi dan Ferry, akhirnya Riska tahu mengapa Yuli pergi meninggalkannya dan Sonia. Sepertinya gadis itu sedang menghindari Abi, pikir Riska.
Riska hanya menggelengkan kepalanya ternyata Yuli licik juga menghindari Abi.
"Dia ada di..."
"Gak tahu" kata Riska cepat memotong ucapan Sonia.
Sonia menatap heran ke arah Riska. Kenapa sahabatnya ini berbohong, padahal jelas-jelas Riska tahu di mana keberadaan Yuli.
Sonia mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya kepada Riska. Sementara Riska hanya memberikan kode dengan matanya, menyuruh Sonia untuk diam.
"Tumben gak tahu, biasanya kan kalian selalu pergi bertiga" kata Abi lagi.
Rasanya tidak mungkin Riska dan Sonia tidak tahu keberadaan Yuli. Karna setahu Abi mereka selalu pergi bersama kemana-mana.
"Emang kita gak tahu" jawab Riska acuh.
Sepertinya Riska sedang dalam mode setia kawan. Ia memilih diam demi menyelamatkan Yuli dari amukan Abi. Ah sepertinya Yuli harus membayar mahal untuk kebaikan Riska ini.
"Kuy Son kita ke kelas, bentar lagi makul mulai nih" ucap Riska dan berjalan meninggalkan kantin.
Sepertinya Riska sedang dalam mode setia kawan. Ia memilih diam demi menyelamatkan Yuli dari amukan Abi.
"Aahh...iya" jawab Sonia gelagapan.
"Guys kami duluan ya" ucap Sonia kepada Abi dan Ferry, kemudian bergegas pergi menyusul Riska.
"Tenang Bi, masih ada hari esok buat ngasih pelajaran ke tuh cewek" ucap Ferry.
Abi mendengus kesal, hari ini ia tidak bisa bertemu Yuli untuk membalas dendam yang kemarin kepada gadis itu.
Jangan lupa like dan komen💙
__ADS_1