Bukan Pasangan Biasa

Bukan Pasangan Biasa
Eps 19 (Perhatian Arta)


__ADS_3

Sang rembulan kini telah berganti dengan sang surya. Cahayanya yang indah mulai menerangi sebagian wilayah bumi. Birunya warna langit hari ini seakan menjadi pertanda jika hari ini akan menjadi hari yang sangat cerah.


Pagi ini seperti biasa Riska sudah bangun dan mulai mempersiapkan semua keperluannya untuk ke kampus. Tapi sebelum berangkat ke kampus, ia terlebih dulu menyempatkan diri untuk membuat sarapan. Aktivitas itulah yang telah menjadi kebiasaan Riska selama beberapa hari ini, setelah ia resmi menjadi seorang istri dari remaja yang bernama Arta Amandinta.


"Apa hari ini kak Riska akan pergi kuliah" Tanya Arta pada Riska.


Saat ini mereka berdua tengah sarapan di meja makan.


"Iya, hari ini aku ada jadwal untuk kuliah" jawab Riska dan kembali memasukkan sarapan ke mulutnya.


"Kalau begitu, lebih baik hari ini kita berangkat bersama saja" ucap Arta dengan gamblangnya.


Arta merasa kasihan melihat Riska menyetir mobil dengan kondisi kaki yang sakit. Tapi, entah kenapa dia melupakan akan status pernikahan mereka yang harus di rahasiakan. Andai saja Arta ingat jika dia sudah menikah dengan Riska, ia pasti tidak akan mengajak Riska untuk berangkat bersama.


Uhuuk... uhuuk... uhuuk...


Riska yang mendengar itu langsung tersedak. Ia terkejut mendengar Arta yang tiba-tiba mengajaknya berangkat bersama.


Melihat Riska yang tersedak, Arta refleks menuangkan air putih dan langsung menyerahkannya kepada Riska. Dengan senang hati Riska mengambil air putih pemberian Arta dan langsung meminumnya.


"Kak Riska gak papa kan" Tanya Arta terlihat khawatir.


"Eemm iya, gak papa kok" jawab Riska dengan senyum di paksakan.


"Ada apa ini? Tumben si boing ngajakin gue berangkat bareng, biasanya kan dia cuek. Jangan-jangan dia cuma mau ngeprank gue lagi kaya tadi malam"  batin Riska, ia merasa aneh dengan perubahan sikap Arta yang jadi perhatian.


Riska juga bingung dengan Arta yang tiba-tiba mengajaknya untuk berangkat bersama. Padahal baru beberapa hari lalu Arta mengatakan agar pernikahan mereka di rahasiakan. Jika hari ini mereka berdua berangkat bersama, otomatis akan membuat orang-orang yang melihatnya akan curiga dan bertanya-tanya tentang hubungan mereka berdua. Dan juga Riska takut akan kembali terjadi kecanggungan saat nanti hanya berdua saja di dalam mobil bersama Arta, sama seperti tadi malam.

__ADS_1


"Eemmm untuk berangkat bareng kayaknya gak usah deh. Aku bisa berangkat sendiri" kata Riska menolak secara halus ajakan Arta.


"Apa kak Riska akan menyetir mobil dengan kondisi kaki yang seperti itu?" Kata Arta yang tahu jika kaki Riska bengkak.


Riska hanya diam, ia berusaha mencari alasan agar mereka tidak berangkat bersama dengan Arta. Riska takut salah mengartikan sikap Arta yang seperti ini. Yang tiba-tiba peduli padanya padahal pada kenyataan tidak.


"Eemm aku kan bisa pesen taksi online buat ke kampus" kata Riska.


"Dan juga apa kamu sudah lupa dengan perjanjian kita kemarin? Jika kita berangkat bersama apa kata orang-orang nanti, mereka akan bertanya-tanya tentang hubungan kita berdua. Kamu sendiri kan yang mengatakan agar pernikahan ini kita di rahasiakan" lanjut Riska.


"Oh iya ya, gue lupa kalau kami sudah menikah" batin Arta merutuki kebodohannya. Menyesal mengajak Riska untuk berangkat bersama. Padahal niatnya hanya untuk membantu Riska, takut gadis itu kesulitan pergi ke kampus.


Tapi yang di katakan Riska memang benar, orang-orang akan curiga dengan hubungan mereka. Apalagi jika Rissa yang melihatnya, mungkin kekasihnya itu akan bertanya tentang hubungannya dengan Riska. Entah alasan apa yang akan Arta berikan nanti, ia pasti akan bingung menjawabnya.


Ya sebaiknya mereka berangkat sendiri-sendiri saja dari pada rahasia mereka terbongkar, pikir Arta membenarkan perkataan Riska.


Agar tidak terlihat memalukan karena hampir melanggar perjanjian yang buatnya sendiri, Arta segera mencari alasan yang cukup masuk akal.


"Aku memang pernah berkata begitu. Tujuanku mengajakmu berangkat bersama hanya karena aku tidak ingin Papa Martin dan Mama Devika berpikir aku tidak bisa menjagamu dengan baik, karena membiarkan kamu pergi kuliah sendiri dengan kaki yang sakit" kata Arta berusaha memberikan alasan yang masuk logika. Ia berharap Riska percaya dengan perkataannya.


"Tetapi kalau kamu tetap ingin pergi sendiri tidak masalah, Aku tidak akan memaksamu. Kalau begitu Aku pergi dulu" lanjut Arta, setelah menghabiskan sarapannya, ia langsung berangkat ke sekolah sebelum ia bertambah malu.


Sesuai dugaan Riska, ternyata Arta memang tidak peduli dengannya, dia melakukan semua itu hanya agar terlihat baik di mata Martin dan Devi. Beruntung Riska tadi tidak langsung setuju dengan ajakannya.


"Ku kira dia benar-benar peduli dan mengkhawatirkanku, tapi ternyata hanya untuk menjaga imegenya di depan Mama dan Papa. Dasar boing gendeng" umpat Riska kesal.


Setelah membersihkan sisa sarapan, Riska juga langsung berangkat menuju kampusnya.

__ADS_1


Mungkin karena hubungan Arta dan Riska tidak terlalu dekat, jadi Riska belum mengenal sifat Arta, begitu pun dengan Arta yang juga belum begitu mengenal Riska.


Walaupun terkadang Arta terlihat cuek, tapi sebenarnya ia adalah pemuda yang sangat baik dan perhatian. Apalagi terhadap orang-orang di sekitarnya, ia tidak akan segan-segan untuk membantunya. Hal itu terbukti di mana tadi malam saat Riska tengah tertidur, diam-diam Arta masuk ke kamar Riska dan mengecek kondisi kaki Riska yang sakit.


Flashback On


Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, Arta tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Matanya melihat ke atas nakas, dimana gelas air minumnya terlihat kosong. Arta bangun dan mengambil gelas tersebut, lalu berjalan menuju dapur untuk mengisinya kembali dengan air minum.


Sesampainya di dapur, Arta langsung mengisi gelasnya dengan air putih. Tapi pada saat ia menuang air ke dalam gelas, pikirannya teringat pada kejadian tadi malam, di mana bibirnya hampir saja bersentuhan dengan bibir Riska.


"Kenapa jantung gue jadi aneh gini" kata Arta berbicara sendiri sambil menyentuh dadanya. Jantungnya tiba-tiba berdebar kala mengingat kejadian tadi malam saat bersama Riska.


Arta kemudian teringat dengan kaki Riska yang sakit. Entah kenapa tiba-tiba saja hati kecilnya merasa kasihan pada Riska. Tapi otaknya berpikir yang sebaliknya. Arta menganggap itu bukan urusannya jadi untuk apa ia peduli pada Riska yang sakit. Arta kemudian memutuskan untuk mengikuti jalan pikirannya yang menurutnya lebih masuk akal.


Setelah minum dan mengisi kembali gelasnya dengan air putih, Arta bergegas kembali ke kamarnya. Ia lalu meletakkan gelas itu kembali ke atas nakas kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan melanjutkan tidurnya.


Sudah 1 jam berlalu tapi Arta belum juga bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus saja tertuju pada kaki Riska yang sakit. Arta merasa khawatir dengan keadaan Riska.


Setelah berpikir, akhirnya Arta memilih mengikuti kata hatinya untuk melihat keadaan Riska. Arta pun memutuskan untuk mengecek kondisi kaki Riska yang sakit. Ia berencana akan masuk secara diam-diam ke kamar Riska. Arta tidak ingin menunjukkan sikap perhatiannya kepada Riska, takut gadis itu nanti kegeeran kepadanya.


Setelah sampai di depan pintu kamar Riska. Dengan Pelan Arta membuka pintu kamar Riska agar tidak menghasilkan suara. Untung saja pintu kamarnya tidak di kunci, jadi Arta bisa leluasa untuk masuk ke dalam sana.


Setelah pintunya sedikit terbuka, Arta langsung menyembulkan kepalanya masuk ke dalam memeriksa apakah Riska sudah tidur atau belum.


Mata Arta menatap ke arah tempat tidur, dimana Riska sedang tidur di sana. Ia terus memperhatikan Riska yang tengah tertidur lelap. Dengan Hati-hati Arta melangkah masuk ke dalam kamar. Tapi baru beberapa langkah masuk, kakinya tidak sengaja menginjak suatu benda asing. Ia lalu berhenti dan mengambil benda tersebut, kemudian memperhatikan benda yang ada di tangannya saat ini.


Mata Arta terbelalak kaget ketika mengetahui benda tersebut adalah sebuah bra wanita, sepertinya bra tersebut adalah milik Riska. Arta langsung melempar bra itu ke sembarang tempat ia merasa sangat malu karna telah memegangnya.

__ADS_1


Halo semua😄 masih setiakan baca karya Author yang satu ini. Jangan lupa buat like dan komennya Ya 💌💟.


__ADS_2