
Denis dan Vivita terkikik geli, merasa lucu dengan tingkah mereka sendiri. Pasangan tua satu ini memang rada-rada aneh.
Sementara itu Arta dan Riska terheran-heran melihat tingkah dua orang tua yang sangat aneh di depan mereka.
Arta mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu, melihat tingkah kedua orang tuanya yang kadang aneh sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Tapi berbeda dengan Riska, gadis itu heran melihat tingkah kedua mertuanya. Tadi Denis dan Vivita asik berbisik-bisik sesaat kemudian mereka tertawa-tawa tidak jelas, benar-benar mertua ajaib, pikir Riska. Tapi Riska tidak ingin ambil pusing, dia memilih untuk mengabaikan itu, anggap saja kedua mertuanya sedang bahagia, pikirnya.
***
Saat ini Arta sudah berada di ruang kerja Denis, tadi setelah makan malam sang Papi menyuruhnya untuk menemuinya di ruang kerjanya.
"Kenapa Papi menyuruhku ke sini? Apa ada hal penting yang ingin Papi bicarakan denganku?" Tanya Arta. Karna biasanya jika Denis menyuruhnya masuk ke ruangan kerja pasti ada sesuatu yang penting yang akan Denis sampaikan kepadanya.
Remaja itu duduk di sofa yang ada di sana berhadapan dengan Denis yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.
"Apak kamu sudah benar-benar yakin ingin kuliah di luar negeri Arta?" Tanya Denis, sekali lagi dia ingin memastikan keputusannya anak bungsunya itu sudah bulat.
Dengan mantap Arta menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Remaja itu telah bulat memantapkan hati dan pikirannya dengan keputusannya itu.
Denis hanya menghela napas panjang. Kali ini tidak ada cara lain, dia akan menggunakan saran istrinya untuk membuat Arta tetap berada di tanah air.
"Baiklah jika memang keputusanmu itu sudah bulat Papi akan mengijinkanmu untuk kuliah di luar negeri" kata Denis.
Mendengar perkataan Denis seketika membuat Arta senang, akhirnya sang Papi mengijinkannya untuk melanjutkan kuliah di London. Tapi ternyata kesenangan Arta tak berlangsung lama tatkala mendengar perkataan Denis selanjutnya.
"Tapi dengan satu syarat" lanjut Denis.
Mendengar ada syarat membuat Arta mendesah pelan. Dia pikir Papinya benar-benar setuju dengan keputusannya.
Walaupun ada syarat yang harus di penuhi, tapi tidak apa-apa untuk Arta. Jika dia bisa memenuhi syarat tersebut, mungkin Denis akan mengijinkannya untuk sekolah di luar negeri. Demi cita-citanya Arta akan memenuhi syarat apapun yang akan di ajukan sang Papi kepadanya.
"Apa syaratnya Pih?" Tanya Arta penasaran.
__ADS_1
"Syaratnya adalah sesuai janjimu kemarin di rumah sakit. Papi ingin kamu segera memberikan seorang cucu untuk Papi. Jika kamu bisa membuat Riska hamil maka Papi akan dengan senang hati mengijinkanmu kuliah di London" kata Denis tersenyum licik, laki-laki itu tahu pasti Arta tidak akan bisa memenuhi syaratnya.
Walaupun Arta sudah mandiri tidak tinggal bersamanya lagi tapi Denis tetap menyuruh orang untuk mengawasi anak-anaknya. Dan dari situ lah Denis tahu jika Arta dan Riska tidak tidur sekamar.
Awalnya Denis sangat terkejut saat mengetahui laporan anak buah tentang anak dan menantunya yang tidur di kamar berbeda, tapi Denis mencoba memaklumi dan membiarkannya saja, mungkin Arta dan Riska membutuhkan waktu untuk saling menerima satu sama lain karena Denis sadar pernikahan mereka di lakukan secara terpaksa dan Denis memahami itu.
Denis hanya berharap semogs saja suatu saat nanti seiring dengan berjalannya waktu anak dan menantunya itu bisa saling mencintai dan bisa menjalani kehidupan berumah tangga seperti pasangan lain pada umumnya.
Tapi Denis tidak akan berdiam diri saja saat mengetahui masalah rumah tangga anak dan menantunya, dia akan berusaha membuat Arta dan Riska saling jatuh cinta, karna untuk itu lah Denis memberikan syarat seperti itu kepada Arta.
Mendengar syarat yang di ajukan Papinya membuat Arta membulatkan matanya. Tubuhnya seketika merosot, bisa-bisanya Denis memberikan syarat seperti itu kepadanya. Jika syaratnya itu maka sudah bisa di pastikan jika Arta tidak akan sanggup memenuhinya.
"Kenapa syaratnya harus itu sih Pih? Apa tidak ada syarat yang lain" kata Arta kesal. Mana mungkin dirinya bisa memberikan Denis seorang cucu sedangkan dia dan Riska saja tidur terpisah.
"Tidak ada, Papi hanya ingin cucu. Jika kamu tidak bisa memenuhi syarat dari Papi, maka jangan harap Papi menginjinkanmu untuk kuliah di luar negeri" kata Denis cuek dan bangkit dari tempat duduknya.
"Kecuali jika kamu bisa membuat Riska hamil" lanjut Denis lalu keluar dari ruangan itu dengan senyum kemenangan di wajahnya, meninggalkan Arta sendiri di ruangan itu.
"Aahhh...sialll..." teriak Arta frustasi mengacak-acak rambutnya.
***
Riska berjalan menuju kamar Arta yang ada di lantai dua. Tadi setelah makan malam dia memutuskan untuk beristrahat.
"Riska" panggil Vivita.
Mendengar namanya di panggil, Riska langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya, terlihat Vivita berjalan ke arahnya.
"Iya, ada apa Mi" jawab Riska.
"Kamu bisa ikut Mami sebentar gak?" Kata Vivita.
__ADS_1
"Kemana Mi?" Tanya Riska.
"Sudah kamu ikut saja" kata Vivita, menarik tangan Riska untuk mengikutinya.
Dengan pasrah Riska pun mengikuti Vivita. Entah kemana Vivita akan membawanya gadis itu hanya diam dan mengikut saja.
Kini mereka berdua sudah berada di area dapur. Vivita membawa Riska ke dapur, entah apa yang akan mereka lakukan di sana Riska tidak tahu?
"Pak Ko, apa semua yang saya minta sudah siap?" Tanya Vivita pada Pak Ko yang berada di dapur.
"Sudah Nyonya" jawab Pak Ko.
"Bagus kalau begitu, terima kasih Pak Ko" kata Vivita.
"Iya Nya sama-sama" ucap Pak Ko dan pamit undur diri.
"Riska sekarang kamu duduk di kursi itu ya, perhatikan apa yang Mami lakukan dari sana. Oke" kata Vivita menunjuk kursi yang ada di pojok dapur yang menghadap langsung ke arah dapur dimana Vivita akan memasak.
Dengan patuh Riska menurutinya dan duduk diam di kursi itu, dia tidak tahu apa yang akan di lakukan Vivita.
Riska memperhatikan semua yang di lakukan ibu mertuanya itu. Vivita terlihat sangat sibuk meracik dan memasukkan semua bahan ke dalam panci. Entah apa saja yang di masukkan wanita itu? Riska juga tidak tahu.
"Mami mau masak apa? Biar Riska bantu Mih" kata Riska menawarkan diri dan berjalan menghampiri Vivita.
Tidak enak rasanya saat mertuanya sedang sibuk memasak sementara Riska hanya berdiam diri memperhatikan Vivita tanpa melakukan sesuatu. Setidaknya sebagai menantu yang baik dia bisa membantu Vivita.
"Eeh sayang gak usah bantuin Mami. Kamu hanya perlu duduk diam di sana dan perhatikan apa yang Mami lakukan agar nanti kamu bisa mempraktekkannya sendiri di apartemen" kata Vivita dan kembali menuntun Riska untuk duduk di kursi tadi.
Dengan pasrah Riska pun menuruti Vivita dan kembali duduk di kursi yang telah di sediakan Pak Ko tadi.
"Perhatikan dan ingat semua yang Mami lakukan. Oke" kata Vivita dan Riska hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Gadis itu diam melihat, mulai memperhatikan dan mengingat apa-apa saja yang lakukan oleh Vivita.
Jangan lupa untuk like dan komen.🤗