
Waktu sudah menunjukkan sore hari, Riska bergegas untuk pulang kantor. Gadis cantik itu segera membereskan meja kerjanya. Setelah di rasa beres dia lalu menyerobot tas selempang miliknya dan menggantungnya di bahu, siap untuk pulang.
Ting... pintu lift terbuka, Riska bergegas masuk ke dalam lift.
Semua pegawai yang berada di lift itu langsung membungkuk hormat kepada Riska. Maklum saja Riska adalah anak dari pemilik perusahaan itu, jadi dia juga sangat di hormati di sana.
Riska hanya tersenyum membalas saapaan para pegawai itu.
Suasana di dalam life hening, tidak ada satu orang pun yang berani menguluarkan suara meskipun di sana ada begitu banyak orang. Para pegawai itu terlalu canggung untuk bersuara karna adanya Riska, anak dari pemimpin perusahaan mereka. Mereka takut salah bicara dan di pecat dari peruasahaan itu.
Ya Riska selalu menggunakan lift khusus untuk pegawai. Dia memilih menggunakan life itu karena Riska merasa bisa lebih dekat dengan para pegawai di sana.
Riska sangat jarang menggunakan life yang di khususkan untuk para petinggi perusahaan. Padahal Riska termasuk ke dalam jajaran orang penting di perusaahaan itu karna dia adalah anak dari sang pemilik perusahaan yang mungkin suatu saat nanti perusaahaan itu akan jatuh ke tangannya.
Tapi walaupun di sana Riska termasuk orang penting. Gadis itu tidak pernah menyombongkan dirinya, dia malah malah sangat suka merendah. Riska sadar jika dirinya hanya lah anak angkat dari Martin pemilik perusahaan itu, jadi menurutnya apa yang patut untuk di sombongkan dan di banggakan dengan itu.
Ting... pintu life akhirnya terbuka.
Riska melangkah anggun keluar dari life. Semua mata langsung tertuju pada gadis yang tengan melangkah dengan sangat elegan itu, terutama pegawai laki-laki di perusahaan itu. Mereka semua menatap Riska penuh kagum. Gadis primadona perusahaan mereka itu amatlah sangat cantik.
Bagaimana tidak cantik? Riska memiliki wajah yang sangat sempurna. Kulit tubuh dan wajah sangat putih bersih, tidak ada satu pun noda yang menempel di sana, hidung yang mancung, bibir seksi dan body yang aduhai bak gitar spanyol. Apalagi Riska adalah anak dari pemilik perusahaan itu, benar-benar tipe wanita incaran semua kaum adam.
Riska baru saja keluar dari gedung perusahaan dengan semua mata yang masih menatap ke arahnya.
Riska menengadah ke langit, sore ini cuaca terlihat sangat mendung, sepertinya akan segera turun hujan.
Angin yang berhembus cukup kencang sehingga menerbangkan rambut Riska yang tergerai panjang membuatnya terlihat begitu cantik.
Riska melirik ke arah para laki-laki yang terus menatapnya tanpa berkedip, seakan-akan mereka tidak ingin melewatkan kecantikannya barang sedetikpun.
__ADS_1
Melihat itu Riska hanya menyunggingkan senyumnya. Ck ck susah ya jadi orang cantik selalu di kagumi para laki-laki, batin Riska memuji diri sendiri. Dia mengibaskan rambutnya yang panjang, bangga akan kecantikan yang dimilikinya.
Di saat tengah merasa cantik-cantiknya tiba-tiba saja angin berhembus dengan kencang.
Pluukk...
Sebuah kantong kresek hitam mendarat tepat di wajah cantik Riska, membuat semua orang yang ada di sana menatapnya dengan menahan tawa.
Riska mengumpat kesal di balik kantong kresek hitam itu. Dia lantas menyingkirkan kantong kresek hitam itu dari wajahnya dengan kasar. Sepertinya kantong kresek tadi terbang terbawa angin. Dasar kontong kresek gak ada akhlak, umpat Riska kesal.
Riska benar-benar sangat malu dengan kejadian itu, apalagi saat semua orang menatapnya dengan menahan senyum. Ah Riska ingin menghilang saja saking malunya.
"Nona Riska tidak apa-apa?" Tanya seorang security menghampiri Riska.
"Iya Pak, saya tidak apa-apa" jawab Riska memaksakan senyumnya. Padahal dirinya sangat malu.
Sepulang dari kantor, Riska melajukan mobilnya menuju bengkel Zaki. Ia ingin melihat kondisi si Jago motor sport merah kesayangannya yang saat ini sedang di perbaiki oleh Zaki sepupunya.
Riska duduk di kursi yang ada di sana dan memperhatikan Zaki dari sana. Wajah pemuda itu terlihat cemong penuh oli membuat Riska tersenyum geli melihatnya.
Zaki Adijaya adalah anak dari Devina Bibinya Riska. Sedangkan devina sendiri adalah adik dari Devika ibu angkat Riska.
Umur Riska dan Zaki tidak berbeda jauh, mungkin Zaki hanya lebih tua beberapa bulan dari Riska.
Pemuda dengan wajah manis itu sangat menyukai otomotif. Dia lebih memilih mendirikan bengkelnya sendiri dari pada harus bekerja di perusahaan keluarganya.
"Sejak kapan lo ada di sini?" Tanya Zaki saat melihat Riska ada di bengkelnya.
"Baru aja" jawab Riska.
__ADS_1
Zaki hanya menganggukkan kepalanya dan kembali fokus memperbaiki motor sports Riska.
"Gimana keadaan Jago, udah sehat belum? Kalo udah sehat, gue mau bawa dia pulang, soalnya udah kangen" kata Riska.
"Sehat, lo pikir nih motor manusia bisa sehat" kata Zaki geleng-geleng kepala.
Riska hanya cengengesan"Jadi gimana? Apa hari ini gue bisa bawa pulang si Jago?" Tanya Riska.
"Belum, mungkin besok lusa baru lo bisa bawa pulang nih motor" ucap Zaki.
"Yah... gue gak bisa tanding dong besok. Padahal si erick udah nantangin gue buat balapan" ucap Riska kecewa.
"Ck gue heran sama lo Ca, cewek kok hobinya balapan. Ketahuan tante Devi baru tahu rasa lo" kata Zaki menakut-nakuti sepupunya itu.
Zaki tidak habis fikir dengan gadis yang satu ini. Gadis-gadis lain mungkin biasa punya hobi dandan, belanja di mall, jalan-jalan, atau masih banyak lagi hobi-hobi yang lain sesuai untuk para gadis cantik. Tapi sepupunya yang satu ini malah hobi balap liar, sungguh gadis yang antimainstrim, pikir Zaki.
"Lo tenang aja Mama sama Papa gak bakal tahu kok. Ya kecuali lo yang bocorin" sahut Riska.
Selama ini Martin dan Devika memang tidak tahu jika Riska sering ikut dalam balapan liar. Gadis itu sangat pandai menyembunyikan hobinya itu.
Riska akan melakukan balapan liar di saat malam hari. Selesai balapan gadis itu akan menyembunyikan motor sportsnya di bengkel Zaki agar tidak ketahuan orang tuanya.
Andai Martin dan Devika tahu kelakuan Riska yang suka ikut balapan liar sudah pasti motor sports kesayangan Riska itu akan di sita bahkan mungkin akan di jual.
"Inget Ca, lo itu udah punya suami. Gimana kalo sampai suami kecil lo tahu lo sering ikut balapan liar dan dia malu punya istri yang hobinya balapan, bisa di talak tiga lo" kata Zaki kembali menakuti Riska. Dia suka sekali menggoda gadis di depannya ini.
"Ya bagus dong kalau dia cerai'in gue, ntar gue bisa cari suami baru lagi yang hobinya sama kayak gue" jawab Riska tidak takut, memang itu lah yang di inginkannya saat ini.
Zaki hanya menggelengkan kepala mendengar jawab Riska.
__ADS_1
"Ya itu mungkin kalo masih ada yang mau sama janda" ucap Zaki tertawa ngakak.
Sementara Riska mendengus kesal mendengar itu.