Bukan Pasangan Biasa

Bukan Pasangan Biasa
Eps 11 (Arta Terpesona)


__ADS_3

"Dan satu lagi kamu sudah mengakhiri hubungannmu dengan Rissa kan? Karena Mami sangat tidak menyukai dia dan juga kamu sudah punya Riska, jadi Mami harap kamu bisa bersikap dewasa, dengan tidak menjalin hubungan dengan perempuan lain lagi karena sekarang kamu sudah mempunyai seorang istri" kata Vivita.


Vivita khawatir anaknya itu akan kembali menjalin hubungan dengan Rissa. Belum lama ini Vivita memang pernah menyuruh Arta untuk memutuskan hubungannya dengan Rissa. Dia sangat tidak suka melihat Arta berhubungan dengan Rissa.


"I iya Mi. Sebisa mungkin Arta akan berusaha untuk bersikap lebih dewasa" jawab Arta dengan gugup karena berbohong.


Pada kenyataannya Arta masih menjalin hubungan dengan Rissa. Entah alasan apa yang membuat Vivita sangat tidak menyukai Rissa, Arta pun tidak tahu. Padahal menurut Arta kekasihnya itu adalah gadis yang sangat baik dan Rissa juga memiliki wajah yang cantik. Tapi mengapa sang Mami justru tidak menyukainya.


Setelah selesai berbicara dengan Maminya Arta pun pulang kerumahnya diantar oleh  Baim.


***


Di aperteman setelah mandi Riska langsung pergi ke dapur dengan handuk yang masih berada di atas kepalanya, dia berencana menyiapkan makan malam. Riska memang tidak terbiasa membeli makanan di luar, ia lebih senang memasak makanannya sendiri. Jika membeli makanan di luar dia takut makanan itu tidak higenis dan juga rasanya yang mungkin tidak sesuai dengan lidahnya. Dan karena Riska juga suka memasak jadi dia selalu memasak makanannya sendiri ketika dia pulang ke apertemen.


"Sepertinya Arta masih belum pulang" gumam Riska ketika melihat apertemennya masih terasa sepi. Riska pun kembali melanjutkan acara memasaknya.


***


"Thanks ya bro, udah ngantarin gue. Lo beneran gak mau mampir dulu ke rumah gue?" Ucap Arta, kini mereka sudah berada di depan rumah Arta.


"Sama-sama bro. Lain kali aja gue mampir, gue mau balik dulu" kata Baim pada Arta.


"Sekali lagi thanks bro" ucap Arta.


Baim pun hanya mengacungkan jempol tangannya tanda iya, dan dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan Arta.


Setelah kepergian Baim, Arta langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Selamat datang Tuan Muda Arta" ucap Pak Ko menyambut kedatangan Arta di depan pintu sembari membungkukkan badannya. Dan Arta hanya menganggukkan kepalanya.


Pak Ko adalah kepala pelayan di rumah itu. Dia sudah lama menjadi kepala pelayan di sana, mungkin semenjak Vivita melahirka Ryo.


"Oh ya Pak Ko, apakah semua barang-barang yang ku minta untuk di kemasi sudah siap?" Tanya Arta pada Pak Ko.


"Iya Tuan muda, semua barang yang Tuan muda minta untuk dikemasi sudah saya siapkan" jawab Pak Ko. Arta memang sudah menyuruh Pak Ko untuk mengemasi barang serta pakaiannya, sebelum dia pulang ke rumah untuk mengambilnya.


"Bagus kalau begitu" ucap Arta.

__ADS_1


"Apa Tuan muda ingin makan malam dulu di rumah?" Tanya Pak Ko.


"Baiklah aku akan makan malam dulu di sini, sebelum pulang ke apartemen" jawab Arta lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Setelah makan malam, Arta langsung pulang ke apertemen. Kali ini dia membawa serta mobilnya agar nanti dia lebih mudah untuk pergi ke sekolah.


"Biibb" pintu apertemen terbuka, Arta langsung masuk ke dalam apartemen sembari membawa kopernya.


Di dalam apertemen, saat Arta berjalan menuju kamarnya, dia berpapasan dengan Riska yang terlihat datang dari arah dapur.


Setelah memasak tadi, Riska berniat ke kamarnya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di sana. Dia ingin mengabarkan pada kedua sahabatnya jika besok dia akan kembali masuk kuliah.


"Kamu baru pulang?" Tanya Riska, matanya beralih pada koper yang di bawa Arta.


Arta yang mengerti dengan tatapan Riska pun langsung menjelaskan, mengapa dia membawa sebuah koper.


"Iya. Tadi sepulang dari sekolah aku mampir dulu sebentar ke rumah, untuk mengambil barang-barangku yang ada di sana" jelas Arta. Entah kenapa ia ingin menjelaskannya kepada Riska.


"Eemm begitu" Kata Riska mengerti mengapa Arta membawa koper.


"Lho jidat kamu kenapa?" Tanya Riska mengernyit heran, ketika dia meneliti wajah Arta yang terdapat memar.


"Gak papa kok, cuma memar dikit tadi kena dasbord mobil. gara-gara Baim ngerem mendadak" kata Arta memberitahukan penyebab jidatnya memar.


"Gak papa Gimana, jidat kamu merah loh. Ya sudah kamu duduk dulu di sofa, biar kakak kompres jidatnya pakai air hangat" ucap Riska, merasa khawatir, ia kasihan melihat Arta.


"Gak perlu, nanti juga hilang sendiri" kata Arta yang memang merasa baik-baik saja.


"Duduk dulu di sofa, sebentar kakak mau ke kamar dulu" kata Riska tidak mau di bantah.


Arta pun terpaksa menuruti perintah Riska, karena dia tidak ingin mengundang perdebatan.


Arta kemudian berjalan menuju sofa, dia duduk di sana sembari menunggu Riska keluar dari kamarnya.


Di dalam kamar Riska langsung melepaskan handuk yang berada di atas kepalanya, kemudian dia menyisir rambutnya yang masih sedikit basah. Setelah itu, Riska keluar kamar dan langsung menuju dapur untuk mengambil air hangat. Tapi sebelumnya itu, dia terlebih dulu menyiapkan handuk kecil untuk mengompres jidat Arta yang memar.


Setelah dirasa suhu airnya sudah pas, Riska langsung membawanya menuju sofa di mana Arta berada.

__ADS_1


Kini Arta dan Riska sudah duduk saling berhadapan di salah satu sofa panjang.


Riska langsung memasukkan handuk kecil ke dalam air hangat tersebut lalu memerasnya.


"Sini, liat wajahnya" kata Riska.


Arta pun memperlihatkan wajahnya dengan canggung.


Riska langsung menempelkan handuk yang sebelumnya telah di redamnya di air hangat ke jidat Arta yang memar. Riska sudah memutuskan untuk menganggap Arta seperti adiknya sendiri. Hal itu dilakukannya agar dia tidak terlalu canggung jika sedang berduaan dengan Arta seperti sekarang ini. Tetapi Riska akan tetap menghormati Arta karena bagaimanapun Arta sudah menjadi suaminya meski usianya lebih muda darinya.


Riska ingin berdamai dengan keadaan dan mencoba ikhlas menerima semuanya.


"Ssshhhttt" desis Arta merasakan perih, saat air hangat mengenai jidatnya yang memar.


"Sakit ya? Atau airnya terlalu panas?" Tanya Riska pada Arta, saat mendengar desisan Arta dan langsung menghentikan kompresannya.


"Gak sakit kok. Airnya juga pas, gak terlalu panas" kata Arta berbohong, dia tidak ingin di anggap lemah oleh Riska.


Riska pun kembali melanjutkan mengompres jidat Arta.


Arta terus memperhatikan setiap inci wajah Riska yang putih mulus dan sangat cantik, sesaat membuat dirinya terpesona dengan kecantikan yang di miliki Riska. Apalagi dengan rambut yang sedikit basah, membuat Riska terlihat sangat seksi di mata Arta.


"Ternyata ka Riska sangat cantik, apalagi jika di lihat lebih dekat seperti ini " batin Arta. Tanpa sadar dia mengagumi kecantikan Riska.


Mata Arta kini turun menuju bibir Riska, yang nampak bervolume dan berwarna merah jambu serta sedikit basah membuatnya semakin seksi.


Gleekk


Arta menelan salivanya ketika melihat bibir Riska. Pikirannya pun mulai traveling entah kemana.


"Sadar Arta, kendalikan dirimu. Jangan tergoda hanya karena kamu melihat bibirnya "  batin Arta meronta, jantungnya pun kini berdetak lebih cepat dari biasanya.


Walaupun Arta masih SMA dan sering di anggap masih kecil, tapi dia tetaplah seorang pria pada umumnya, yang mudah tergoda dengan seorang wanita.


Jangan lupa like dan komen ya💙.


Ingat jangan pelit buat ngasih like, komen, vote, dan lupa juga untuk memambahkan ke favorite agar bisa mendapat notifikasi.

__ADS_1


__ADS_2