Bukan Pasangan Biasa

Bukan Pasangan Biasa
Eps 49 (Udah unboxing belum)


__ADS_3

Ceklek


Pintu terbuka, Arta masuk ke dalam ruangan. Terlihat Baim tengah fokus menatap ponselnya, sepertinya pemuda itu tidak sadar akan kedatangan Arta.


"Ngapain lo Im? Fokus banget" Tanya Arta pada Baim. Pemuda itu bahkan tak berkedip saat menatap layar ponselnya.


"Anj*ng kaget gue" pekik Baim terkejut karna kedatangan Arta.


Arta lalu menghampiri Baim yang tengah duduk di sofa dan ikut duduk di sana.


Saat mereka sedang berada di cafe, tepatnya di ruangan Arta. Ruangan yang di desain khusus untuk sang pemilik cafe yaitu Arta sendiri. Para pegawai cafe di sana tidak diperbolehkan masuk ke ruangan itu kecuali atas ijin dari Arta. Sebenarnya cafe ini adalah milik Arta. Ia lah pemegang saham terbesar di cafe itu.


Sedangkan untuk Baim sendiri hanya sekedar membantu Arta saat ia ada waktu senggang karna sebenarnya remaja itu sudah bekerja di perusahaannya sendiri, meneruskan perusahaan almarhum ayahnya yang saat ini sedang berada di bawah naungan perusahaan keluarga Arta.


"Liat apaan sih lo? Sampai gak sadar gue datang" Tanya Arta lagi, melirik ke arah ponsel Baim.


Dengan sigap Baim langsung menyembunyikan ponsel miliknya "Gak ada" jawabnya gelagapan.


Arta mengernyit bingung, wajah Baim bahkan nampak memerah. Ada dengan sahabatnya ini? Pikir Arta.


"Udah selesai lo?" Tanya Baim mengalihkan pembicaraan.


Arta menganggukkan kepala"Heemm" jawabnya.


Ya Arta tadi sedang melakukan meeting dengan seorang klien yang ingin berinvestasi di cafenya.


"Terus gimana hasilnya?" Tanyanya lagi.


"Hasilnya bagus, mereka setuju buat investasi di cafe gue" jawab Arta dan fokus pada laptop di depannya.


Ya beberapa minggu ini Arta memang tengah sibuk mencari investor untuk membuka cabang kafe terbarunya yang akan buka minggu-minggu ini.

__ADS_1


"Ar" panggil Baim.


"Heem apa?" Jawab Arta.


"Lo udah itu belum?" Tanya baim penasaran.


"Itu apa?" Sahut Arta cuek masih fokus dengan laptopnya.


"Yang itu tuh" kata baim.


"Itu apaan? Kalo nanya yang jelas Im, gak usah pake kode-kode gue gak paham, kayak cewek aja lo" ucap Arta.


"Njirr lo nyama-nyamain gue sama cewek" kata Baim kesal.


"Lah abisnya lo nanyanya kagak jelas" balas Arta.


"Maksud gue, lo udah unboxing kak Riska belum" kata Baim lantang memberi tahu maksud pertanyaannya tadi.


"Kamprett... ngapain lo nanya kayak gitu ke gue. Mau gue unboxing atau belum tuh cewek bukan urusan lo" kata Arta mendelik.


Arta memutar kedua bola matanya malas, sejak kapan otak sahabatnya itu jadi gesrek begini? Pikirnya.


Saat menatap Baim, tiba-tiba saja mata Arta menangkap sesuatu yang tidak biasa.


"Sialan... celana lo basah anj*ng" pekik Arta.


Arta menggelengkan kepalanya, pantas saja tadi Baim menanyakan hal itu padanya, sepertinya sahabatnya itu baru saja memutar film d*w*sa saat Arta meeting tadi.


Baim hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ar lo punya baju ganti gak? pinjem dong" kata Baim.

__ADS_1


"Ambil aja di lemari" jawab Arta dan kembali fokus ke layar laptopnya.


Baim mengangguk, lalu remaja itu lantas berjalan menuju lemari dan mengambil salah satu baju Arta yang di rasa pas untuknya. Baim lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Beruntung ukuran tubuh mereka hampir sama, jadi Baim tidak perlu susah-susah mencari baju yang ukurannya pas di tubuhnya.


Arta memang selalu menyiapkan baju ganti di ruangannya, hal itu di lakukannya agar ia tidak perlu repot bolak balik hanya untuk berganti pakaian.


Ceklek


Baim membuka pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya ke luar.


"Ar lo beneran udah unboxing kak Riska belum sih? Tanyanya


Sepertinya Baim masih penasaran dengan itu.


Arta melotot, sepertinya sahabatnya ini sangat penasaran dengan itu.


"Stop nanya kayak gitu atau gue tabok pala lo pake nih asbak" kata Arta mengangkat asbak rokok di tangannya, siap melemparkannya ke arah Baim.


"Oke oke gue berhenti" jawab Baim merengut karna rasa penasarannya belum terjawab.


Baim kembali menutup pintu kamar mandi, tapi belum sempat pintu itu tertutup sempurna Baim kembali menyembulkan kepalanya.


"Ar kalo lo belum unboxing kak Riska, gue siap kok nunggu jandanya" ucap Baim dan bergegas menutup pintu kamar mandi sebelum sebuah asbak mendarat mulus di kepalanya.


Mendengar ucapan Baim, Arta mengumpat kesal, sumpah serapah keluar dari mulutnya. Jika saja tadi Baim tidak menutup pintu kamar mandinya, sudah pasti Arta akan melemparkan asbak rokok itu ke kepala Baim, agar otak sahabatnya itu bisa normal kembali tidak gesrek lagi. Tapi entah kenapa ada rasa tidak rela jika sahabatnya itu menanti Riska. Ia merasa marah pada Baim. Ada apa sebenarnya denganku? Batin Arta bingung.


Sementara di kamar mandi, Baim tergelak mendengar umpatan Arta. Untung saja ia cepat menutup pintu kamar mandi jika tidak mungkin kepalanya akan bocor terkena asbak rokok yang terbuat dari kayu itu.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa untuk tetap memberikan like dan komen.


__ADS_2