
"bik, nanti arif mau kesini tolong sampaikan suruh tunggu sebentar" ucap gala pada bik inah
arif menghubungi gala bahwa akan datang kerumahnya
"baik pak" jawab bik inah
gala mandi dan bersiap setelah berolah raga, rutinitasnya saat hari libur yaitu menyibukan diri dengan berolah raga dan sekedar menonton film kesukaanya yang bergenre horor atau laga
setengah jam kemudian gala turun ke lantai bawah, dan belum melihat sosok yang berjanji akan datang ke rumahnya
"selamat pagi pak" seorang tamu wanita datang kerumah gala dipagi hari
suara yang tak asing namun gala tak dapat menebaknya karena tak ada janji dengan siapapun kecuali sahabatnya
"ya!!!!!
kamu ngapain kesini? tahu dari mana alamat saya?" tanya gala bertubi-tubi
"tamu tuh suruh duduk dulu kali pak, baru ditanya-tanya" ucap nabila yang datang dengan membawa sesuatu
"ohhh, iya maaf. soalnya tamunya ngga diundang sih" ucap gala tak kalah ketus
"ngga masalah, saya cuma mau menukar barang saya yang tertukar. ini milik bapak!
dan saya minta milik saya" ucap nabila membuat gala tak mengerti
"oke, duduk dulu jelaskan pelan-pelan" ucap gala mempersilahkan nabila duduk dan bersantai
"jadi, paper bag ini isinya. tak perlu saya jelaskan tapi saya yakin ini bukan punya saya. saya juga ngga nyangka kalau bapak......"
nabila menelan slavinya dan tak melanjutkan bicaranya pada gala
"ngga jelas banget sih, bawa sini saya lihat" gala mengambil barang ditangan nabila dan melihatnya sendiri isinya
__ADS_1
"astaga! kenapa bisa ketuker
hemmm, saya tahu apa yang kamu pikirkan, tapi tunggu dulu saya tak seperti itu, ini milik calon istri saya yang tertinggal. paham!!" ucap gala tanpa sengaja membuat nabila terdiam
"iya pak saya paham, bukan urusan saya jika itu punya siapa. saya hanya ingin menukarnya saja dengan milik saya" ucap nabila
"oke tunggu sebentar, saya ambilkan dulu" ucap gala meninggalkan nabila sendiri di ruang tamunya
"memang didunia ini hanya kak zakir yang tak pernah mempermainkanku!" ucap nabila dengan rasa sedih yang tak tahu kenapa dia merasakan itu
"gal!! gala" panggil seeorang yang datang kerumah gala bersama seorang wanita
"pak gala sedang diatas pak, silahkan tunggu dulu" ucap nabila mewakilkan yang punya rumah
"sebentar, sepertinya saya mengenal ibu, tapi dimana ya?" tanya arif yang memang pernah bertemu nabila sekali
"iya pak, kalau tidak salah bapak pengacara papa saya kan? emm maksudnya pak dirga" ucap nabila menjelaskan
iya memang mudah menghafal wajah seseorang
nabila tersenyum mengingat dian yang juga pernah ia temui saat meeting bersama kakaknya.
"bu dian, apa kabar?" tanya nabila
"kamu kenal sayang?" tanya arif pada dian
"iya sayang, beberapa kali kami bertemu untuk rapat" ucap dian
"ohhh, lalu ....." ucapan arif terhenti
"udah dateng loe?" ucap gala yang baru saja menemui para tamu dirumahnya
"keterlaluan banget lo gal, masa hari minggu masih aja kerjain orang" ucap arif
__ADS_1
"ngga usah sok tahu deh! ini barangmu" ucap gala menyela arif dan juga memberikan barang pada nabila
"oke, kalau begitu saya pamit dulu pak arif, bu dian" pamit nabila tanpa menyebutkan nama gala
hatinya merasa jengkel dan entah kenapa jadi sensitif
nabila pergi begitu saja keluar dari rumah gala dan membawa barangnya pulang, namun sebelumnya ia mengecek barang itu apakah benar atau tidak
"loe kenal rif sama nabila?" tanya gala penasaran
"bukannya bapak juga kenal kan?" tanya dian yang sudah tak terlalu canggung pada gala karena gala sendiri yang memintanya
"dia klien kakap gue waktu itu. jadi dia anak bungsu pemilik perusahaan MP. yang terjerat kasus cukup unik menurutku. tapi bayarannya luar biasa, jadi gue bisa nikah cepat karena itu" ucap arif
"tapi kenapa dia mau bekerja jadi sekretaris kakaknya, kalau dia juga anak dari pemilik perusahaan itu?" dian penasaran
"entahlah sayang, kadang orang kaya memang aneh" ucap arif
"oke gue kesini mau ngasih undangan resmi pernikahan gue minggu depan. dan maaf ya gal gue ke pelaminan dulaun" ledek arif
gala meleparkan bantal pada arif karena berani mengejeknya,
"tapi gue heran kenapa loe ngga segalau waktu claudia ninggalin loe nikah ya, sekarang kaya biasa aja gitu" tanya arif yang memperhatikan sikap sahabatnya tentunya
"ya mungkin karena bukan pertama kalinya gue sakit hati dengan orang yang sama, emang lebih baik hidup sendiri. bebas" ucap gala tanpa rasa bersalah
"jangan sembarangan kalau ngomong, hidup sendiri kaya bisa aja loe. liat aja ngga lama lagi juga ada tuh yang bikin loe jatuh cinta. jangan sampe salah orang lagi" ucap arif yang juga menasehati gala
"udah lah, males gue bahas itu! jadi loe mau minta apa tiba-tiba kesini?" tanya gala mengalihkan pembicaraan
"tiket honeymoon dong, sesuai janji kita siapa yang menikah duluan" ucap arif
"jadi cepet-cepet nikah cuma mau dapet itu" kesal dian yang sejak tadi menyimak obrolan kedua sahabat itu
__ADS_1
"engga sayang, bukan itu maksudnya. gala yang buat perjanjian itu" arif sibuk menjelaskan pada dian sedangkan gala pergi meninggalkan keduanya dan melanjutkan menonton film kesukaanya sambil meminum kopi