
Ktik.. Ktik... Ktik... Ktik... Ktik...
Ktik... Ktik... Ktik... Ktik... Ktik...
"Haha aneh sekali orang itu. " Gelak Lusy.
"Wanita keren... " Ujar Lona.
Kedua gadis muda itu tengah asyik dengan laptop masing-masing.
"Lusy, Lona!! Apa kalian sudah tidur?? " Tanya nenek dari luar pintu.
"Belum, nek. " Jawab Lusy dan membuka pintu kamar.
"Boleh nenek masuk? "
"Masuk saja.. Kan biasa nya nenek selalu menerobos masuk, meskipun susah ku beri police line. " Gerutunya.
"Itu beda.. Kali ini nenek ingin minta izin dulu karena ada tamu. " Jawab nenek.
"Masuk saja nek. " Seru Lona.
Nenek masuk. Namun dia membawa sebuah benda di tangan nya.
Apa yang nenek bawa? Aku belum pernah melihat benda itu sebelumnya?? Batin Lusy.
"Bisa kah kalian mendekat? " Tanya nenek.
Kedua nya mengangguk. Nenek sudah duduk di kasur milik Lusy. Lona dan Lusy duduk di samping kanan dan kiri nenek.
"Nenek punya masalah? " Tanya Lusy.
"Tidak.. "
__ADS_1
"Lalu?? "
"Nenek ingin memberikan sesuatu untuk kalian berdua"
"Kita? " Ulang Lusy
"Berdua?? " Lanjut Lona.
Nenek membuka kotak cokelat yang ia bawa dari tadi. Kotak itu di kunci oleh sandi. Nenek memutar mutar urutan angka hingga klik!! Kotak itu terbuka.
"Apa itu? " Gumam Lusy.
"Lusy, kamu masih ingat ini? " Tanya nenek.
Nenek mengambil sebuah liontin perak berukir'kan nama nya.
Lusy menggeleng. Jujur dia tidak tau. Tau saja tidak, bagaimana mau ingat.
"Wajar kalau kau tidak ingat, ini adalah liontin pemberian Papa mu saat umur mu genap 1 tahun. " Nenek menimang pelan benda perak itu.
"Papa dan mama mu berharap mereka akan di karuniakan seorang anak lagi, tapi itu hanya sekedar angan. Impian mereka tidak tercapai, tapi mereka tetap bahagia karena sudah memiliki mu. "
"Dan liontin putih ini, sebenarnya akan menjadi milik adik mu, tapi ya.. Seperti yang nenek bilang tadi, hehehehh... " Kekeh nenek.
"Lalu, jika Papa pernah memberi ku liontin ini, kenapa aku tidak tau ya?? " Lusy berusaha mengorek ngorek ingatan nya.
"Tentu saja kau tidak ingat. Umur mu baru saja 1 tahun, kau masih belum bisa berjalan, hadeh perkembangan mu sangat lamban, bahkan Samuel saja sudah bisa berjalan saat usia 1 tahun. " Delik nenek.
Lona tergelak, dan Lusy merengut.
"Kau sering melepas nya, kau terus menarik narik liontin ini hingga terlepas, bahkan pernah putus. Dan ayah mu terpaksa menyambung kembali liontin ini. Dan nenek saran kan, liontin itu di simpan saja. Dari pada kau menghilangkan barang berharga ish... Ish." Geleng nenek.
"Hahaha.. Seperti kak Lusy tidak menyukai liontin ya.. " Ledek Lona. .
__ADS_1
"Kau benar, dia sangat tidak suka benda benda perempuan. Apa lagi jika Mama nya memasang pita di rambutnya, dia akan melepas setelah di pasang. Haduhh... Itu membuat ku jengkel. Dia tidak suka barang perempuan, tapi suka barang laki-laki.!! "
"Nenek bingung, apakah dulu saat papa dan mama mu membuat adonan diri mu, mungkin saat itu ibu mu sedang malas, tapi papa mu ngebet ingin membuat adonan. Jadi nya gen Papa mu lebih dominan dari pada gen Mama mu... " Ucapan nenek semakin melantur kemana-mana.
"Chahahah.... astaga.. bisa begitu ya??" Lona tergelak.
"He.... ejek saja aku terus, lalu nenek kenapa kesini membawa liontin itu?" rungut Lusy.
"Ini... nenek rasa sudah saat nya kamu menggunakan nya kembali. Untuk apa benda di simpan terus, ? Lagi pun, kau tidak mungkin kan menarik narik ini hingga putus. ??" Sindir nenek.
"Hhhhh!! Nek. aku juga tau mana barang bagus dan mana barang jelek. " balas Lusy.
Lona sesekali tertawa kecil melihat perdebatan dua perempuan beda zaman tersebut.
"Lalu jika yang warna perak untuk ku, yang putih... ???" tanya Lusy menggantung.
"Nenek akan memberikan pada Lona, jika kau tidak keberatan. " jawab nenek.
"Ehhh!!!! " 😧
"Aku??" Lona menunjuk diri nya.
"Mungkin jika Papa dan Mama mu memiliki anak lagi, usia nya pasti sebaya dengan Lona. " ujar nenek.
"Kenapa aku Nek?" Lona masih tidak habis pikir. Barang seberharga itu dengan mudah nenek memberi kan nya.
"..... " Lusy masih tampak terdiam.
"Nek,! nenek yang benar saja!!? ini barang mahal Loh?? Kakak ku sebagai sopir taksi mungkin akan menabung 2 tahun untuk membeli nya.!! " tutur Lona dengan dramatis di buat buat.
"Hehhh!!! ... liontin ini tidak semahal itu... Harga tidak menjadi acuan seberapa berharga nya barang itu. Tapi menurut nenek barang itu berharga karena kenangan, sejarah nya. Liontin ini sudah ada sejak Lusy masih memiliki kedua orang tua nya. Dan ini menjadi satu-satunya peninggalan mereka. " tutur nenek.
Air mata Lusy mulai menganak sungai. Memori beberapa tahun silam muncul seperti DVD film yang bisa di ulang. Dan memori yang paling di ingat nya adalah saat ia kehilangan kedua orang tua nya.
__ADS_1
Setidak nya duka yang ia rasakan bisa ia bagi pada sang Mama.