
DORRR.....!!! DDDOOORR!!!! DDDOORRR... AAKKHHHH!!!!!!...
Seteguk darah kental keluar begitu saja dari mulut seorang pria jangkung. Dua timah panas bersarang tepat di jantung nya dan sebutir lainnya berada di Esofagus nya. Mata terbelalak ke atas seolah ikut merasakan sakit.
"Itu akibat nya jika mengacau. " Ujar seorang sosok pria tinggi bertubuh tegap.
"Mr.M misi kita sudah selesai. "
"Bagus. Urusan kita sudah selesai. " Mr. M melempar pistol M1911, juga dikenal sebagai Colt 1911, atau Colt Government milik nya.
Dengan sigap pria yang mendampingi Mr. M menangkap nya dan menyimpan nya di dalam saku jas nya.
"Bagaimana dengan mayat orang ini Mr.?? "
"Biar kan saja hingga di temukan orang orang. Polisi dan wartawan kan juga butuh uang. Secara tidak langsung aku sudah memberi mereka uang. " jawab Mr. M.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TINNGGG!!!!!
"Lusy!! kue mu sudah matang!!.. Apa nenek perlu mengeluarkan nya???" Teriak nenek.
"Iya nek. Tidak perlu biar aku saja yang mengeluarkan nya, nenek buka saja oven nya.!! " balas lusy sedikit berteriak.
Dengan semangat, Lusy langsung mengambil kue yang baru matang dari oven hingga dirinya lupa menggunakan sarung tangan tebal dan alhasil....
"Assssttt!!! Panas!.. " Lusy meniup niup tangan nya yang melepuh.
"Kemari kan tangan mu!! " sebuah suara membuat nya kaget.
"Heii!!! kau.... "
"Ssttt... diam lah atau nenek mu akan mendengar suara mu. " ujar orang itu.
Tangan Lusy di letakkan di keran wastafel pencuci piring. Dan siram dengan air dingin agar tangan nya tidak melepuh.
"Kenapa kau kesini??" Tanya Lusy sembari melirik orang di sebelah nya.
"Nenek mu mengundang ku makan siang."
"Marco apa kau menemukan sendok nya??" Nenek datang menghampiri.
Lusy langsung mendorong tubuh Marco hingga terjerembab ke lantai. Lusy sudah mirip orang yang ketahuan melakukan sesuatu yang salah.
BHHUUKK.....
"Aaaawwww!!! " (Marco)
"Astaga.. " ( Lusy)
"Ya ampun.. " (nenek)
"Gukk... Gguuukk... " (Pollo)
Marco bangkit dan mengusap boko*ng nya yang mencium lantai.
"Kenapa aku di dorong??!! " pekik Marco sambil berdesis kesakitan.
"Ak—kuuu... tidak sengaja... " Cicit Lusy dengan malu menutup sebagian wajah nya.
__ADS_1
"Are you Ok Marco?? ... astaga maaf kan Lusy ya.. " nenek meminta maaf.
Lusy?? Jangan di tanya, jika bisa, dia akan memilih berubah menjadi nyamuk saking malu nya.
"Ya sudah makan dulu, nenek sudah mengeluarkan kue nya dari oven.. Jika kalian tidak makan sekarang, maka Pollo yang akan menghabiskan makanan di meja. " kata nenek.
Marco lalu menuju ke ruang makan. Sedangkan Lusy memasukkan sisa kue yang harus di panggang lagi. Hanya tersisa sedikit.
Pak tua Ken sedang tidak berada di rumah saat ini. Sam juga sedang bekerja, sementara kedua orang tua Sam sedang pergi. Jadi Pollo di titip kan ke rumah Lusy.
Back to story...
"Terima kasih sudah mengundang ku makan di sini, nek. Tapi aku tidak bisa lama.. Karena aku harus mencari beberapa penumpang agar dompet ku tebal. " Ucap Marco.
"Oh... itu bukan masalah. Nenek hanya merasa sepi saja, karena sejak Lusy di pecat, dia terus membuat kue dari pagi, kemudian lanjut malam lagi." Ujar nenek.
"Apa makanan nya masih bersisa?? . Aku Kelaparan" Lusy menarik kursi, duduk dan mulai makan.
Marco nampak berpikir...
"Apa aku boleh membantu kalian??"
"Ha??" Nenek
"Ya Ampun Nek... Kenapa makanan milikku asin sekali" Lusy menyambar air apa saja yang berada di meja.
"Hei!! Aku akan meminum itu!!!! " Ketus Marco.
"Astaga.. Pantas saja asin. Aku salah mengambil sendok. Sendok ini bekas garam... " Gerutu Lusy.
"Kau mengambil air ku. " Gerutu Marco.
"Tadi kau bilang apa Marco?" tanya nenek di sela perdebatan kecil.
"Oh aku sampai lupa. Apa aku boleh membantu kalian. ??" Tanya Marco.
"Bantuan apa yang ingin kau berikan??" tanya Lusy.
"Aku punya kedai kecil tidak jauh dari rumah ku. Aku sempat membuka usaha kue kecil-kecilan sebelum menjadi sopir taksi. " Imbuh nya.
Nenek dan Lusy mengangguk paham.
"Tapi.... " tambah Marco.
"Tapi ????" Kening Lusy berkerut...
"Adik ku juga harus ikut membuat kue. Hanya itu syarat ku. Jika kau tidak mau, tidak apa apa" jelas nya.
"Di mana letak rumah mu Marco??".
" Dekat dengan area taman, Nek" Jawab Marco.
"Kalau begitu, nenek mengizinkan. "
"Loh.. kok??? Kan aku udah langganan sama toko nya bibi Rosie, nek... " Tukas Lusy.
"Lagi pula, aku tidak mampu jika membuat lebih banyak kue untuk 2 toko. " tutur Lusy.
"Karena itu, aku bilang adik ku juga membuat kue. " Kata Marco.
__ADS_1
"Nenek.. Sudah lewat jam makan siang. Aku akan pergi lagi, meskipun aku tidak bekerja di kantor, tapi aku harus disiplin waktu. Waktu itu emas. " Imbuh Marco.
"Baik lah kalau begitu.. Berhati-hatilah di jalan. " ujar nenek.
"Owh tunggu sebentar Marco.. " Lusy berlari ke dapur..
Tak lama di tangan Lusy menenteng 1 kantung kertas berwarna cokelat.
"Ini untuk mu. Kau bisa makan di jalan nanti. " Kata Lusy.
"Terima kasih.. Lusy, Nenek.. aku berangkat, Sampai jumpa. " Pamit Marco.
Nenek mengantar kan Marco hingga pintu depan.
"Aku pamit ya, nek. "
"Marco" seru nenek sebelum Marco benar-benar pergi.
"Apa kau sudah menikah??" tanya nenek.
Marco terdiam.
Menikah???... Satu kata yang tidak pernah Marco pikir kan.
"Belum nek. "
"Apa ada seorang gadis yang singgah di hati mu saat ini??" tanya nenek lagi.
"Tidak ada nek. " Jawaban jujur yang Marco berikan.
"Jika, ada seorang gadis yang berhasil menjadi pemilik hati mu, nenek harap itu adalah Lusy. " tutur nenek dengan tatapan sayu. Kerutan menghiasi wajah cantik nya yang tak lagi muda.
"Aku pergi nek."
BBLLAPP.....
BBBRRUUMMMM.....
Taksi Marco meninggalkan pekarangan rumah nenek.
"Apa dia sudah pulang nek??" Tanya Lusy tanpa mengalihkan pandangan dari adonan kue.
"Sudah sayang.." jawab nenek.
Aktivitas Lusy terhenti. Ia menatap wajah wanita tua yang paling dia sayangi. Karena wanita itu dia terus bertahan, terus mencari nafkah, terus bangkit.
"Nenek memanggilku sayang?? Sudah sangat lama aku tidak mendengar nenek memanggilku begitu.. " Lusy memeluk tubuh tua nenek.
"Kau harus kuat ya sayang.. Ingat lah kau tidak sendiri. Banyak orang yang menyayangimu. Berusaha lah, dan yakin. Kau harus menjaga kesehatan mu. Jangan terlalu memaksakan diri mu untuk mencari uang. Carilah kebahagiaan mu sendiri. Kau masih muda, hidup mu masih panjang. Nenek akan selalu menemani mu, walaupun raga nenek tidak bersama mu. " tutur nenek.
Dia merasa seperti memeluk Lusy yang berumur 10 tahun. Gadis kecil ceria, yang kehilangan senyum karena kepergian orang tercinta. Dia tidak sanggup membayangkan jika suatu saat diri nya pergi ketika sang cucu belum memiliki pendamping.
"Apa yang nenek katakan??? Aku bekerja keras untuk kita berdua, nek. Untuk kebahagiaan kita. Lagi pula aku bahagia sangat—sangat bahagia karena nenek selalu ada untuk ku. “
" Baik lah nek, ini sudah siang. Aku ingin nenek minum obat dan tidur.. Jangan terlalu lelah. "Pinta Lusy.
" Baik lah semanggi kecil ku. " Angguk nenek.
Setelah memastikan sangat nenek meminum obat nya dan tidur, Lusy melanjutkan membuat kue nya.
__ADS_1