Bukan Supir Taksi Biasa.

Bukan Supir Taksi Biasa.
epsd 22


__ADS_3

"Kakak!!!! Halo!!.. KAK LUSY JAWAB KAK!!! " Lona terus menggenggam telpon nya.


Marco yang mendengar adik nya berteriak segera menyusul nya ke dalam toko. Dan mendapati adik nya menangis.


"Ada apa ini??.. Kenapa kau menangis?? " tanya Marco.


"Kak... Hua... kak Lusy... huhuuuu.... " Rengek Lona.


"Kenapa dengan Lusy. ?? Dia baik baik saja kan?" tanya Marco.


Marco mendekap adik nya menyalurkan rasa tenang.


"Tadi aku menelponnya, pertama dia menjawab telepon ku. Tapi tiba-tiba saja dia berteriak keras dan bilang minta tolong... Aku sudah memanggilnya beberapa kali, tapi Ponsel nya mati.. Bagaimana ini kakk!!!!? " jelas Lona.


"Aku tidak tau, tapi ku pikir kak Lusy di culik.. Bagaimana ini,??kalau dia kenapa napa bagaimana.?? Apa yang akan nenek katakan jika tau kak Lusy di culik..!!!?? " Lona malah semakin histeris.


"Ssssuutt... Tenang lah.. Pertama kau harus tenang dulu. Kah tidak akan bisa berpikir jika kau masih menangis. Oke.. tenang lah" Marco berusaha menenangkan Lona.


10 menit.....


"Oke.Kau sudah tenang, apa kau lapar?Mungkin kan mau makan dulu??" Tanya Marco.


Sedangkan Lona menggeleng dengan mata bengkak karena berusaha untuk tidak menangis tapi malah semakin menangis.


"Tidak.!! Aku mau pulang ke rumah Nenek. " jawab nya.


Lona berdiri dan langsung menuju mobil Marco yang terparkir di depan toko mereka.


Marco merogoh ponsel nya dan menekan nomor seseorang.


"Halo Peter. Bisa kau melacak nomor ponsel?"


"....... "


"Akan aku kirim lewat pesan. "


"..... "

__ADS_1


"Nanti malam aku akan ketempat mu. "


"... "


"Baiklah. Aku tutup dulu. "


"... "


Percakapan singkat namun membuat penasaran seorang gadis yang duduk di bangku samping pengemudi.


"Siapa yang kau telpon? Kenapa lama sekali?" tanya nya.


Marco tersenyum dan mengusap surai pirang milik sangat adik.


"Bisa kau berikan nomor Lusy? Kakak akan meminta seorang teman untuk melacak ponsel Lusy lewat nomor nya. Semoga saja itu berhasil dan kita tau lokasi Lusy. " Pinta Marco.


"Hhhhaahh... Apa itu bisa. Baiklah baiklah... Akan aku kirim sekarang pada kakak. " Lona dengan antusias, dia berharap apa yang di katakan Marco benar adanya.


"Terimakasih Lona. Kalau begitu kita kerumah nenek sekarang. "


...****************...


"Kalian sudah pu—dimana Lusy?" Nenek membuka pintu.


"Nenek.. ~~🥺" Lona menatap wajah nenek dengan berkaca kaca..


"Kau kenapa Nak? " Nenek mengusap pipi Lona.


Sementara di belakang sana Marco menenangkan Lona yang akan kembali menangis.


"Huuuaaa!!!! Heuuuu... huhuhu.... Kak Lusy di culik..... " 😭😭.


"A-apa???... " Sejenak nenek merasa tubuh nya limbung. Namun ia berusaha mempertahankan keseimbangannya.


"M-masuk lah... tidak baik berbicara di depan pintu. " pinta nenek dengan suara lemas.


Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu. Tanpa ada yang mengeluarkan suara satu pun. Hanya terdengar isakan kecil dari Lona.

__ADS_1


Marco merangkul bahu adik nya sembari mengusap pelan. Dan terus membisikkan bahwa Lusy akan baik baik saja.


"Nenek... ma-maaf kan Lona nek, kalau saja Lona ikut berkeliling menyebarkan brosur, pasti kak Lusy tidak akan hilang begini... Maaf kan Lona nek. Kalian baik pada Lona, tapi Lona malah membuat kak Lusy ce-... "


"Sshhuuhttt.. Sudah lah, jangan menangis. Ini sudah takdir. Kita hanya bisa mendoakan Lusy, semoga dia baik baik saja. Dan keberuntungan menyertai nya. " Nenek menenangkan gadis labil itu.


"T-tapi nekk.... huuwaa.... aku harus mencari Kak Lusy dimana pun dia!!!! " Lona bangkit secara tiba-tiba dan histeris.


"Lona jangan!! " Marco menahan tubuh adik nya sebelum berhasil melewati pintu yang sudah terbuka sedikit.


"Tapi kak Lusy!!! Ini semua karna ku kak!! lepaskan aku!!! " Lona memberontak, menjerit dan menangis.


Bahkan dia sempat menginjak kaki Marco dengan sepatu sneakers nya.


Nenek semakin tambah sedih melihat histeris nya Lona. Tapi dia tidak ingin memperlihatkan nya. Jika dia menangis, ia yakin bahwa gadis muda yang tengah terduduk sambil menangis itu akan semakin merasa bersalah dan ngotot mencari keberadaan cucunya.


"Lona.. Nak.... dengar nenek. " Lansia cantik itu menyeka lelehan air yang membasahi pipi Lona.


"Kau tau kenapa Lusy di beri nama Lusyana??" tanya nenek.


"Karna nama nya yang berarti keberuntungan. Kak Lusy pernah mengatakan itu. " jawab Lona.


"Jadi, kau harus yakin, bahwa keberuntungan akan selalu menyertai nya. Lagi pula, Lusy bukan gadis lemah. Dia bisa melawan dan membela diri. " tutur nenek.


"Tapi Nneekkk.... " Lona mulai menangis.


"Shhhuutt.... Lebih baik kau beristirahat dulu. Mandilah setelah itu temani nenek makan malam. Kau juga ya Marco" pinta nenek.


"Maaf nek, aku tidak bisa. Ada teman ku yang bisa melacak ponsel melalui nomor ponsel nya. Dan aku akan menemui nya sebentar lagi. " tolak marco secara halus.


"Hhhffff.... Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah, jangan sampai niat mu menolong Lusy, tapi malah berakhir kalian berdua yang harus di tolong. " nenek sedikit mencair kan suasana.


"Kakak pergi dulu ya Lo-.... Haishh bocah ini.. " Marco mendengus mendapati adik nya sudah terlelap tanpa sadar.


"Tak apa. Dia terlalu lelah, nenek akan menjaganya. " nenek tersenyum.


"Baiklah nek. Aku pamit. Wish me luck. " pamit Marco.

__ADS_1


Nenek hanya mengantar Marco sampai pintu depan.


__ADS_2