Bukan Supir Taksi Biasa.

Bukan Supir Taksi Biasa.
epsd 50


__ADS_3

Marco tertegun untuk beberapa saat. Pasti ada cara untuk menyembuhkan penyakit nenek Anna. Jika hanya luka itu pasti sembuh. Tapi penyakit ini rasanya sulit.


"Apa ada cara lain untuk menghilang kan penyakit ini? "


"Bisa saja.. hanya untuk meredakan nya itu bisa. Tapi itu tidak efektif. Jika terlalu lama.. maka sama saja kita membiarkan penyakit ini semakin parah. Pasien bisa mengalami gagal ginjal. " jawab Dr. Yorgi.


"Aku mengerti. Aku tau kau bukan Tuhan, tapi aku harap kau dan tim medis mu bisa menyembuhkan nenek Anna. Jika nenek Anna tidak selamat, maka akan ada seseorang yang akan sangat sedih. " ucap Marco.


"Akan aku usahakan. " jawab Dr. Yorgi.


...****************...


Mobil Marco memasuki halaman villa. Masih dengan pakaian yang sama saat di rumah sakit. Masuk dengan wajah lesu. Di ujung bawah tangga nampak Lusy yang masih berwajah bantal, rambut kusut, belek di mata dan mata bengkak.


"Ada apa dengan wajah mu Lusy/Marco" tanya mereka bersamaan.


"Astaga aku bisa gila " ucap Lusy.


"Bagaimana dengan nenek ku? Nenek ku baik-baik saja kan?! Apa nenek terluka?! Hei!! jawab!! " berondong Lusy.


"Hhhhh.... Biar kamu aku duduk Lusy. " jawab Marco lesu.


Mereka menuju sofa yang tidak jauh dari sana. Wajah Lusy kentara dengan kecemasan. Melihat Marco, malah dia semakin cemas..


"Astaga Lama-lama aku yang gila!! Cepat lah katakan!! " desak Lusy.


"Baiklah. Aku berhasil menyelamatkan nenek dari para penculik itu. Tapi nenek tidak sasarkan diri. Lalu aku membawanya ke rumah sakit. Saat itu nenek langsung di periksa oleh dokter yang kebetulan teman ku. Dan dia bilang_... " Marco membasahi bibir nya.


"Cepat selesai kan!!! kau ingin aku melempar mu dengan bantal sofa hahh!!? " Lusy sudah bersiap dengan bantal sofa ditangan nya.


"Teman ku bilang tubuh nenek di suntik obat bius dengan dosis yang tinggi, itu menyebabkan beberapa saraf nenek lumpuh, aku pun tidak tau pasti. Dan juga.. saat menyelamatkan nenek, tubuh nya sempat terlempar keras karena ledakan... "


Lusy terlihat terguncang. Tidak bisa membayangkan tubuh tua itu terlempar kuat..


"Ya Tuhan.. ne..nek... "


Marco mendekati Lusy yang shock. Tertunduk hingga rambut panjang nya menutup seluruh wajah nya. Marco berjongkok, meraih kedua tangan Lusy yang menutupi wajah nya. Menggenggam nya dan mengecup nya berulang kali. Memberikan ketenangan bahawa semua akan baik baik saja.


Lona yang berada di ujung bawah tangga ikut mendengar apa yang Marco ceritakan. Dirinya terduduk dengan berpegangan pada sisi tangga. Ikut merasakan kesedihan Lusy.


"Jangan khawatir Lusy. Teman ku dokter terhebat, aku yakin dia bisa menyembuhkan nenek. "


"Aku harus melihat nenek di rumah sakit sekarang Marco. Hanya nenek yang aku punya. " Tanpa membuang banyak waktu Lusy langsung mengemasi dirinya.


Lona juga ikut berbenah, tidak mau tertinggal.


"Sebaiknya aku mandi. D!!!! "

__ADS_1


"Iya bos. "


"Minta Peter untuk memulihkan rekaman kamera dashboard"


Baik bos." Jawab D.


Sedangkan dikamar nya, Lusy sudah menyelesaikan mandi nya dan sudah rapi dengan pakaian nya. Tidak ada riasan berlebih, hanya pelembab wajah, dan mengikat rambut nya dengan tinggi.


Segera Lusy menyambar tas selempang nya.


Di saat bersamaan, Marco sudah menyelesaikan mandi kilat nya juga dan berpakaian santai.


"Kak.. Apa benar? Apa kondisi nenek seburuk itu" tanya Lona saat mereka di bawah


"Untuk apa aku bercanda dengan nyawa manusia nyatanya dokter sendiri yang mengatakan itu. Kita doakan saja semoga nenek bisa sembuh kasihan Lusy, karena hanya nenek seorang yang dia punya aku tidak tahu bagaimana nasibnya nanti jika nenek pergi. "


Lusi sudah tiba di bawah dengan pakaian rapi


"ayo cepat kita menuju rumah sakit. " Jawab nya sekenanya .


Mobil melesat meninggalkan villa.


Setibanya mereka di rumah sakit. Lusy menarik tangan Marco untuk menunjukkan ruangan nenek Anna.


"Dimana ruangan nya Marco?!! Ayo cepat!! " Desak Lusy.


Ya Tuhan.. Kamar VIP tidak lah murah!!! Batin Lusy.


Tapi Lusy tidak menyuarakan kebingungan nya. Tidak sampai 10 menit mereka tiba di depan pintu kamar nenek Anna.


Didalam kamar itu seorang suster sedang mengecek infus nenek Anna.


"Ya Tuhan NENEKK!!! ... " Lusy hampir saja histeris ketika melihat kondisi tubuh nenek Anna.


Lona juga sama terkejutnya.. Jika tidak ingat ini rumah sakit, dia pasti akan berteriak.


Kondisi nenek Anna terbaring di ranjang pasien.


Selang oksigen melekat di kedua hidung nya. Kepala yang di perban, dan beberapa kabel yang entah Lusy tidak tau apa nama nya juga ada di tubuh nenek.


"Huhuhuhuuu.. Nenek.. Kenapa ini??... " Lusy meremat tangan nenek yang tidak dipasang jarum infus.


"...... " Lona tak bisa berkata-kata, hanya bisa menangis di dada sang kakak.


Suster memberikan ruang untuk mereka, dan keluar dari kamar.


"Maaf kan aku Lusy.. Jika aku lebih cepat menyelamatkan nenek.. Dia pasti akan baik-baik saja.. " Kata-kata Marco menyiratkan penyesalan.

__ADS_1


"Tidak apa, itu sudah cukup. Jawab Lusy.


Suasana terasa aneh karena keheningan dan hanya ada isak tangis disana.


" Pertemukan aku dengan teman mu yang dokter itu Marco! " Pinta Lusy tiba-tiba.


"Baiklah.. Kau bisa ikut aku."


"Kak aku mau menemani nenek disini.. Kalian pergilah. " Lona menolak ikut.


"Baiklah.."


Marco dan Lusy menemui dokter Yorgi. Marco sudah mengetahui ruangan temannya dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Namun yang di cari sedang tidak berada di ruangan nya.


"Maaf! .. Dimana dokter Yorgi? " Tanya Marco pada satu suster yang lewat.


"Dokter sedang menangani operasi " Jawab suster itu.


"Apakah masih lama? " Kali ini Lusy yang bertanya.


"Mungkin 1jam lagi. Karena beliau baru saja memasuki ruang operasi.


" Baiklah Terima kasih. " Ucap marco memutus obrolan.


"Jadi bagaimana? Apa kau mau menunggu atau pulang? " Tanya Marco.


"Hanya sejam, kan? Kita akan menunggu" Putus Lusy.


Mereka kembali ke ruangan rawat nenek.


Begitu mereka sampai di depan pintu Marco menyuruh Lusy untuk masuk lebih dulu. Dia beralasan ingin membeli makanan untuk mereka bertiga. Lusy hanya mengiyakan nya karena dia pun sudah lapar.


Di luar rumah sakit, Marco menelpon Peter untuk mengetahui perkembangan tugas nya.


"Bagaimana Peter? Apa yang kau dapatkan? " Tanya Marco.


Marco mencari tempat sepi di rumah sakit itu.


"Tidak banyak bos. Seperti mobil ini baru mereka gunakan sekali. Rekaman dashboard nya hanya video saat kalian saling kejar kejaran tadi malam. " Jawab Peter.


"Apa mereka membahas sesuatu yang mencurigakan? " Tanya Marco.


"Tidak ada.. Namun aku curiga ada orang lain dibalik perbuatan mereka ini. Jika ini Yu, itu tidak mungkin karna dia sudah tewas oleh mu bos. Ada orang lain yang lebih berkuasa. Mungkin itu dia. " Tambah Peter lagi.


"Baiklah " Dan Marco mematikan telpon sepihak.


Tungkai nya berjalan ke minimarket tak jauh dari rumah sakit. Tatapan mata nya kedepan namun yang ada di benak nya adalah dia....

__ADS_1


__ADS_2