
"Kak Lusy... apa kakak tidak curiga pada laki-laki disana ??" tanya Lona.
"Aku curiga, tapi aku tidak yakin. Laki-laki itu sudah berdiri di sana hampir 45 menit lamanya. " ujar Lusy
"Penampilan nya mencurigakan, iya kan?. Lihat saja, cuaca panas begini, malah memakai Pakaian serba hitam. Ohh!! apa mungkin dia habis dari pemakaman kenalan nya, dan dia lapar. Tapi tidak punya uang untuk membeli makanan. Makanya dia menatap toko kue kita dari tadi kak.. " Tebakan Lona bisa saja benar pikir Lusy.
"Mungkinkah begitu??" tanya Lusy.
"Aku yakin 100% kak. Lihat saja, dia hanya berdiri dan kadang duduk di bangku taman itu. " Ujar nya.
"Baik lah.. Kau jaga toko ini sebentar, aku akan memberikan dia beberapa roti dan kue. " ujar Lusy.
Lusy mengambil kantong kertas coklat lumayan besar. Dia memasukkan beberapa potong roti 🍞 dan kue ukuran sedang. Kemudian membungkus nya. Masih dengan celemek nya dia berjalan mendekati laki-laki yang di maksud.
"Hei bro.. Aku rasa kau akan perlu ini. " ujar nya.
Laki-laki itu bingung. Dia membetulkan letak kacamata nya dan terlihat gelisah.
"Ap-apa maksud mu?" tanya nya.
"Jangan berbohong. Aku tau kau habis dari pemakaman, dan kau lapar tapi tidak bawa uang. Makanya kau terus menerus menatap toko kue ku di sana. Ambil saja.. " Lusy kembali menyodorkan bungkus kertas itu
"Aku... aku tidak perlu... Ambil saja kembali..!! " Ujar nya dan melarikan diri dari sana.
"Hhhehh!! Dasar laki-laki aneh... Kau aku beri makanan gratis tapi tidak mau.. Kau itu seperti gelandangan Tapi level mu VVIP!! " gerutu Lusy.
Lusy kembali sambil mendumel dumel...
"Dasar tidak tau Terima kasih.. " kata nya.
"Terima kasih. Datang lagi. yaa.. Bye... " Ucap Lona pada seorang wanita pelanggan wanita.
"Kau kenapa kak.. Loh? loh?? kok di bawa lagi?.. " tanya Lona.
"Bodoamat lah.. kau susun saja kembali kue dan roti itu. Sekarang aku malas bicara pada laki-laki!! " ketus nya.
"Aku ke toilet dulu.. " ucap nya melepas celemek.
Lona dengan sepaket wajah heran nya sambil menyusun kembali kue dan roti tadi. Dia kaget begitu Lusy memekik.
"Aaregghhh!!! kenapa harus sekarang sihhh!!!! "
Tanpa babibu, Lona mendatangi Lusy.
"Ada apa kak?!! apa terjadi sesuatu??" Lona membungkuk dengan napas setengah nya.
"Apa kau bawa pembalut.. ckkk.. Hari ini menyebalkan sekali!" Decak nya.
__ADS_1
"Aku bawa, tapi hanya satu... tunggu sebentar kak. Akan ku ambil kan. " Ucap nya, lona bergegas mengambil pembalut itu sebelum Lusy menghancurkan toko mereka.
"Thanks.. " ucap Lusy singkat dan memakai pembalut itu.
Lona kembali depan, takut ada pembeli yang datang. Dan keluar lagi karena tidak ada pelayan.
Ttttrrriinng...
"Selamat datang.. " Sapa Lona tanpa melihat.
"Kau kira aku ingin membeli kue kalian?" tanya nya.
"Kak Marco... Wah.. sudah selesai bekerja ya?" Sahut Lona kegirangan.
"Belum, kakak sedang istirahat karena matahari nya panas sekali... Oh iya, ini kakak bawakan minuman dingin " Marco mengangkat bawaan nya.
"Waaaawwww... Es krim!!! " Seru Lona dengan heboh.
"Kenapa kau berteriak Lona?" Tanya Lusy.
"Kak ambil ini. Ini bisa memperbaiki suasana hati mu. " Lona menyodorkan es krim.
"Uuhh.. Thanks.. Lona, thanks Marc... " Ucap Lusy.
Baru saja Marco ingin bertanya, tapi Lusy sudah menjawab.
"Hahah.. Kau memang cepat tanggap.. " Kekeh Marco.
Lona mengambil kan kursi untuk Marco, hanya kursi bulat tanpa sandaran seperti miliknya dan Lusy.
"Oh iya kak.. Tadi, ada laki-laki yang terus menatap toko kami kak.. " Lona melapor.
Marco menyipitkan mata nya. Curiga dengan dugaan nya.
"Lalu aku menebak, kalau dia lapar dan tidak punya uang, makanya menatap ke sini terus.. Kemudian kak Lusy keluar dan memberi nya roti. Tapi dia menolak dan pergi.. Dan karena itu, mood kak Lusy jadi jelekk... " Lona berbisik di penghujung ucapan nya.
Marco mengangguk, entah apa yang kini dia pikirkan. Tapi dia bisa memastikan itu bukan lah Wen Duda atau Eric Xandal. Karena kedua nya tidak menyukai pakaian hitam, tapi pakaian nyentrik ala tahun 80'an atau 90'an.
"Tapi dia terlihat baik baik saja.. " Marco menunjuk Lusy dengan dagu nya.
"Haihh... itu karena mood nya sudah agak membaik. Jika kauu melihat nya tadi.. errghh... ME NYE RAM KANN!!!! " ucap Lona.
Sementara itu, Lusy hanya diam saat dirinya sedang di perbincangkan oleh dua kakak adik ini.
"Apa kalian tidak mau memberiku sedikit kue untuk di makan. ?? Tega sekali, aku sudah membeli es krim untuk kalian, tapi apa balasan nya... " cibir nya.
"Helleh... Tidak ikhlas sekali kau jadi Seorang lelaki. Aku baru tau jika ada spesies seperti mu. " sindiran telak untuk Marco dari Lusy.
__ADS_1
"Ini... makan lah.. "
Dengan semangat Marco menyambar kue itu.. "Oh iya, kabar nenek bagaimana?.. " Tanya nya.
"Nenek mulai menjalankan giat hidup sehat, yang sebelumnya selalu makan roti dengan selai tanpa sayur, kini dia hanya makan sayuran berserat dan sedikit roti. " ujar Lusy.
"Bagus lah.. Tidak baik kalau terus menerus makan roti dan selai. Apa lagi keduanya mengandung glukosa.... "
Tiba-tiba seseorang melemparkan sebuah batu bata.
Ppprrraaannggg!!!!!
"Aaaaaaa!!!!!! " Lusu dan Lona saling menutup telinga dan bersembunyi di balik meja kasir yang memanjang.
Marco langsung kedepan toko, dia melihat beberapa anak buah D yang mengejar pelaku itu. Kembali ke dalam, dia melihat sebuah bata yang di tempeli dengan kertas. Dia mengambilnya.
Kita bertemu lagi Nona cantik!!!
"Yu!!!!! " Marco meremukkan kertas itu di tangannya.
Dia menilik kedua gadis yang saling berpelukan di balik meja.
"Kalian, tidak apa apa kan?" tanya nya.
Keduanya mendongak, dan berdiri perlahan.
"Apa itu tadi??Apa toko kita di teror!! Ya Tuhan !! " Lusy meremat rambutnya.
Lona masih syok. Marco menenangkan adik nya.
"Sebaiknya Toko ku tutup dulu. Seperti nya tidak cocok menjual kue di panas terik begini. " Ujar Lusy.
Lusy memutar kertas di balik pintu kaca dari Open menjadi Close. Dia melepas celemek nya dan mengemasi barang lain nya. Dan mematikan segala alat elektronik termasuk oven dan lampu lampu.
"Ayo pulang.. " Ajak Marco masih dengan Lona.
Mereka bertiga langsung menuju rumah nenek. Dan sepakat tidak menceritakan kejadian tadi pada nenek.
"Bagaimana dengan orang tadi? Apa polisi --"
"Tidak usah...Tadi sudah ada beberapa orang yang mengejar pelaku itu. Aku yakin mereka akan mengurus nya. " icao Marco.
"Baiklah.. "
"Sebaiknya jangan bahas hal ini lagi. Atau nenek akan curiga, Lona... kau lupakan saja ya kejadian tadi.. " Marco melirik dari balik kaca mobil.
Lona tidak menjawab hanya mengangguk.
__ADS_1