
Marco kembali setelah 1jam. Mendekap kantong kertas karton warna cokelat dengan berbagai isi di tangan kanan nya dan tangan kirinya menenteng kantong plastik yang kira-kira isi nya air minum.
"Maaf sudah menunggu lama" ucap Marco begitu masuk ke ruang rawat nenek Anna.
Ternyata di dalam Lona dan Lusy ditemani oleh Dr. Yorgi yang masih dengan seragam operasi. Mereka seperti habis membicarakan hal yang penting. Marco menatap heran ketiga manusia itu, sambil menyimpan belanjaan nya ke meja sofa.
Netra nya menangkap wajah Lusy yang terlihat merah dan mata yang bengkak.
"Kemana saja kak? Apa beli makanan harus begitu lama?? Tidak memikirkan kak Lusy?!? " Cecar Lona.
"Aku... aku... ehmm.. Kenapa wajah Lusy merah? " Marco malah mengalihkan pembicaraan.
"....." Dr. Yorgi tidak menjawab apapun saat Marco menatap nya.
"Kamu kenapa Lusy? " tanya Marco.
"A—ku.. tidak apa-apa" jawab Lusy.
Ini yang Marco tidak suka dari perempuan. Kita bertanya kenapa tapi yang dijawab malah 'tidak apa-apa' . Ohhh!! Ayolah dia berusaha baik di sini! Dan saat bertanya kenapa untuk yang kedua kali nya, malah sebuah kejutan. Kadang tangisan, kadang kemarahan... Itu WOMEN!
__ADS_1
"Lusy, ada apa? Apa kondisi nenek baik-baik saja?? " tanya Marco lagi. Kali ini suara nya melembut.
"Huuwweee!!..."
Sudah aku duga! ucap Marco kecil bersayap yang ada di imajinasi Marco.
"Bagaimana bisa nenek baik-baik saja!!? lihat nenek Marco!! lihat nenek... ini semua karna penculik biadap itu!! "
"Lah.. lah.. lah... kok ngamok.?? Haruskah aku menjawab begini?? Lusy!! kamu tidak lihat aku Lusy??! Aku buta!! Aku Buta Lusy!!! "
Lolololohh... jauh banget melenceng nya. Ok abaikan saja yang di atas dan kembali ke cerita.
"Menurut ku kalian harus mulai mencari pendonor ginjal. Aku juga akan bertanya pada rekan sesama dokter, apakah ada pendonor ginjal. Yang pasti itu tidak akan mudah. " ucap Dr. Yorgi.
"Tapi... itu akan sulit, bukan sulit lagi tapi sangat sulit. Jangan kan untuk pendonor hidup, mayat saja, keluarga nya belum tentu mau organ tubuh kerabat nya diambil untuk diberikan pada orang lain. " tambah Lona.
"Dan kalau ada, itu... pasti mahal. Aku punya uang, tapi jika untuk membeli ginjal manusia... aku rasa uang ku tidak akan cukup... bahkan jika aku bekerja bertahun-tahun untuk membayar nya itu belum tentu cukup! " Lusy Terduduk lesu ke lantai secara tiba-tiba.
"Untuk masalah uang, jangan di pikir kan!! " ujar Marco.
__ADS_1
"Iya!! Marco sangat kaya! " sambung Dr. Yorgi.
"Hah!! Tapi— Maaf dokter.. aku dan kakak ku hanya tinggal berdua, dan kami bukan lah orang kaya!! " sambar Lona tiba-tiba.
Dua pria itu menatap Lona dengan pandangan penuh arti. Sementara yang ditatap malah terheran-heran. Bukan kan dia benar? Mereka tidak lah kaya... kakak nya masih harus bekerja sebagai sopir taksi untuk kebutuhan harian mereka.
Entah apa reaksi adikku ketika tau aku yang sebenarnya.. haiishhh!!!
"Oww!!!! Aku harus kembali ke ruangan ku karena seragam operasi ini cukup membuatku mandi keringat! " Dr. Yorgi melesat keluar tanpa menunggu jawaban ketiga orang itu.
"Mungkin kita makan saja. Aku lapar sekali " Cetus Marco.
"Ayo kak Lusy. Kakak tidak makan apapun dari kemarin. " bujuk Lona sambil membantu Lusy berdiri.
"Aku tidak lapar, Lona. Nenek bahkan belum makan sampai sekarang.. Ba-bagaimana aku membiarkan nenek kelaparan sementara aku makan dengan kenyang?! " tolak Lusy.
"Dengar Lusy... nenek akan baik-baik saja. Justru kau harus mengisi tenaga mu, karena mencari seorang pendonor tidak lah mudah. Kau sakit maka tak ada yang akan menjaga nenek! " ucap Marco dengan tegas.
"APA KAU MASIH TIDAK PAHAM HAH!! AKU BILANG AKU TIDAK LAPAR MARCO!! Tolong.. huhuuu.. jangan paksa aku.. aku benci dipaksa!... " Akhirnya air mata yang dari tadi dia tahan tumpah sudah.
__ADS_1
"A-aku lelah.. kenapa akhir akhir ini nasib ku sial!! "