Bukan Supir Taksi Biasa.

Bukan Supir Taksi Biasa.
epsd 35


__ADS_3

Marco mengikuti langkah Lusy ke kamar. Dan terlihat adik nya terbaring lesu di kasir milik Lusy. Lusy dengan telaten mengganti handuk kompres. Sesekali dia menyeka keringat di leher dan beberapa area lainnya yang berkeringat.


Lona sebenarnya hanya demam karena terkejut dan syok. Di tambah Marco yang tidak datang kemarin membuat nya tidak bisa tenang. Walaupun ada Alpen dan Daisy yang berusaha menenangkan nya, dia tetap akan tenang jika bersama Marco.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Marco.


Marco pikir akan sulit untuk memasak bagi Lusy, karena harus mengganti handuk kompres Lona. Di tambah diri nya yang sebenarnya demam. Jadi yang bisa di makan paling hanya bubur.


Kalau kalian bertanya di mana Alpen dan Daisy? Mereka sedang di rumah sakit sekarang, Karena Samuel juga ikut demam. sebenarnya Daisy ingin melihat keadaan Lusy dan Lona, khawatir dengan dua anak gadis yang tinggal tanpa orang dewasa itu. Sebelum nya tadi pagi, Daisy sudah membawakan mereka makanan dan obat dari rumah sakit. Namun, lidah mereka pahit untuk sekedar mencicipi makanan itu.


"Belum. Hanya saja Lona sudah makan sedikit bubur tadi. Tapi aku tidak berselera makan. " Jawab Lusy masih dengan suara sengau karena hidungnya tersumbat.


Marco meraba area kening Lusy. Dan dia bisa pastikan Gadis itu sedang demam, namun masih memaksa kan diri.


"Sebaiknya kau juga beristirahat, aku akan menggantikan mu menjaga Lona. Nenek memberikan tanggungjawab pada ku. Jika dia tahu cucunya sakit, aku akan di amuk oleh nya. " ujar Marco berbohong.


"Baiklah... baiklah..." jawab Lusy mengalah.


Lusy menyimpan baskom air itu di lemari kecil tempat lampu tidur. Dan hendak berbaring di samping Lona. Tapi Marco melarang.


"Eeeiiiittssss...Kau mau berbaring di mana?"


"Ya di sini lah.. Memang nya di dapur. ??" jawab Lusy.


"Bukan begitu maksud ku.. Lona kamu sudah mengambil alih kasur mu. Dan kalian sama sama demam. Jika kalian berbaring di kasur yang sama, kapan kalian sembuh nya. ??" Sahut Marco.


Lusy berdecak. Dia malas dan Kepala nya pusing.


"Istirahat saja di kamar nenek. Aku yakin dia tidak keberatan jika kamar nya di gunakan oleh cucunya. " pinta Marco.


Lusy mengalah. Kepalanya benar-benar pusing dan terasa berdenyut. Akibat begadang, dia hanya bisa memejamkan kepala nya beberapa menit saja. Mata nya pun terasa pedas jika harus membuka dengan lebar. Bahkan ia berjalan sempoyongan seperti orang mabuk menuju kamar nenek.


Marco hendak menuju ke dapur. Tapi sebelum nya dia mengganti handuk kompres di kening Lona. Dan membuka sedikit selimut agar tubuh nya tidak terlalu pengap oleh selimut.


Marco menuju dapur. Di meja makan ada tempat bekal yang tidak tertutup rapat. Dia yakin Lusy hanya memakan sedikiiittt saja. Marco membuka tempat bekal itu. Ada bubur, sayur dan daging di bekal itu. Bubur nya tersisa setengah. Lalu Marco memindahkan sisa bubur itu ke dalam mangkuk, kemudian menambahkan beberapa potongan daging dan sedikit sayur.


Setelah itu di bawanya bubur itu ke kamar nenek. Terlihat Lusy sudah tidur namun dia sedikit gelisah. Marco memeriksa suhu tubuh Lusy. Dia yakin suhu tubuh Lusy naik beberapa derajat.


"Lusy... Hei.. sssuuttt... bangun lah.. " ucap Marco dengan lembut.


Di usap nya pucuk kepala Lusy. Dan membangun kan nya.


"Lusy.. Makan lah sedikit.. Setelah itu kau harus minum obat... ayo bangun sweetie.. " ucap Marco.

__ADS_1


Tapi Lusy masih tetap dengan mata nya yang terpejam. Marco tidak menyerah.


"Ayo bangun gadis bar-bar... Kau tidak cocok kalau sakit.. " kali ini Marco menggunakan cara berbeda. Dia yakin Lusy akan tersulut emosi, walau sedikit.. wkwkwk


"Nnnhhh... Haaa---Paahh... kau bil-hang.. ??" Lusy bicara sambil menguap.


"Akan ku tendang kau hingga ke kawah gunung berapi.. " gerutu Lusy.


Ternyata dia bangun untuk menggerutu saja. batin Marco.


"Kau harus makan. Setelah itu minum obat supaya panas mu turun. " ucap Marco.


"Tapi aku malas.. makanan nya tidak enak. Lidah ku tau mana makanan yang enak dan tidak. " tolak Lusy.


Marco tidak percaya masakan Bibi Daisy tidak enak. Dia mencicipi bubur itu sedikit dan wow... enak. Aku rasa lidah nya sedang konslet, jadi error untuk sementara Pikir Marco.


"Makan dulu... " pinta Marco.


"Aku tidak mau!! "


"Bagaimana kau bisa menendang ku hingga kawah gunung berapi jika kau lemah seperti itu. ?" Marco menyulut emosi Lusy.


"Setelah aku sembuh, bahkan aku bisa melempar mu dari ketinggian 1.234 kaki di udara dari sebuah pesawat. " jawab Lusy.


"Aku sudah terbiasa mendengar omelan dari mulut nenek, seperti burung Beo yang bicara berulang-ulang. Dan jika nenek menyalahkan mu, itu adalah penderitaan mu sendiri. Jangan membagi kesusahan mu dengan ku. " jawab Lusy.


Marco heran. Sakit begini saja Lusy masih sanggup menjawab omongan nya. Bagaimana jika dia mendebat Lusy ketika dia sehat ? Mungkin Marco yang akan sakit. Kalo kata orang kampung, Marco SAWAN!!! 😂😂.


"Baiklah tidak ada cara lain. Kau yang memaksa ku. " ujar Marco.


"Sejak kapan aku memaksa mu, kau lah yang mem--"


Glekk....


"Uhhhukk.... uuhuukk... Apa apaan kau!!!! "


"Karena kau tidak mau makan. Jadi aku lakukan itu. " jawab Marco diiringi WaTaDos... alias Wajah Tanpa Dosa.


"Aku kan sudah bilang makanan nya tidak enak.. Lidah ku Pa--"


ucapan Lusy terhenti..


"Apa??!! Apa!! Kau tidak bisa menjawab kan... Lebih baik kau mak---... Aaaaawwwww!!!!!!! Wwawawwawawawawwww!!!! Siapa yang---" Marco menjerit melengking..

__ADS_1


"Kau?? Kenapa kau bangun Lona.. ??Seharusnya kau beristirahat di kamar saja. Apa demam mu sudah turun-" tanya Lusy.


"Aku baik baik saja kak. Berkat kau aku sembuh. Dan demam ku sudah turun. Tapi aku merasa bersalah pada mu.. " ucap Lona, dan masih dengan tangan nya yang menarik rambut Marco.


"Apa?Bersalah karena apa?"


"Kakak ku membully mu... hwuuhwuhwuu... " Lona menangis sesegukan..


Ya Tuhan... Apa yang terjadi pada adik ku..?? batin Marco.


"T-tenang lah Lona.. Sebaiknya kau beristirahat saja. Aku rasa suhu mu masih tinggi. Kembali ke kamar ya.. " Pinta Lusy.


"Huuu.... huuh... huuu... Tapi nanti kak Marco mengambil kesempatan lagi.. Aku melihat nya tadi.. huwaa.... "


"Baiklah baiklah... baiklah.. maafkan aku Lona.. Tapi bisakah kau melepaskan tangan mu dari rambut ku. ?Kepala ku rasanya mau botak!! " ucap Marco memohon.


Lona melepaskan jambakan maut nya dari rambut Marco. Dan mengelap tangan nya di baju Marco.


"Iiyuuuuhh... Rambut mu rontok kak. Aku rasa kau harus mengganti shampoo" ujar nya dengan jijik.


Ya Tuhan.. Rambut indah ku!! Aku rasa tinggal bersama Lusy dalam waktu lama akan membuat adikku menjadi kejam dan tidak berperasaan. Lusy ini menjadi toxic. Dumel Marco.


"Kak Lusy, ayo makan bubur nya. Kau harus minum obat setelah itu. " pinta Lona.


"Tidak mau.. Bubur nya tidak enak. " Lusy masih keukeuh dengan jawaban nya.


"Tapi bibi Dai membuat nya dengan sempurna. Rasanya sangat enak kok?" lona mengernyit.


Dia melihat bubur di tangan Marco. Makan bubur polos saja sudah enak, apa lagi di tambah daging dan sayur.


"Dia tidak akan makan sampai sapi bertelur, jika kau hanya membujuknya seperti bocah begitu. Dia akan makan jika menggunakan cara seperti aku tadi. " sambar Marco.


SRRRIIINNNGGG!!!


Buku kuduk Marco berdiri. Dia tertawa sumbang ketika dua pasang mata cantik itu mendelik ke arah nya. Seakan-akan mengatakan "jangan mencari kesempatan dalam kesempitan!! "


"Ayo lah kak.. Makan lah sedikit saja. Setelah iyu minum obat dan aku tidak akan memaksa mu lagi kak. " Lona memohon.


Lusy akhirnya luluh. Dia memakan bubur itu, namun hanya beberapa suap saja. Karena lidah nya memang merasa pahit dengan makanan apapun kali ini. Kemudian dia meminum obat penurun panas yang di bawakan oleh Bibi Daisy.


"sekarang kak Lusy istirahat saja. Aku juga masih ingin beristirahat. Kepala ku terasa nyut-nyutan. Aku akan membawa orang ca*bul ini untuk berjaga di luar. Jika terus di biar kan.. dia akan melunjak. " Ucap Lona.


Marco merasa tersinggung karena di katai Ca*bul oleh adiknya sendiri. Benar apa yang di pikir kan nya. Lusy menjadi toxic bagi adiknya.....

__ADS_1


__ADS_2