Bukan Supir Taksi Biasa.

Bukan Supir Taksi Biasa.
epsd 32


__ADS_3

"Bos!! Seperti nya Hacker milik Yu berhasil melacak perempuan yang bersama mu!! " Peter melapor dengan keringat. Bukan karena habis olahraga tapi karya takut dengan amukan bos nya.


"Apa kau tidak bekerja selama ini Peter? " Tanya Marco dengan segelas wine merah di tangan nya.


"B..bukan begitu bos.. Seperti nya selain melacak lewat teknologi, mereka menurunkan orang untuk mencari secara langsung. " jawab Peter.


Marco terus diam, menyesap wine yang memberikan sensasi tersendiri di mulut si peminum.


"Cccc... Kau boleh pergi Peter. Dan minta D menemui ku " ujar nya.


"Siap bos... "


Peter melangkah dengan cepat, sebelum kaki jelly nya luruh bersamaan dengan tubuh nya. Dia mencari D di ruangan latihan.


"D.... Bos memanggil mu. Sebaiknya kau cepat temui atau kau akan di makan. Suasana hati nya sedang tidak baik... " Seru Peter.


D yang sedang beradu kekuatan dengan rekan lainnya, langsung mengacir menemui bos nya. Suasana hati yang buruk, dapat memengaruhi power pukulan seseorang.


"D melapor Bos!! " D mendorong pintu begitu saja. Tampilan nya masih lengkap dengan kaos basah akibat keringat.


"Kau kenapa?" tanya Marco.


"Tidak ada bos.Peter bilang anda memanggil ku bos. Ada apa. ?" tanya D.


"Aku perintah kan kau menyuruh anak buah mu untuk mengawasi sesuatu. Dan aku tidak mau kecewa D. Kau paham kan. " Delik Marco.


"Sesuatu apa itu bos?"


"Pergi lah ke Peter nanti. Dia akan memberitahu mu. Sekarang keluar lah karena kau bau. !! " usir nya tanpa moral.


"Baik bos. " Jawab D.


D keluar dan menutup pintu. Begitu pintu tertutup dia langsung mencium aroma ketiak kanan dan kiri nya.


"Hukkmmmff... ternyata aku benar-benar bau.. " gumam nya setelah hampir muntah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Hei Wen Duda kau tau kenapa Bos M menyuruh kita mengawasi rumah ini?" Tanya Eric Xandal.


"Mana aku tau. Sudah lah jangan banyak bertanya. Kalau kita sampai mengecewakan Bos M.. kita bisa mati....!!!! " Tukas Wen Duda.


Mereka berdua seperti bestie selamanya. Meskipun sering bertengkar akan hal yang tak penting dan aneh, tapi mereka adalah patner gang solid.


Eric Xandal kaget saat melihat wanita tua keluar dengan kaca mata hitam dan kursi santai. Duduk berjemur di sinar matahari pagi.


"Yang benar saja Bos M menyuruh untuk mengawasi nenek nenek keriput??!! " Protes nya.


"Kau kira aku tidak kaget?Aku juga. Tapi aku lebih takut kepala ku berpisah dengan tubuh ku. Selain Kepala kita, Kepala Tuan D juga akan terpisah dari tubuh nya. Karena dia di perintah oleh Bos M. " Sahut Wen Duda pasrah.


"Tapi nenek nenek itu—... Hei Wen!! Lihat lah.. seseorang yang ada di sebelah rumah nenek itu. Dia terlihat mengintai sesuatu.. " Eric Xandal kaget.


"Kau benar.. Teropong mana teropong...!!! Cepat lah...!! " Desak Wen Duda.


Ketika mendapatkan teropong, Wen Duda segera memastikan apakah yang mengintai itu orang jahat atau bukan. Di lihat dari pakaian memang aneh, karena cuaca serah begini menggunakan pakaian tebal berwarna hitam plus topi Fedora dan kaca mata hitam.


Tak lama seorang perempuan menyusul nenek itu. Mereka terlihat berbincang....


"Hei!! Ada seorang wanita keluar dari rumah itu!! " seru Eric Xandal.


"Aku tau.. Bahkan dengan teropong ini aku bisa melihat lebih jelas dari pada mata mu yang rabun ayam itu. " balas Wen Duda.

__ADS_1


Wen Duda terlihat memfokuskan teropong itu ke arah wanita yang baru saja keluar dan berbincang dengan nenek.


"Apa!!! Lihat lah.. kau akan kaget saat melihat wanita itu.. Cepat lihat!! " Wen Duda terlihat kaget dan segera memberikan teropong pada Eric Xandal.


"Aaappaaa!!!!!!!??? Itu kan adik Bos M... Bagaimana dia bisa ada di rumah itu???" pekik Eric.


"Heii!! kau berteriak di telinga ku!!! " Wen Duda menggeplak kepala Eric.


Eric tak Terima dan membalas dengan mendorong Wen Duda hingga membentur mobil. Mereka saling dorong mendorong, hingga menyebabkan guncangan heboh di mobil. Memang kaca mobil hitam dan tak terlihat dari luar, namun masih terlihat siluet mereka.


Sementara itu di saat yang bersamaan.....


"Nenek!! Ada apa dengan mobil itu.. Bergoyang heboh sekali??!! " Ujar Lona.


"Mana??.. Nenek tidak melihat nya.. " Nenek melihat dengan kaca mata hitam masih bertengger ria di mata nya.


"Ya Tuhan.. buka dulu kacamata hitam mu nek..!! " Lona menepuk dahi.


"Iya.mobil itu bergoyang heboh.. Apa kau bisa melihat dengan jelas siapa di dalam nya??" tanya nenek.


Lona mempertajam penglihatan nya, namun sia-sia karena silau matahari.


"Ada apa ini.. kenapa kalian melihat kesana?" Tanya Lusy.


"Itu kak.. Mobil dekat pohon sana.. " tunjuk Lona.


"Eii!! Apa mobil nya kerasukan setan? Bergoyang heboh sekali... " Dahi Lusy berlipat-lipat.


"Itu lah... Aku berusaha melihat dengan jelas.. Tapi silau sekali.. "


"Sudah lah.. biarkan saja.. Ayo masuk, waktu nenek berjemur susah habis.. Lona apa kau bisa membantu nenek membawa kursi.. ?" Ucap Lusy.


Lona membawa kursi itu ke dalam rumah, diikuti nenek di belakang nya. Sementara itu, Lusy masih terfokus pada mobil yang masih berguncang.


Semakin dia menyipitkan matanya.. Terlihat siluet orang.


"Apa mereka laki-laki??.. mereka terlihat saling mendorong, Hah.. sekarang saling bertindihan di kursi belakang.. Tunggu sebentar... " Lusy berpikir..


"Dua laki-laki di dalam mobil, lalu saling mendorong dan bertindihan di kursi belakang mobil.. Itu artinya... Benar, pasti itu pasangan Gay!!! Astaga.. Apa mereka tidak sanggup menyewa hotel sampai harus bercinta di mobil pagi hari begini??.. " Tukas nya.


"Hhhiiiihhhh... Menggelikan... " Lusy bergidik geli.


Lalu sambil terus melihat ke arah mobil itu, Lusy berjalan masuk, tapi mobilnya tiba-tiba berhenti bergerak.


"Apa aku ketahuan melihat pasangan Gay bercinta!!?? Sebaiknya aku kabur..!!" Lusy mengacir cepat ke dalam rumah.


Saat yang bersamaan ketika mobil bergoyang-goyang...


"Kau berani sekali menepuk wajah ku yang rupawan ini!!! " amuk Eric Xandal.


"Siapa suruh kau berteriak di dekat telinga ku.. Asrrghh" Wen Duda mendorong Eric.


"Aku tidak berteriak!! Aku kaget.. apa kau Bo*doh tidak bisa membedakan mana kaget dan berteriak!! " Eric mendorong Wen Duda ke kursi belakang dan menekan wajah nya.


"Hhaaaahhhkkkk... singkirkan tangan mu dari wajah indah ku!!! Cepat atau tangan mu akan putus!! " Jerit Wen Duda.


"Hahahahha.. rasakan!! rasakan tangan ku yang sehalus tangan Kuli bangunan ini.. ahahahahahh!!!! " Eric Xandal menggosok gosokan tangannya ke wajah Wen Duda.


Wen Duda membalas dan mendorong Eric hingga terantuk ke roda kemudi mobil.


"Addduuuhhh!!! Sak— ... "

__ADS_1


"Ssshhuuutt.... Diam lah.. Lihat wanita itu!! " Wen Duda menghentikan aktivitas nya.


"Apa?.. Astaga dia melihat ke arah sini.. " Eric Xandal bangkit dengan rambut acak acakan nya.


Dan mobil berhenti bergoyang heboh. Wen Duda dan Eric Xandal melihat Lusy yang fokus pada mobil mereka.


"Apa mobil kita jelek, ??kenapa dia terus melibat ke arah kita?.. " tanya Wen Duda.


"Hei.. Hei.. dia kabur... Tapi.... " Kata kata Eric menggantung.


"Tapi kenapa dia terlihat bergidik jijik ya??" Sambung Wen.


"Entah lah.. Eh.. Tapi, di dalam rumah itu ada 3 perempuan.. Kita sebenarnya di suruh mengawasi apa sih!!?? " Tanya Eric bingung.


"Aku tidak tau.. Kita tanya saja pada Tuan D. " Wen Duda menghubungi D yang kebetulan sedang bersama Bos m mereka yaitu Marco.


Di Markas M.


"Siapa yang menelpon D? " Tanya Marco.


"Ini Wen Duda Bos.."


"Jawablah.. siapa tau penting, aktif kan speaker nya. " suruh nya.


D langsung menjawab telpon. Tak lupa mengaktifkan speaker nya.


"Halo Tuan D.. ini aku Wen Duda. "


"Ada apa Wen?"


"*Eehhmm.. begini Tuan sebenarnya bos M menyuruh kami mengawasi apa, rumah yang kami awasi di tinggali 3 perempuan. Satu nenek-nenek, satu lagi adik nya bos M dan seorang nya lagi....


" Wanita cantik Tuan D*..!!! " Eric merebut ponsel Wen Duda.


"heii... kembalikan ponsel ku!!


D melihat ke arah Marco.


" Katakan saja untuk mengawasi ketiga nya, dan fokus kan pengawasan pada wanita cantik yang Eric bilang. " ujar Marco pelan sehingga tidak di dengar oleh Wen Duda dan Eric Xandal.


"Bos M bilang, kalian awasi ketiga nya. Dan fokus kan pengawasan pada wanita cantik itu. " ucap D sesuai kata Marco.


"Siap Tuan.. Tapi apa tidak ingin menambah personel lagi?? Karena jika kami berdua, mungkin tidak terlalu efektif. " Tanya Eric.


"Bagaimana Bos??" Tanya D.


"Lakukan saja.. turunkan beberapa anggota wanita untuk berbaur bersama mereka. " perintah nya.


"Kalian fokus saja pada tugas kalian. Bos M akan menurunkan beberapa orang untuk membantu kalian disana. Apa masih ada lagi??" tanya D


"Tidak ada Tuan. Kalau begitu.. ---"


Tutt... tuutt.. tuuttt...


Di mobil Wen dan Eric..


"Astaga.. Tuan D senang sekali mematikan ponsel lebih dulu. Rasanya aku ingin sekali melakukan hal yang sama pada nya. Tapi aku masih sayang nyawa ku. " Wen Duda mendramatisir suasana.


"Sudah lah.. memang nasib kita sebagai bawahan nya. Lagi pula, gaji yang di berikan per bulan nya bisa untuk membeli sebuah rumah cash tanpa hutang. " Ujar Eric.


Wen Duda mengangguk. Mereka melanjutkan mengawasi rumah Lusy. Hingga malam tiba.

__ADS_1


__ADS_2