
Ketiga nya terdiam. Sampai Marco memecah suara.
"Lusy, Lona.. Aku ingin kalian ikut dengan ku. Kalian sudah tidak aman lagi tinggal di rumah. " pinta Marco.
"Tapi kenapa kak?! Apa ini ada hubungan nya dengan orang-orang tadi?" tanya Lona.
"Iya.. " jawab Marco seadanya.
"Lona.. Aku ingin kau jangan bertanya dulu.. Berdoa saja nenek bisa di selamat kan " ucap Lusy merangkul bahu Lona.
Marco mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang. Dia sedikit menjauh dari para gadis itu.
"Halo D. "
"Bos... Apa ada sesuatu yang terjadi?" D bertanya seolah ia sudah memprediksi ada masalah.
"Iya.. Nenek Lusy di culik dan skull ada kaitan nya.. Aku ingin kau menjemput Adikku dan Lusy di rumah sakit sekarang. " Titah Marco.
"Baik Bos... Aku akan ke sana" jawab D.
"Tunggu lah sebentar, akan ada yang menjemput kalian. " ujar Marco sesudah menutup telfon nya.
Lona dan Lusy hanya mengangguk paham. Ketiga menuju halaman rumah sakit, mencari tempat duduk untuk mengistirahatkan kaki sebentar. Dan tidak lama sebuah mobil hitam datang.
"Bos.. " Ucap D.
"Bawa mereka ke villa ku D.. Pastikan mereka aman di sana. Tambahkan anak buah mu di 2X lipat. Skull sudah mencapai batas nya.. " ujar Marco pelan.
"Siap bos. " jawab D.
"Lona... Aku ingin kau ikut dengan Dom. Kau juga Lusy. " Pinta Marco.
"Tapi... Kak Marco bagaimana dengan nenek??"
"Aku akan mengurus itu. "
"Ya sudah.. Tolong selamatkan nenek ya kak.. " jawab Lona pasrah.
Marco merangkul bahu adiknya dari samping, berjalan menuju mobil.
__ADS_1
"Tenang saja.. Nenek anna adalah keluarga kita, dan aku akan menyelamatkan nya apapun yang terjadi. " bisik Marco di telinganya Lona.
Blappp
Pintu mobil tertutup. Namun Marco tidak melihat Lusy di dalam.
Puukkk...
"Kau tidak mau mengajak ku?" tanya Lusy yang dari tadi menyimak kemesraan adik kakak itu.
"Masuklah lebih dulu. Aku akan ikut bersama kalian. " Ucap Marco.
Lusy berdecak. Dia lantas membuka pintu mobil dengan paksa dan menutup nya kuat hingga mengejutkan D.
Astaga bos... Perempuan ini galak sekali...
D langsung menginjak pedal gas dan menuju markas
"Maaf " Marco menghela napas. Dan meraih kedua bahu Lusy.
"Tapi aku tidak bisa mengambil resiko dengan membawa orang yang ku sayangi ke dalam bahaya. Aku tidak mau kau terluka nanti. Karena menyelamatkan nenek Anna akan sangat berbahaya.. " tutur Marco.
"Tapi ini beda.!! Kali ini lebih berbahaya. Penculikan mu waktu itu hanya sedikit dari apa yang terjadi saat ini.. Ku mohon Lusy tetap lah bersama Lona.. Kalian akan tinggal di villa milikku Di sana aman. Banyak penjaga yang akan menjaga kalian.. Jangan ikut masuk dalam bahaya bersama ku!! Please!! "
"Tidak!!! Yang akan kau selamatkan adalah nenek ku. Hanya dia keluarga yang ku punya... Jangan melarang ku. Biarkan aku ikut!! " kekeuh Lusy yang keras kepala.
"Tapi Lusy kau tidak bisa menembak!!. Bukan maksud ku meremehkan mu.. tapi kau akan menjadi beban ku disana nanti.. Bawahan ku akan sulit bergerak.. " sanggah Marco.
Lusy diam. Memang dia sadari hal itu. Jika ikut ia akan jadi beban untuk Marco dan yang lainnya. Tapi... dia tidak bisa diam saja dan bersantai.
"Jadi harus bagaimana??" Lusy bertanya dengan murung.
"Ikuti kata-kata ku.. Ikut lah dengan Lona ke villa ku.. Kau akan aman di sana." Ucap Marco.
"Tapi.. nenek... "
"Aku dan yang lainnya akan menyelamatkan nenek.. Kau dan Lona, doakan aku.. Semoga aku bisa membawa nenek tanpa sedikit pun tergores. " Lusy melihat kesungguhan di mata nya..
"Baiklah.. aku mengandalkan mu.. Bawa nenek pulang. "
__ADS_1
"Terima kasih sudah mempercayai ku. Aku akan segera kembali " sahut Marco.
Ditambah sebuah kecupan ringan di kening Lusy.
"Masuklah ke mobil.. D akan menjaga kalian. "
"Baik.. "
Lusy menyusul Lona yang sudah lebih dulu duduk manis di sana.
"Akhirnya kau masuk juga kak. Apa yang kalian berdua bicarakan?" tanya Lona.
"Tidak ada.. Hanya sebuah ancaman kecil saja.. " jawab Lusy.
"Hemm?? ancaman atau ancaman... " goda Lona.
"Baiklah gadis gadis.. kita berangkat sekarang. Pasang sabuk pengaman kalian. Karena aku akan mengebut. " D memecah percakapan keduanya.
"Baik."
Dan benar saja.. Setelah mereka siap. D langsung membawa mobil nya dengan kecepatan tinggi.
Ya Tuhan... aku rasa aku akan mati!!!! Lusy ingin mengutuk D yang keterlaluan mengemudikan mobil.
D menyalip pengendara lain dengan handal meskipun mendatangkan kengerian untuk pengguna jalan lain. Hingga mereka sudah keluar dari kota. D memperlambat laju mobil nya.
"Jika kalian mual, di depan kalian ada kantong untuk muntah. " ucap nya singkat, seolah sudah tau kedua gadis ini akan muntah.
Lona dengan tergesa-gesa mengambil satu kantong hingga membuat kantong lainnya bertaburan.
Hhuuwekkk... uwekk... week!!!
"Hhhhahh... Hhmmbb" Lusy yang melihat Lona muntah juga ikut mual.
"Huukkbbb.. Huwekk... wekkk... "
"Jika ingin minum ada air mineral di samping kiri-kanan kalian. "
D yang hebat. Bisa meramal bahwa kedua nya ingin minum setelah memuntahkan isi perut mereka. Sebenarnya bukan meramal.. Tapi sudah tau. Dengan melihat wajah pucat Lusy dan Lona, sudah bisa di pastikan.
__ADS_1