Bukan Supir Taksi Biasa.

Bukan Supir Taksi Biasa.
epsd 58


__ADS_3

Besok pagi nya mereka sudah boleh melihat nenek Anna. Mereka memutuskan untuk menjaganya secara bergantian. Marco pula menempatkan beberapa anak buah nya untuk menjaga di sekitar. Tidak mau hal yang sama terjadi lagi pada nenek Anna.


Kecurigaan Lona semakin menjadi. Ruang rawat nenek Anna adalah VIP nomor 1. Fasilitas didalamnya mirip seperti di hotel. Kecurigaan nya muncul ketika sang kakak memasukkan nenek Anna ke rumah sakit yang lumayan besar. Rumah sakit di pusat kota. Ditambah sang kakak yang mendapatkan donor ginjal dan ruang rawat yang sangat menguras dompet.


Bagi mereka yang dikatakan hidup berdua saja dengan pekerjaan Marco sebagai supir taksi, mustahil untuk bisa membayar perawatan VIP. Lusy sendiri terlihat biasa saja dengan perlakuan Marco. Seolah-olah ini hal yang wajar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kak apa kita tidak memberitahu bibi Daysi dan Paman Alpen?" tanya Lona.


"Jangan.!!Mereka cukup tau saja jika nenek sakit. Kalau mereka tau nenek menjalani operasi transplantasi ginjal, pasti mereka akan membantu kita membayar biaya. " cegah Marco.


"Tapi... mereka keluarga nenek Anna dan kak Lusy. Kita yang hanya pendatang. " sahut Lona.


"Lona, semakin sedikit yang terlibat makan semakin baik. " ucapan Marco membuat Lona bertanya-tanya.


"Maksudnya apa? "

__ADS_1


"Kakak rasa ini saat yang tepat untuk memberitahu mu. Jangan sampai kau tau ini dari orang selain kakak. "


Lona semakin penasaran Rahasia besar apa yang kakak nya simpan?


"Orang-orang yang menculik nenek Anna, adalah musuh kakak di dunia gelap. Mereka berniat menghancurkan kakak lewat orang-orang yang dekat dengan kakak. Termasuk Lusy dan nenek Anna yang menjadikan kita keluarga mereka. "


"... ?" Lona terdiam., tapi Marco bisa tau raut wajah adik nya yang shok.


"Pekerjaan kakak selama ini adalah Mafia. Supir taksi hanya kedok untuk menyembunyikan pekerjaan asli. " jelas Marco lagi.


"Tapi... kapan?!!...kenapa?!.. Mafia itu berbahaya!! " Kata Lona.


"Ssttt... tenanglah, jangan sampai nenek terbangun. Sejak kita keluar dari panti asuhan. Kakak ingin membalas laki-laki biadap itu. Dia merusak hidup bahagia kita!! dan membuang kita ke panti asuhan. " mata Marco menyiratkan dendam yang mendalam.


"Bagaimana mungkin?" Tangan Lona bergetar.


...----------------...

__ADS_1


Mengingat wisata masa lalu yang tidak menyenangkan. Dimana keluar mereka retak, tewas nya ibu mereka ditangan laki-laki tidak bertanggungjawab hingga mereka yang harus tinggal di panti asuhan kecil. Hingga mereka beranjak remaja, Marco mengajak nya untuk keluar dari panti kecil itu. Marco menemukan pekerjaan dan putus sekolah, tapi tidak dengan Lona. Marco melakukan pekerjaan apapun agar adiknya bisa sekolah. Mengumpulkan barang bekas, menjadi pengantar koran, menjadi tukang bersih-bersih di rumah sakit, hingga menjadi seorang pencopet kecil. Kehidupan jalanan membuatnya menjadi keras.


Hidup Serba kekurangan, membuat Marco tidak memilih dalam pekerjaan. Beruntung seorang lansia yang ditinggalkan keluarga nya mau menampung mereka. Hingga lansia itu meninggal dunia. Dua saudara itu hidup mandiri tanpa orang dewasa. Naas pernah menghampiri mereka ketika Marco salah memilih korban pencurian nya. Mencopet laki-laki yang ternyata seorang Mafia. Dia sempat disiksa karena dianggap mata-mata musuh. Namun Mafia tersebut malah menjadikan Marco anak buah nya.


Hidup kedua nya mulai membaik perlahan-lahan. Marco bisa bersekolah walaupun sempat putus dan sang adik berhasil melanjutkan pendidikan nya. Marco merahasiakan semua nya dengan baik dari sang adik. Berkata bahwa ini adalah balasan dari dari sikap baik dan kesabaran mereka.


Hingga sang Mafia itu tutup usia, dia mengangkat Marco untuk menjadi penerus nya dan menghancurkan musuh bebuyutan nya. Dunia memang kecil, musuh Mafia tersebut adalah ayah nya sendiri. Dan pastinya Marco tidak akan menolak perintah dari Mafia yang sudah merubah hidupnya.


...----------------...


"Kakak harap adik kecil kakak tidak marah dan kecewa pada kakak. Semua kakak lakukan untuk kita berdua. Maaf sudah membohongi Lona. " ucap Marco akhirnya.


Lona beranjak keluar, tanpa menjawab Marco. Menoleh pun tidak. Lusy yang sengaja duduk diluar tidak terkejut dengan reaksi Lona. Bahkan dia sendiri sempat kaget mengetahui rahasia Marco. Tapi itu semua bukan ranah nya untuk menyalahkan atau menghakimi.


"Kau sudah melakukan yang terbaik. Dia akan mengerti. " tutur Lusy sambil memberikan pelukan penyemangat untuk Marco yang murung.


"Aku harap begitu."

__ADS_1


__ADS_2