Bukan Supir Taksi Biasa.

Bukan Supir Taksi Biasa.
epsd 25


__ADS_3

"Lusyyy!!! Ya Tuhan... syukur lah cucu ku masih hidup..!! huhuhu.. kau mau mendahului ku mati atau apa hah??!! " Nenek yang baru saja datang bersama Lona menangis kejer.


"Astaga nenek!! Bisa bisa pasien di kamar sebelah akan kejang kejang mendengar suara melengking 20 oktaf mu nek." keluh Lusy.


"Bagaimana keadaan mu nak?. Apa yang terjadi pada mu!! apa kau secantik itu sampai-sampai harus di culik.. Kalau aku bertemu dengan penculik mu, akan aku kutuk dia !! " amuk nenek tanpa menghiraukan protesan dari Lusy.


"Aku baik nek. Syukurlah Marco menolong ku, kalau tidak aku pasti mendahului mu. " Lusy masih saja menggoda di ujung kalimat nya.


Phhhakk


"Jangan coba coba untuk mati sebelum kau memberi ku 10 cicit " mata nenek menjeling sinis.


"Cckkk... " Lusy menggeleng mendengar permintaan gila nenek nya. Memang nya dia induk ayam atau apa, sampai memiliki 11 anak.


Netra Lusy tak sengaja menangkap Lona yang berdiri canggung dan senyum paksa, namun tersirat rasa tidak enak.


"Kau mau menjadi patung di sana seharian, Lona?" Tanya Lusy.


"E-ehhhehe... Tidak kak. " Jawab Lona.


Lona mendekat, "Apa masih ada yang sakit di tubuh mu kak?? " tanya Lona.


"Ya.. Karna kau bertanya, aku sih memang kesakitan. Wajah ku yang perfeksionis kece badai ulala ini sampai di perban kanan kiri. Dan kedua tangan ku juga.. " keluh Lusy.


Lona menunduk, perasaan bersalah semakin mendera nya, dan Samar samar terdengar ia akan kecil.


"Huhuuu... Maaf kak... kalau saja aku memaksa ikut! Kakak tidak akan di culik. Harus nya aku saja yang membagikan brosur itu!!!! " Pekik Lona.


"Kenapa ini!!? " suara tegas Marco mengejutkan mereka.


Lusy menaikan sebelah alisnya pada Marco dan menunjuk Lona dengan dagu nya. Mengatakan seolah 'Adik mu menangis karna ku'


Marco yang membawa beberapa paper bag, segera menyimpan nya di sofa untuk tamu. Dan segera menenangkan adik nya.


"Sssuuhhtt.... Sudah lah.. kau tidak perlu sedih. Kau lihat sendiri kan, Lusy masih segar bugar sehat jiwa dan raga. Musibah nya sudah selesai. Jadi tidak ada yang perlu di tangisi. " Kata Marco.


"Hhuuwaaaaa!!!!! Tapi wajah kak Lusy dan tangan nya menjadi rusak kak!!! Bagaimana jika dia jelek dan tidak ada seorang pria yang mau menikahi nya!!! "


Makkk JLLEBBB!!!! 🔪🔪

__ADS_1


Ulu hati Lusy seakan terhunus pisau ketika Lona mengatakan dia akan jelek.


Astaga!!! gadis labil ini sebenarnya khawatir tidak sih pada ku. Perkataan nya seperti sedang mengisyaratkan aku akan menjadi buruk rupa, seburuk panci yang gosong karena nenek meninggalkan nya untuk karaoke. Lusy mendelik ke arah Lona yang menurut nya terlalu jujur.


"Tidak!! itu tidak akan terjadi.... Pasti akan ada pria yang mau menikahi nya. Kau tenang saja.... " ujar Marco menahan ketawa hingga ingin kentut.


"Hiks.. hiks.... " Lona masih sesegukan, dan menjauh dari pelukan kakak nya.


"Kak Lusy, aku janji aku akan merawat mu sampai luka - luka mu sembuh.. Kau tidak perlu membayar ku!! aku suka rela menawarkan jasa ku!!! " Lona menggenggam tangan Lusy dengan mata berapi-api.


Lusy terkekeh "Aku menerima tawaran jasa mu. Tapi apa kakak mu akan mengizinkan mu merawat ku? " Lusy mengelus pipi Lona.


"Aku terserah dia saja. Asalkan tidak membuat kegiatan di rumah orang, it's ok" jawab Marco.


"Lusy, apa kau sudah makan? Nenek membuat kan mu bubur dan dan beberapa lauk. Nenek yakin kau tidak akan mau makan makanan hambar dan tawar dari rumah sakit. " Nenek sudah menyusun berbagai lauk di meja.


"Akhirnya malaikat penolong perut ku sudah bergerak. Terima kasih Tuhan. Nenek kemarikan semua makanan itu. Aku lapar.!!! " pinta Lusy dengan antusias.


"Eeeiuttsss... Aku akan menyuapi mu.. Tangan mu masih luka!! " Marco melarang Lusy makan sendiri.


"Whatttt... Hei kau lupa ya, semalam kan aku makan roti sendiri. Tidak perlu kau suapin. " Protes nya.


Plesbek tadi pagi....


"Permisi Nona Lusy, saya mengantarkan sarapan. " Seorang perawat membawa brangkar makanan.


"Ah, ya Terima kasih. " Jawab Lusy ramah.


"Selamat menikmati, semoga cepat sembuh ya Nona. Permisi" Perawat yang baik.


Begitu pikiran Lusy, Lusy meraih mangkuk bubur putih itu. Dia berniat memakan bubur itu sendiri. Tapi seperti ia akan kesulitan. Tangan nya yang luka, malah terasa sakit.


"Astaga!! aku seperti nenek nenek yang tidak bisa memegang barang apa pun. Memegang mangkuk saja sudah gemetaran." Gumam Lusy.


"Iyaackkhh... sangat hambar tawar dan dingin.. Apa rumah sakit ini tidak punya kompor, kenapa bubur nya dingin sekali!!" protes nya.


"Marc bisa kau me-- Aihh aku lupa, dia bilang ingin memanaskan mobil. " Lusy berdecak.


Lusy hendak menyimpan kembali mangkuk bubur itu ke nakas, namun tangan nya makin terasa nyeri dan sakit dan..

__ADS_1


Pppraangggkk....


"Apa yang ter-astaga Lusy!! "


Jatuh nya mangkuk bubur, bersamaan dengan datang nya Marco. Lusy awal nya memasang wajah terkejut dan cengengesan ketika Marco masuk.


"Sorry, tadi nya aku ingin memakan bubur itu, tapi karena bubur nya tidak enak aku ingin menyimpan kembali ke nakas tapi tangan ku kembali kesakitan karena memegang mangkuk bubur itu dan Mangkuk jatuh, pecah Seribuuu~~~" Lusy mengoceh cepat dan bernyanyi di ujung kalimat nya.


"Tangan mu sakit?!! Apa ada lagi yang sakit??! " Marco terlihat cemas.


"Tidak ada sih. Mungkin tangan ku belum bisa memegang atau menggenggam sesuatu yang berbobot. " jawab Lusy santai.


Marco membereskan tumpahan bubur dan pecahan Mangkuk itu.


Plesbek selesaiii....


"Biar aku saja nek yang menyuapi Lusy. " Marco hendak meraih mangkuk bubur yang terlihat lewat di mata Lusy.


''Tapi Marco. Kau kan juga harus makan. Kau sudah sangat berjasa, kau menolong Lusy , membawanya ke rumah sakit dan mau juga yang menjaga nya semalaman. " Ungkap nenek.


"Tak apa nek. Aku belum lapar. " Ujar Marco tersenyum.


Nenek hanya pasrah. Biar saja, mungkin ini usahanya untuk mengambil hati Lusy. Begitu pikir lansia tua itu.


"Aaaa..... " Belum apa apa Lusy membuka mulut dengan lebar.


"Sabar lah, bubur nya masih berasap. Kalau kau langsung memakan nya, lidah mu akan terbakar. " Marco mengaduk aduk bubur tersebut.


Dia mengambil sesendok dan mencicip sedikit dengan mulut nya untuk memastikan bubur itu tidak panas lagi.


"Aaaa... Bubur nya sudah tidak panas. "


Dan.. Haaappp... Lusy menyambar sendok itu.


"Mereka sangat cocok ya Nek... Seperti pasangan suami istri saja. " Ujar Lona.


"Iya... nenek pikir juga begitu " Jawab nenek setuju.


Lusy menghabiskan bubur itu dalam sekejap. Setelah Lusy selesai, Marco pun langsung memakan sarapan nya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2